Di padang pasir Arab, ribuan tahun lalu, masyarakat hidup dalam kondisi alam yang keras. Siang panas menyengat, malam dingin menggigit. Ketersediaan makanan tidak selalu pasti. Dalam lingkungan seperti itu, tubuh manusia sudah terbiasa dilatih kekurangan.
Namun, ketika Islam lahir pada abad ke-7, puasa Ramadan tidak sekadar meniru kondisi alam. Menahan lapar dijadikan sistem yang teratur, berbasis waktu, dan memiliki makna spiritual.
Pada hakekatnya, puasa sudah ada jauh sebelum peradaban Islam dimulai. Dalam Kekristenan ada masa Prapaskah, di Yudaisme ada Yom Kippur, dan di tradisi Buddha ada hari-hari Uposatha. Seolah-olah peradaban manusia sepakat pada satu hal, tubuh perlu dikosongkan sebentar, agar kebutuhan jiwa terdengar.
Kembali kepada Bulan Ramadan, puasa dalam Islam ditetapkan setelah komunitas muslim hijrah dari Mekah ke Madinah. Hijrah bukan hanya perpindahan geografis, tetapi juga perpindahan sosial. Dari kelompok yang tertekan menjadi komunitas yang mulai membangun struktur masyarakat baru.
Dalam fase itu, puasa hadir sebagai disiplin kolektif, mengajarkan bahwa kebebasan bukan berarti memuaskan semua keinginan. Justru sebaliknya, kebebasan tertinggi adalah kemampuan menahan diri.
Sesuai dengan tempat lahirnya, kalender puasa yang dipakai adalah penanggalan lunar murni. Setiap tahun, Bulan Ramadan maju sekitar sepuluh atau sebelas hari dibanding kalender Masehi.
Di tanah Arab, pergeseran itu tidak terlalu ekstrem. Namun, ketika Islam menyebar ke Persia, Afrika Utara, Asia Tenggara, hingga Eropa, pengalaman puasa berubah drastis.
Seseorang berpuasa di Mekah dengan panjang siang yang relatif stabil. Lalu bayangkan seseorang berpuasa di Paris pada Bulan Juni, ketika matahari baru terbenam mendekati pukul sepuluh malam. Tubuh yang sama. Ritual yang sama. Tetapi kondisi alamnya sangat berbeda.
Justru di situlah menariknya. Ritual yang lahir di gurun ini tetap bertahan di kota-kota modern, di negara-negara bersalju, bahkan di wilayah lingkar Arktik.
Di beberapa tempat ekstrem, para ulama bahkan harus membuat penyesuaian waktu agar praktik itu tetap manusiawi. Puasa bergerak mengikuti manusia. Dan manusia bergerak membawa keyakinannya. Di kota-kota Eropa pada musim dingin, seseorang mungkin berbuka dengan sup hangat, sementara di Asia Tenggara orang berbuka dengan es kolak dan teh manis.
Secara biologis, lapar membuat kita sadar pada tubuh. Ketika kadar gula darah turun, emosi menjadi lebih sensitif. Ketika tenggorokan kering, kesabaran diuji. Di sanalah, latihan itu bekerja. Puasa bukan hanya menahan makan dan minum, tetapi menahan reaksi.
Di mana bumi diinjak, di situ langit dijunjung. Tradisi berbuka dengan sesuatu yang manis bukan kebetulan. Tuhan Mahabesar.
Di Arab, tanahnya yang gersang justru menumbuhsuburkan kurma. Buah manis ini menjadi sumber gula alami yang cepat mengembalikan energi. Secara medis, mengonsumsi kurma masuk akal. Secara simbolik pun kuat, rasa manis akan kembali pada kehidupan, setelah kita berhasil menahan diri.
Pada Bulan Ramadan, ada satu malam sunyi yang disebut Lailatul Qadar, malam yang diyakini lebih baik dari seribu bulan. Secara historis, ia merujuk pada peristiwa turunnya wahyu pertama.
Di luar itu, secara psikologis, manusia memang selalu membutuhkan satu malam istimewa. Malam ketika doa terasa lebih khusuk, ketika langit seolah terbuka, membasuh segala dosa, melimpahkan curahan rahmat.
Puasa, jika dilihat dari sudut sejarah sosial, telah menciptakan kesetaraan sesaat. Orang kaya dan miskin sama-sama lapar. Orang kuat dan lemah sama-sama menunggu azan magrib. Menanti waktu berbuka, dan semua duduk sejajar.
Tentu saja, puasa ada kaidahnya. Bukan sekadar menyiksa diri. Ritual ini tidak diwajibkan bagi orang tidak mampu, sakit, musafir, atau mereka yang secara fisik tidak sanggup. Puasa bukan sekadar ritual agama. Ia memberi jeda dan menjadi salah satu penemuan sosial paling tua dalam sejarah manusia.
Dan setelah mengetahui sedikit sejarahnya, tiba saatnya saya mengucapkan: Selamat Berpuasa untuk para pembaca muslim di seluruh dunia!