Ketika kata yang tersedia terasa kurang cukup, manusia mulai menggunakan perbandingan. Selain memberi nama pada benda, sejak awal peradaban, manusia juga berusaha menjelaskan perasaan, pengalaman, dan kejadian yang tidak selalu bisa dilihat secara kasatmata. Dari proses itulah majas lahir sebagai alat berpikir.
bahasa
Kabar Burung dan Rahasia Arah di Langit
Kita sering mendengar ungkapan “kabar burung”. Kabar yang cepat sekali beredar, belum tentu benar, meskipun kadang, mengandung kenyataan. Namun semakin dipikirkan, ungkapan itu sebenarnya menimbulkan pertanyaan menarik. Burung yang mana?
Ungkapan: Magnet Kata Pelita Rasa
Secara harfiah, bahasa mengandung khasanah kiasan yang luas dalam menyampaikan makna. Komposisi kata-kata itu sering melenceng dari arti sebenarnya. Ungkapan seperti “naik daun”, “gulung tikar”, “gaji buta”, “cuci mata”, “adu mulut”, “tangan emas”, bisa diucapkan siapa pun, tanpa harus memahami ilmu filsafat.
Pepatah: Pengetahuan Kecil yang Menyimpan Umur Panjang Manusia
Seorang anak bertanya kepada ibunya mengapa ia harus menabung. Sang ibu tidak menjelaskan panjang. Ia hanya berkata, “Hemat pangkal kaya, Nak!” Empat kata sederhana, tetapi di dalamnya tersimpan pengalaman hidup bertahun-tahun.
Singkatan: Kenapa Bahasa Jadi Pendek?
Manusia tidak selalu hidup dalam kata-kata panjang. Ketika menulis menjadi kebutuhan, mereka sudah belajar memendekkan bahasa. Apakah mereka malas? Tunggu dulu. Secara logis, keadaanlah yang memaksa.