Aku sudah berkali-kali melewati Place de la République di Arles. Di jantung kota itu, berdiri sebuah tugu tinggi yang rasanya sulit untuk tidak dilihat: Obélisque d’Arles.
Sycophant: Apa Hubungan Buah Ara dengan Penjilat?
Berasal dari bahasa Yunani Kuno, kata “sycophant” yang berarti “menunjukkan buah ara” ini di Athena Kuno awalnya merujuk pada penuduh hukum oportunis. Setelah masuk ke bahasa Inggris pada abad ke-16, maknanya bergeser dari penuduh tidak terpuji menjadi sebutan bagi penjilat yang gemar mencari muka demi kepentingan pribadi.
Aku tadinya cuma ingin membicarakan buah ara. Di Prancis Selatan, pohon ara bukan sesuatu yang terlalu istimewa. Pohonnya gampang ditemukan, buahnya juga bukan barang asing.
Kenapa Orang Dulu Menulis Tahun di Rumah Mereka?
Angka tahun di rumah atau bangunan tua di Eropa menandai momen penting seperti pembangunan, renovasi, atau perluasan. Berfungsi sebagai rekaman publik, penentuan usia bangunan secara akurat tetap memerlukan dokumen arsip dan analisis gaya arsitektur.
Aku sudah 23 tahun tinggal di Prancis. Sampai pemandangan rumah tua menjadi sesuatu yang biasa. Di kota seperti Arles, mau jalan ke mana pun, rasanya gampang sekali bertemu bangunan yang umurnya jauh lebih tua daripada kita.
Mengapa Sebuah Paraf Bisa Mewakili Diri Kita?
Paraf dan tanda tangan berfungsi membuktikan persetujuan dan identitas seseorang. Berkembang dari segel abad pertengahan hingga dokumen elektronik, keabsahannya tidak ditentukan oleh keterbacaannya, melainkan kebiasaan gerakan dan pengakuan bersama yang mengikat dokumen secara sah dengan pelakunya.
Beberapa waktu lalu, aku menerima kiriman surat tercatat dari pos. Seperti biasa, petugas menyodorkan alat elektronik kecil dan memintaku membubuhkan tanda penerimaan berupa paraf.
Potongan Cawan Manie di Pompeii
Penemuan Cawan Manie di Pompeii memperlihatkan jejak awal manusia menandai kepemilikan benda, praktik yang berlangsung sejak era Mesopotamia. Berbeda dengan ucapan lisan, tulisan mampu mengabadikan identitas seseorang dan menyampaikan pesannya dari peradaban kuno hingga era digital.
Lebih dari 2.500 tahun lalu, seseorang menuliskan namanya pada sebuah cawan. Kita kemudian menamankannya Cawan Manie. Kita tidak tahu seperti apa wajah orang itu, bagaimana kehidupannya, atau apakah ia pernah membayangkan bahwa tulisannya akan dibaca kembali ribuan tahun kemudian. Yang sampai kepada kita hari ini bahkan bukan cawannya yang utuh.
Odyssey: Mengapa Masih Dibaca Setelah Hampir 3.000 Tahun?
Setiap zaman memiliki tantangannya sendiri. Jika dulu orang belajar berlayar menembus lautan yang belum dipetakan. Tersesat di Timur dan di Barat karena masalah lintang. Hari ini, kita bisa menyeberangi benua, bahkan dalam hitungan jam. Sebuah kabar tidak lagi butuh perjalanan berbulan-bulan. Cukup membuka ponsel, pesan bisa sampai dalam satu pencetan.