Kita sering mendengar ungkapan kabar burung. Kabar yang cepat sekali beredar, belum tentu benar, tetapi mungkin ada benarnya juga. Namun, semakin dipikirkan, kalimat itu sebenarnya menimbulkan pertanyaan yang menarik. Burung yang mana?
Es Puter: Ketika Santan Mengubah Es Krim Menjadi Warisan Kuliner Nusantara
Di Eropa, musim semi sering datang bersama etalase penuh mesin pembuat es krim berwarna-warni. Begitu matahari mulai terasa hangat, poster gelato dan glace pun bermunculan di mana-mana. Anehnya, di tengah semua inovasi itu, ingatanku justru melayang jauh ke Indonesia.
Kadmium: Tanah yang Seharusnya Memberi Nutrisi, Mengapa Bisa Meracuni Kita?
Sejak dulu, kita tumbuh dengan satu keyakinan, bahwa tanah adalah sumber kehidupan. Bukan sekadar tempat berpijak, dari sanalah padi menguning, sayuran tumbuh, dan segala yang masuk ke tubuh kita bermula.
Candi: Susunan Batu yang Menjadi Buku Ingatan
Benda melahirkan kenangan. Dan kenangan membuat kita takjub. Setidaknya itulah yang aku rasakan setiap kali berdiri di depan bangunan batu.
Ungkapan: Magnet Kata Pelita Rasa
Secara harfiah, bahasa mengandung khasanah kiasan yang luas dalam menyampaikan makna. Komposisi kata-kata itu sering melenceng dari arti sebenarnya. Ungkapan seperti “naik daun”, “gulung tikar”, “gaji buta”, “cuci mata”, “adu mulut”, “tangan emas”, bisa diucapkan siapa pun, tanpa harus memahami ilmu filsafat.
Status: Sebuah Kata yang Menentukan Besar-Kecilnya Ruang Hidup Seseorang
Jomlo? Janda? Duda? Cerai? Tapi tunggu dulu, cerai hidup atau mati? Begitulah status. Hanya terdiri dari enam huruf. Sering diucapkan, tetapi pernahkah kita berpikir mengapa dan dari mana status menjadi penting?