Cinta: Mengapa Perasaan Tertua Ini Tak Pernah Usang

Cinta sudah hadir sejak awal manusia. Kisah Adam dan Hawa mengingatkan bahwa perasaan ini tidak lahir dari taman yang damai semata, melainkan dari pilihan, risiko, dan bahkan konflik dengan Tuhan.

Taman Eden, simbol kebebasan dan harmoni, sekaligus menjadi tempat pertama di mana cinta diuji: apakah harus mengikuti, melindungi, atau berbagi konsekuensi bersama.

Dari awal peradaban, manusia sudah sadar bahwa mengurai cinta tidak pernah sederhana. Dalam budaya Yunani kuno, satu rasa ini memiliki banyak wajah. Eros menggambarkan gairah, Philia persahabatan, Agape kasih tanpa syarat, dan Storge kasih keluarga.

Dalam bahasa Sansekerta terdapat kata “prema”, kasih yang tulus dan mendalam. Sementara dalam bahasa Latin, “amor” menjadi akar bagi banyak kata yang menggambarkan hasrat manusia, baik yang mulia maupun yang berlebihan.

Memang, sejak dahulu manusia sudah romantis dalam urusan hati. Di Mesir Kuno, puisi cinta berusia lebih dari tiga ribu tahun ditemukan tertulis di atas papirus. Kalimat itu terasa akrab bahkan bagi pembaca modern. Salah satu baitnya kira-kira berbunyi:

“Suaranya manis seperti anggur muda, dan ketika ia berjalan, bumi pun ingin mengikutinya.”

Nama “Valentine” sendiri berasal dari Santo Valentinus, seorang imam di Roma abad ke-3 yang konon menikahkan pasangan secara diam-diam saat Kaisar Claudius II melarang prajurit menikah. Sang Kaisar percaya bahwa prajurit yang jatuh cinta akan kehilangan fokus berperang.

Ironisnya, karena dianggap berbahaya, cinta justru menjadi simbol perlawanan. Dari peristiwa itu, tanggal 14 Februari berkembang menjadi perayaan kasih sayang. Lucu rasanya membayangkan sesuatu yang dulu dianggap ancaman militer kini menjadi bahasa pemasaran paling ampuh bagi industri bunga dan cokelat.

Sepanjang sejarah, cinta kerap berjalan berdampingan dengan tragedi dan ambisi. Kisah Cleopatra dan Marcus Antonius berakhir dengan bunuh diri. Romeo dan Juliet menjadi lambang cinta tragis. Dalam sejarah Nusantara, hubungan Ken Dedes dan Tunggul Ametung pun diwarnai perebutan kekuasaan.

Dari kisah-kisah ini tampak satu pola yang berulang: cinta melibatkan dua kehendak, dua ego, dan dua sejarah hidup. Karena itu ia jarang berjalan lurus. Pertumbuhannya sering menyakitkan, meskipun pepatah lama mengingatkan bahwa cinta sejati adalah memberi, bukan memiliki.

Ilmuwan modern mencoba mengukur cinta melalui hormon dopamin dan oksitosin, bahkan merumuskannya dalam model matematika. Ada teori yang menyarankan seseorang sebaiknya mengenal sekitar 37% pilihan yang tersedia sebelum memutuskan berpasangan.

Namun, cinta bukan algoritma. Justru karena tak sepenuhnya bisa dihitung, ia tetap memikat. Dalam banyak budaya Timur, cinta tidak selalu diucapkan dengan kata-kata, melainkan diwujudkan melalui tindakan kecil seperti menyediakan makanan, menyiapkan air hangat, atau sekadar duduk bersama dalam diam.

Cinta di usia tujuh belas tentu berbeda dengan di usia lima puluh tujuh. Di Jepang dikenal konsep amae, rasa nyaman yang lahir dari ketergantungan emosional yang saling diterima.

Seiring waktu, cinta sering berubah bentuk menjadi persahabatan, kesetiaan, pengorbanan, atau kadang cukup menjadi kenangan. Tidak selalu harus diumbar. Yang paling sunyi sering kali justru yang paling dalam.

Di zaman digital, cinta menemukan wajah baru melalui aplikasi yang mempertemukan orang dalam hitungan detik. Teknologi mempercepat perjumpaan, tetapi tidak selalu mempercepat kedewasaan.

Jika ditelusuri dari papirus Mesir, puisi Yunani, surat Romawi, legenda Nusantara, hingga pesan singkat di layar ponsel, cinta pada dasarnya tidak pernah berubah. Kodratnya tetap sama: keinginan manusia untuk terhubung.

Pada akhirnya, cinta bukan tentang menemukan kesempurnaan pada orang lain, melainkan tentang kesiapan untuk tumbuh bersama di tengah ketidaksempurnaan.

Selamat Valentine.💌

Yuk, bagikan tulisan ini di...

Leave a Comment