Waisak: Mengapa Tanggalnya Tidak Tetap dan Disebut Tahun BE?

Tahun 2026, hari raya Waisak di Indonesia jatuh pada tanggal 31 Mei. Mengapa hari raya ini tanggalnya selalu bervariasi dan tidak pernah jatuh di tanggal yang sama?

Mari kita mulai dengan kehidupan Siddhartha Gautama. Seperti kita ketahui, Sang Buddha terlahir sebagai seorang pangeran di Kota Kapilavastu. Sejak kecil sudah diramalkan bahwa takdirnya akan memiliki dua kemungkinan: raja agung atau guru spiritual.

Untuk menghindari kemungkinan kedua, ayahnya mengambil keputusan, pangeran ini harus dijauhkan dari segala bentuk penderitaan.

Apa mau dikata, jika takdir sudah bicara. Suatu hari, ia melihat sesuatu yang tidak biasa: usia tua, orang sakit, peristiwa kematian, dan seorang pertapa. Keempat perjumpaan ini secara mendalam mengubah perspektifnya tentang masalah-masalah kehidupan.

Ia pun memilih pergi dari istana. Meninggalkan semua kenyamanan, gelar, bahkan istri dan anaknya. Sebuah keputusan yang, jika dicermati lebih dekat, tampak hampir tidak logis.

Namun, justru di situlah letak kekuatan batinnya. Perjalanan tersebut membawanya pada berbagai cobaan, hingga ia memutuskan untuk bermeditasi dan berhasil mencapai pencerahan. Ini membuat ajarannya autentik, karena lahir dari pengalamannya sendiri.

Seperti banyak kisah kuno, ajaran Sang Buddha ditransmisikan secara lisan selama tiga hingga empat abad sebelum dibakukan dalam teks Kanon Pali. Akan tetapi, cakupan perjuangan spiritualnya melampaui sejarah itu sendiri.

Untuk memahami Waisak, kita perlu melihat sistem penanggalan yang digunakan pada masa itu. Berbeda dengan kalender modern yang hanya mengikuti matahari, sistem kuno India menggunakan dua dasar sekaligus, lunisolar, yaitu pergerakan bulan dan siklus matahari.

Dalam sistem ini, satu tahun terdiri dari dua belas bulan lunar. Setiap bulan berlangsung sekitar 29 hingga 30 hari. Siklus ini mengikuti perubahan fase bulan, dari gelap hingga membentuk bulan purnama.

Namun, dua belas bulan lunar hanya menghasilkan sekitar 354 hari, lebih pendek sebelas hari dari tahun matahari yang kita gunakan sekarang.

Jika tidak dikoreksi, kalender akan terus bergeser. Karena itu, pemikir kuno membuat sebuah solusi, menambahkan satu bulan ekstra pada periode tertentu. Sehingga waktu perayaan setiap tahun, tetap berjalan seiring dengan langit dan bumi.

Dalam dua belas bulan tersebut, terdapat satu bulan yang disebut Vaisakha, bulan kedua dalam siklus tahunan sistem kalender India. Di sinilah letak kunci penentuan Hari Waisak: saat bulan mencapai purnama di bulan tersebut.

Jika diterjemahkan ke dalam kalender Masehi, Waisak hampir selalu jatuh pada Bulan Mei, meskipun dalam beberapa tahun tertentu dapat terjadi di akhir April atau awal Juni. Perbedaan ini dikarenakan perhitungan kalender lunisolar, variasi metode penanggalan, serta keputusan tradisi di masing-masing negara.

Jika kita melihat lebih luas, kita akan menemukan bahwa setiap peradaban memiliki cara sendiri dalam memahami waktu. Dalam Islam, kalender sepenuhnya mengikuti bulan. Akibatnya, Ramadan terus bergerak sekitar sebelas hari lebih awal setiap tahun.

Dalam tradisi Kristen, Paskah ditentukan dari purnama pertama setelah titik musim semi, sebuah sistem yang bahkan melibatkan perhitungan matematis seperti siklus 19 tahun untuk menyelaraskan bulan dan matahari.

Sedangkan dalam Buddhisme, Waisak berada di antara keduanya.

Selain tanggalnya yang unik, hari raya ini juga sering disertai angka tahun yang berbeda dari kalender Masehi, seperti 2569 BE. Ini adalah singkatan dari Buddhist Era, atau Era Buddha.

Sistem penanggalan ini dihitung dari peristiwa wafatnya Sang Budha saat mencapai Parinirvana. Dalam tradisi yang paling umum, peristiwa ini diperkirakan terjadi sekitar tahun 543 sebelum Masehi.

Untuk mengubah tahun Masehi menjadi tahun Buddha, cukup tambahkan 543 tahun dengan tahun Masehi.

Sebagai contoh:

Tahun 2026 + 543 = 2569 BE

Perbedaan satu tahun dapat terjadi tergantung pada sistem penanggalan yang digunakan.

Sehingga, angka ini bisa sedikit berbeda tergantung kapan tahun baru Buddha ditetapkan di tradisi setempat, tetapi secara umum selisihnya tetap berada di kisaran tersebut. Ini berbeda dengan kalender Masehi yang dimulai dari kelahiran Yesus, dan kalender Hijriah yang dimulai dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad.

Jika Ramadan bergerak mengikuti bulan, Paskah dihitung melalui rumus, maka Waisak mengikuti langit, tetapi tetap berpijak pada musim. Dan mungkin, di situlah maknanya. Kehidupan akan terus berubah, tetapi orang selalu berusaha mencari keseimbangan, antara yang bergerak dan yang tetap.

Selamat Hari Raya Waisak bagi pembaca yang merayakan. Semoga cahaya kebijaksanaan dan kedamaian selalu menyertai setiap langkah kita.

Sabbe sattā bhavantu sukhitattā. Semoga semua makhluk berbahagia.

Yuk, bagikan tulisan ini di...

Leave a Comment