Ketika membicarakan penjelajahan samudra, banyak orang langsung teringat pada Columbus, Vasco da Gama, atau Magelhaens. Namun, jauh sebelum mereka mengarungi lautan, bangsa Tiongkok pada masa Dinasti Ming telah mengirimkan armada yang jauh lebih besar dan mengesankan.
Di bawah pimpinan Laksamana Cheng Ho, atau Zheng He, ratusan kapal dengan puluhan ribu awak pernah berlayar melintasi Asia Tenggara, India, Teluk Persia, hingga pantai timur Afrika. Itu adalah pencapaian yang luar biasa.
Namun, ada satu hal yang mungkin lebih mengherankan, mengapa armada terbesar di dunia pada zamannya itu tidak berubah menjadi kekuatan penjajah? Di sinilah letak menariknya kisah ini.
ISI ARTIKEL
Anak dari Yunnan yang Menjadi Laksamana Besar
Cheng Ho lahir pada 1371 di Yunnan dengan nama Ma He. Ia berasal dari keluarga muslim suku Hui. Ketika pasukan Dinasti Ming menaklukkan Yunnan, Ma He yang masih kecil ditangkap, kemudian dibawa ke istana.
Tak banyak orang yang menyangka bahwa Ma He yang dijadikan kasim istana dan dikebiri di usia 13 tahun kelak akan menjadi salah satu tokoh maritim paling terkenal dalam sejarah.
Berkat kecerdasan dan kesetiaannya, Ma He dengan cepat mendapat kepercayaan dari Pangeran Zhu Di. Setelah Zhu Di naik takhta menjadi Kaisar Yongle, Ma He diberi nama Cheng Ho dan diserahi tugas memimpin armada besar yang belum pernah disaksikan dunia sebelumnya.
Armada yang Mengagumkan Dunia
Mulai tahun 1405, Cheng Ho memimpin serangkaian pelayaran yang berlangsung selama hampir tiga puluh tahun. Dalam tujuh ekspedisi besar, armadanya mengunjungi berbagai wilayah yang sekarang dikenal sebagai Vietnam, Thailand, Indonesia, Malaysia, Sri Lanka, India, Oman, Yaman, hingga pantai timur Afrika.
Beberapa catatan menyebutkan jumlah yang terlibat mencapai ratusan kapal dengan puluhan ribu awak. Bahkan separuh hutan di Tiongkok Selatan ikut gundul demi menwujudkan ambisi Kaisar Dinasti Ming ketiga itu.
Angka pasti dari armada Cheng Ho memang masih menjadi bahan perdebatan para sejarawan, tetapi tidak diragukan bahwa ekspedisi ini menjadi salah satu operasi maritim terbesar yang pernah dilakukan pada masa itu.
Bagi kerajaan-kerajaan yang mereka kunjungi, kedatangan armada Cheng Ho tentu menjadi pemandangan yang mengesankan. Bayangkan, penduduk setempat melihat ratusan laskar kapal dagang asing berlabuh di pelabuhan mereka.
Namun berbeda dengan bangsa-bangsa Eropa yang datang beberapa abad kemudian, armada Cheng Ho tidak membangun koloni permanen.
Bukan Untuk Menaklukkan
Tujuan utama pelayaran Cheng Ho memang bukan untuk mencari tanah jajahan baru. Dinasti Ming pada waktu itu lebih ingin memperlihatkan kebesaran kekaisaran, memperluas hubungan diplomatik, serta membangun jaringan perdagangan dengan berbagai negeri.
Melalui pertukaran hadiah, kunjungan utusan, dan hubungan dagang, Kaisar Yongle ingin menunjukkan bahwa Tiongkok merupakan pusat kekuasaan yang dihormati oleh banyak kerajaan.
Memang dalam beberapa kesempatan, armada Cheng Ho juga terlibat konflik militer. Namun, tindakan itu lebih ditujukan untuk menghadapi ancaman terhadap misi mereka. Karena itulah banyak sejarawan memandang ekspedisi ini lebih sebagai misi diplomasi dan perdagangan daripada proyek penjajahan.
Jejak di Nusantara
Tanah air kita merupakan salah satu wilayah yang enam kali disinggahi armada Cheng Ho. Seiring berjalannya waktu, berbagai kisah dan legenda mengenai laksamana ini berkembang di berbagai daerah. Salah satu yang paling terkenal adalah Kelenteng Sam Poo Kong di Semarang.
Meskipun masyarakat sering mengaitkan tempat tersebut dengan sang laksamana, para sejarawan berpendapat bahwa bangunan yang ada sekarang lebih merupakan tempat penghormatan yang dibangun kemudian dan bukan tempat tinggal aslinya.
Selain itu, terdapat pula berbagai cerita di Nusantara mengenai awak kapal armada yang menetap. Sebagian kisah ini, bercampur antara fakta sejarah dan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun.
Walaupun tidak semua cerita dapat dibuktikan secara pasti, pengaruh hubungan dagang dan pertukaran budaya pada masa itu memang meninggalkan jejak yang masih dapat ditemukan hingga sekarang.
Apakah Cheng Ho Menyebarkan Islam?
Karena Cheng Ho berasal dari keluarga Muslim, muncul anggapan bahwa pelayarannya bertujuan menyebarkan agama Islam. Namun sebagian besar sejarawan menilai bahwa tujuan utama ekspedisi tersebut tetaplah misi negara Dinasti Ming.
Penyebaran Islam bukanlah tujuan resmi pelayaran. Akan tetapi, keberadaan awak kapal Muslim serta hubungan dagang yang semakin ramai mungkin ikut memperkuat komunitas Muslim yang telah lebih dahulu berkembang di berbagai wilayah Asia Tenggara.
Dengan kata lain, Cheng Ho mungkin bukan penyebar Islam dalam arti tradisional, tetapi keberadaannya dapat saja memberikan pengaruh tidak langsung terhadap perkembangan jaringan Islam di kawasan ini.
Mengapa Semua Itu Berhenti?
Inilah salah satu bagian yang paling menarik. Setelah tujuh pelayaran besar, Dinasti Ming justru menghentikan ekspedisi tersebut.
Biaya yang sangat besar, ancaman dari utara, serta perubahan pandangan para pejabat istana membuat perhatian kekaisaran beralih ke masalah dalam negeri. Kebijakan maritim yang ambisius itu pun perlahan ditinggalkan.
Ironisnya, beberapa puluh tahun kemudian, bangsa-bangsa Eropa mulai memasuki era penjelajahan besar. Portugal, Spanyol, Belanda, Inggris, dan negara-negara lain mulai mendominasi lautan serta membangun imperium kolonial yang mengubah sejarah dunia.
Sebuah Pertanyaan yang Menarik
Barangkali warisan terbesar Laksamana Cheng Ho bukanlah ukuran kapal, jumlah awak, ataupun jauhnya pelayaran yang mereka tempuh. Pertanyaan yang lebih menarik justru adalah, “Mengapa armada terbesar pada zamannya tidak memilih menjadi penjajah?”
Sejarah memang tidak memberi jawaban yang pasti. Namun, kisah Cheng Ho mengingatkan kita, bahwa memiliki kekuatan besar tidak berarti harus menguasai orang lain.
Menurut opiniku, pilihan paling menarik dalam sejarah bukanlah tentang apa yang mereka lakukan, tetapi pertimbangan untuk tetap setia pada tujuan semula. Bagaimana menurut Anda?