Ada satu hal yang selalu membuatku terharu setiap kali menghadiri acara kumpul-kumpul diaspora Indonesia di Prancis. Selain hidangannya yang selalu berlimpah, di negeri yang jauh dari tanah air ini, semangat gotong royong dan kekeluargaan justru terasa begitu nyata.
Di sini, Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar semboyan. Seperti yang terjadi pada tanggal 5 Juli 2026 di Montpellier.
Minggu itu, kami, beberapa warga Indonesia di Prancis Selatan, diundang ke rumah Mbak Jane. Kami akan menghadiri acara Mitoni. Upacara tujuh bulanan ini diadakan untuk Ayu, menantu dari Mbak Jane yang sedang menantikan kelahiran anak keduanya.
Sebagai catatan, tradisi Mitoni berasal dari budaya Jawa. Namun, aku pribadi melihat sesuatu yang jauh lebih besar. Di tanah rantau ini, kami yang berasal dari berbagai penjuru nusantara, berkumpul, bekerja sama, dan saling membantu agar acara ini tetap meriah.
ISI ARTIKEL
Apa itu Mitoni?
Kata “Mitoni” berasal dari bahasa Jawa. Melalui proses pembentukan kata dalam bahasa Jawa, “mitoni” tidak lagi berarti angka tujuh, melainkan upacara yang dilaksanakan ketika usia kehamilan memasuki bulan ketujuh. Terutama pada kehamilan pertama.
Tujuan upacara ini adalah memohon doa, agar ibu dan bayi selalu sehat, memperoleh perlindungan Tuhan, serta diberi kelancaran hingga proses persalinan.
Menurut tradisi yang berkembang di Jawa, Mitoni telah dikenal sejak masa Kerajaan Kediri. Tepatnya pada abad ke-12. Terutama pada masa pemerintahan Raja Jayabaya. Tradisi ini lahir dalam lingkungan budaya Jawa yang saat itu masih dipengaruhi nilai-nilai Hindu-Buddha.
Kisah Niken Satingkeb dan Sadiya sering disebut-sebut sebagai legenda asal-usul acara Mitoni.
Seiring masuknya penyebaran Islam ke Nusantara, berbagai unsur adat tetap dipertahankan. Sementara doa-doa dan nilai-nilai spiritualnya berkembang mengikuti keyakinan masyarakat. Itulah sebabnya bentuk pelaksanaan Mitoni yang kita kenal sekarang merupakan hasil perpaduan berbagai lapisan budaya.
Walaupun tradisi tersebut berasal dari Jawa, tetapi makna yang terkandung di dalamnya bersifat universal. Ada sebuah keluarga dan kerabat berkumpul, agar bisa ikut membantu calon orang tua yang sedang menanti kelahiran seorang anak, dengan nasihat dan doa terbaik.
Tradisi yang Menyeberangi Laut
Yang paling menarik, perhatianku hari itu bukan hanya prosesi adatnya. Di balik rangkaian acara, ada kami yang berasal dari berbagai penjuru Nusantara. Seperti pulau Jawa, Bali, Sulawesi, Sumatra, dan aku sendiri dari Kalimantan.
Akan tetapi, ketika berkumpul, kami membawa identitas Indonesia, dan bersama-sama menjaga agar sepotong tradisi itu tetap hidup.
Tentu saja, tidak semua dapat kami lakukan persis seperti di tanah air. Beberapa bahan dan perlengkapan tradisi tidak mudah diperoleh di Prancis. Namun, keterbatasan itu sama sekali tidak mengurangi makna maupun hikmah Mitoni.
Justru di sanalah semangat gotong royong semakin terasa. Apa yang tidak dapat disiapkan oleh satu orang, dilengkapi oleh yang lain, sehingga tradisi ini tetap dapat dirayakan dengan penuh sukacita.
Prosesi Mitoni
Acara dibuka dengan kata sambutan oleh Jacques selaku tuan rumah, dan pembacaan puisi yang kubuat di atas suvenir sabun. Jacques membacakan dalam versi bahasa Prancis. Kemudian dilanjutkan oleh Mbak Jane, selaku calon oma, dalam versi bahasa Indonesia.
Célébration du 7ᵉ mois de grossesse
Le bonheur est encore plus beau
lorsqu’il est partagé dans un esprit d’entraide.
Merci pour votre présence,
vos prières et ce précieux moment de partage.
Nous souhaitons à la maman et à son bébé
une bonne santé, un bel accouchement,
ainsi qu’un avenir rempli de joie.
Amen.
Montpellier, le 5 Juillet 2026
Tujuh Bulanan
Kebahagian menjadi lebih indah
berkat tradisi gotong royong kita
Terima kasih atas kehadiran, doa
dan semangat kebersamaan hari ini
Semoga ibu dan bayi selalu sehat,
persalinannya kelak berjalan lancar
Dan sukacita senantiasa
menyertai kita semua
Amin
Montpellier, 5 Juli 2026
Rangkaian acara kemudian dipandu dengan sangat baik oleh Jeng Esty yang menjelaskan makna setiap tahapannya.
Siraman adalah memandikan ibu hamil. Langkah ini sebagai lambang penyucian diri sekaligus doa agar ibu dan bayi selalu berada dalam perlindungan Tuhan.
Umumnya dilakukan oleh tujuh anggota keluarga dan kerabat dekat. Dan seharusnya dimulai dengan sungkeman suami kepada orang tua. Lalu dilanjutkan dengan siraman pertama dari suami ke istri.
Namun, hari itu, untuk menghormati nenek buyut, yaitu mertua Mbak Jane yang berusia 99 tahun, beliaulah yang membuka acara siraman. Dilanjutkan Alex, kemudian Jacques selaku opa, Mbak Jane selaku oma, kakaknya Alex, Olivier selaku paman, dan istrinya Aurelie selaku bibi, serta Bu Lanny sebagai sesepuh diaspora yang kami hormati.
Setiap habis disiram, Ayu mengganti atasan kebaya yang telah basah sebanyak tujuh kali. Air siraman diberi bunga tujuh rupa dari kebun Mbak Jane. Bunga-bunga itu melambangkan doa agar ibu dan bayi selalu memperoleh keselamatan.
Keharumannya menjadi simbol harapan agar anak yang kelak lahir memiliki nama baik, budi pekerti yang luhur, serta membawa kebaikan bagi sesamanya. Dalam tradisi Jawa, orang yang lebih tua dianggap telah berpengalaman dan dapat memberi nasihat yang baik kepada calon orang tua baru.
Setelah siraman selesai, dilaksanakan prosesi brojolan. Brojolan sendiri bisa memakai dua simbol. Bisa dengan kelapa gading (kuning) atau telur putih.
Karena kelapa kuning dianggap bernilai lebih tinggi dari kelapa biasa. Jadi bukan sembarangan kelapa yang bisa dipakai dalam prosesi ini. Warna gading dianggap seperti warna emas.
Menurut penjelasan Jeng Esti, jika memakai kelapa kuning, maka setelah kelapa digulingkan dari badan calon ibu, akan ditangkap oleh calon ibu atau ibu mertua yang siap untuk mengendong calon bayi ini.
Kemudian kelapa ini akan diayun-ayun, seperti menimang bayi. Kelapa lalu dibelah oleh calon ayah. Kalau airnya muncrat, pertanda calon bayi kemungkinan lelaki. Sebaliknya jika merembes, calon bayi adalah perempuan. Tentu saja, ini hanya kearifan lokal. Karena zaman dulu, ilmu kedokteran belum semaju sekarang. Karena itu, manusia menggunakan simbol alam.
Namun, supaya lebih mudah, di sini Ayu menggunakan telur bewarna putih. Telur yang digelindingkan dari badan Ayu oleh Alex, pecah dengan sempurna di atas tatakan daun pisang.
“Perempuan!” demikian Ayu mengumumkan jenis kelamin calon bayi. Dan disambut tepuk tangan meriah dari para undangan yang hadir.
Sakadar catatan, di zaman dulu, telur bewarna putih dianggap suci atau polos, seperti bayi yang akan lahir. Dan untuk menebak jenis kelaminnya, dianggap jika telur pecah dan kulitnya terbelah dua, pertanda bayinya perempuan. Sedangkan jika kulitnya hanya retak, pertanda calon bayinya adalah laki-laki.
Menurutku, sungguh luar biasa orang-orang dulu memaknai sesuatu. Meskipun belum tentu sesuai dengan kenyataan.
Lanjut ke acara Mitoni. Sisa dari air suci siraman kemudian dipercikkan Ayu kepada tamu yang hadir. Pada saat bersamaan, Alex melempar beberapa uang koin sebagai simbol si calon bayi memiliki hidup yang harmoni dan berjiwa sosial.
Setelah Ayu bersalin baju kering untuk yang kedelapan kalinya. Prosesi memotong tumpeng dimulai. Alex menyuapi istrinya, sebagai simbol kasih sayang, tanggung jawab, serta kesiapan menyambut perannya sebagai seorang ayah.
Tumpeng dalam bahasa Jawa berarti ‘tumindak lempeng’. Jika dianalogikan, ini semacam harapan agar calon anak akan bertingkah laku baik. Jika diperhatian, tumpeng yang ditata dengan berbagai macam lauk sayur, juga menjadi perlambang, agar si anak kelak bisa hidup serba berkecukupan.
Jika mengikuti tradisi, setelah acara potong tumpeng, akan dilanjutkan dengan menjual rujak dan cendol oleh Alex dan Ayu. Tetapi hari itu tidak diadakan, karena para tetamu sudah lapar.
Acara kemudian dilanjutkan dengan makan bersama. Dan seperti biasa, berlangsung penuh keakraban. Semua yang hadir mengaminkan doa-doa dalam prosesi, semoga ibu dan bayi tetap sehat, persalinannya nanti berjalan lancar. Bayi lahir dengan selamat, tumbuh menjadi anak yang sehat, cerdas, berbakti pada orang tua, berguna bagi sesama, bangsa, negara dan dunia.
Dalam prosesi Mitoni ini, aku menemukan sebuah filosofi yang menarik. Menjadi orang tua bukan sekadar perjalanan menanti kelahiran seorang anak. Aku merasa sebuah rumah tangga, membutuhkan persiapan, pengetahuan, nasihat, nafkah, restu, dan tanggung jawab.
Semua itu menjadi bekal agar anak yang kelak dilahirkan dapat dibesarkan dengan baik, memiliki budi pekerti, dan tumbuh menjadi pribadi yang berguna bagi sesamanya.
Persiapan Berasas Gotong Royong
Di balik acara Mitoni yang meriah. Ada kerja sukarela komunitas kecil yang hadir. Kami bahu membahu membawa sesuatu. Dari jajanan pasar hingga berbagai masakan nikmat khas nusantara. Tentu saja hanya untuk melengkapi sajian tuan rumah.
Buah tangan yang dibawa teman-teman, dengan cepat memenuhi seluruh permukaan meja. Dan Jeng Esty, yang pernah bekerja sebagai kepala protokol di KJRI Marseille, serta memahami prosesi upacara, berkenan menjadi pemandu acaranya.
Aku mendapat tugas membawa daun pisang. Namun, beberapa hari sebelum acara berlangsung, angin kencang Mistral merusak hampir semua daun yang sudah besar. Yang tersisa hanyalah daun-daun muda dengan ukuran lebih kecil. Meski demikian, daun-daun itu tetap dimanfaatkan sebagai alas berbagai hidangan.
Peristiwa sederhana itu mengingatkanku bahwa dalam semangat gotong royong tidak ada sumbangsih yang terlalu kecil. Yang terpenting adalah ketulusan hati untuk ikut mengambil bagian.
Suvenir Kecil, Kenangan Besar
Untuk menandai hari istimewa itu, aku menyiapkan suvenir sederhana berupa sabun kecil beraroma mawar. Di dalamnya, kuselipkan sebait puisi dalam bahasa Indonesia dan Prancis sebagai ucapan terima kasih kepada setiap tamu yang hadir. Pekerjaan sederhana itu ternyata memakan waktu hampir seharian.
Ketika melihat sajian di atas meja, aku dapat membayangkan pekerjaan Mbak Jane dan Ayu. Begitu juga kesibukan dapur dari teman-teman yang hadir.
Di atas meja tersaji rujak, bakso, urap, sayur lontong, tempe kering, tempe bacem, bakwan, tahu isi, sambal hati, bebek krispi, salmon bumbu kuning, nasi kuning, nasi putih, telur balado, aneka sambal, kerupuk, hingga jajanan pasar seperti putu mayang, pisang ijo, lemper, bubur sumsum, kue lapis kukus, pisang goreng, dan kue kelapa putih.
Sebagian hidangan dan kue dibuat dengan penuh kasih oleh Mbak Jane dan Dik Ayu. Kemudian dilengkapi oleh Jeng Esti, Jeng Nina, Dik Shinta, Dik Isti, Dik Rosmida, dan Dik Desy. Belum lagi berbagai minuman, termasuk dawet dan cendol.
Anisha datang membawa wine, sementara Bu Lanny membawakan kami buah cerise hasil panen dari kebunnya. Aku sendiri menggorengkan kerupuk dari minyak hasil membuat bawang goreng. Melihat hidangan yang tersaji, menurutku, itulah makna gotong royong itu.
Tentang suvenir sabun, yang membuatku tersenyum adalah sebuah kebetulan yang sama sekali tidak direncanakan. Karena keterbatasan bahan kertas dan kantong, aku hanya bisa menyiapkan 27 buah, sabun-sabun yang belum terbungkus, tetap kubawa buat berjaga-jaga, jika ada tamu yang tidak kebagian.
Dan ternyata tamu yang hadir juga berjumlah 27 orang. Sebuah kebetulan yang begitu manis. Sebagai orang yang menyukai angka, aku menganggapnya sebuah kenangan yang istimewa.
Perjalanan yang Sama Indahnya
Suasana gotong royong sudah aku rasakan, bahkan sebelum acara dimulai. Rosmida dan suaminya, Thiery, rela bolak-balik ke kota Lunel, sekitar 117 km, untuk menjemput aku di Arles. Jarak itu kurang lebih setara dengan perjalanan dari jakarta menuju Sukabumi, atau hampir sejauh Jakarta ke Bandung.
Rosmida lalu mengganti mobil. Kami berdua melanjutkan perjalanan menuju Montpellier yang berjarak hanya sekitar 32 km dari rumah Rosmida.
Ketika acara selesai, hari sudah hampir berganti. Aku diantar pulang oleh Jeng Esty dan suaminya, Jean Claude, sampai ke rumah Arles. Mereka juga rela memperpanjang jarak tempuh pulang ke rumahnya, memastikan aku sudah masuk ke dalam rumah, lalu meneruskan perjalanan mereka ke arah Aix En-Provence.
Aku sungguh berterima kasih pada kedua teman komunitasku yang begitu baik hati.
Di Prancis, musim canicule (gelombang panas) sedang mencapai puncaknya. Cuaca memang panas. Namun, suasana hangat tawa canda, doa, makanan, cerita, dan kerja sama dari saat kedatangan hingga acara selesai berjalan khidmat.
Semangat gotong royong telah menyatukan kami, warga Indonesia dari berbagai daerah, di negeri yang jauh dari tanah air.
Aku juga dibungkuskan banyak makanan oleh Mbak Jane. Iya. Bukan hanya upacaranya, tradisi bungkus-bungkus sudah menjadi bagian dari kebersamaan kami. Tujuannya, agar kegembiraan di pesta tetap berlanjut hingga ke rumah.
Semoga tradisi seperti ini terus hidup, karena ada orang-orang yang rela menjaga dan meneruskannya. Bukan hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai pengingat bahwa kebersamaan, kepedulian, dan saling membantu adalah nilai-nilai yang selalu dapat menyatukan kita, di mana pun kita berada.
Sekali lagi, Sisca mengucapkan terima kasih atas undangan dari keluarga Mbak Jane dan Ayu, serta teman-teman diaspora yang hadir, di antaranya sesepuh kami Bu Lanny, ketua Asosiasi Wanita Indonesia di Montpellier (AWIM) Shinta Dyah Paradis, Dik Isti, Jeng Nina, Anisha, mereka ini dari Montpelier.
Keluarga Desy Gunawan dari Beziers, Jeng Esty dari Aix En Provence, Dik Rosmida dari Lunel. Begitu juga yang berhalangan hadir seperti darling Dyah Clarissa, Uni Putri, Dik Alda, Dik Susie Huang, Eldo, Eddi Witokyo, dan Bu RT tersayang kami, Santi Silas.
Selamat bekerja bagi kalian yang bertugas. Dan selamat liburan musim panas, bagi teman teman yang hendak berangkat liburan. Sampai bertemu lagi di kesempatan berikutnya.