Berhadapan dengan Pole L’Emploi, Dinas Tenaga Kerja Prancis

Berhadapan dengan Pole L'Emploi, Dinas Tenaga Kerja Prancis

Sehubungan dengan statusku sebagai pencari kerja, aku akhirnya mendapat surat panggilan dari Pôle L’Emploi, Arles, pada 18 Februari 2021 silam. Maka pada hari yang mereka tentukan, pukul 10 pagi, aku sudah tiba di sana.

Tugas Pôle L’Emploi adalah membantu pemerintah mengorganisasikan para pencari kerja. Lembaga inilah yang mencatat data para pencari kerja, memberi mereka tunjangan dalam periode tertentu selama yang bersangkutan berhenti atau diberhentikan dari pekerjaan, menyediakan pelatihan kerja, dan hal-hal lain terkait masalah ketenagakerjaan.

Sejak pandemi Corona dan hengkang dari Istana Mini, aku berstatus sebagai pengangguran sejati. Karena itu, supaya tunjangan sosialku tetap berjalan, aku harus terdaftar di Pôle L’Emploi sebagai pencari kerja aktif.

Konsekuensinya, seandainya aku tidak menghadiri panggilan sebagaimana tertera di surat, apalagi tanpa alasan yang jelas, aku bisa didiskualifikasi selama empat bulan dan otomatis berhenti menerima kompensasi.

Bagiku, pengangguran sejati selama masa pandemi perlu dibaca sebagai wanita aktif pengurus rumah tangga yang berkecimpung mulai dari urusan dapur, belanja, administrasi, termasuk mengawasi tukang, juga tak pernah berhenti menyetor minuman ke tamu, menulis, ngeblog, sampai menjadi perawat yang dituntut bersiaga 24 jam. Menganggurkah itu?

Eh, kok, malah menulis Daftar Riwayat Hidup…

Kilas Balik: Bertemu Albert Domenech

Bertemu Albert Domenech

Aku pun datang. Duduk di kursi yang sama ketika pertama kali aku dipanggil menghadap dulu. Sembari menanti namaku dipanggil, di ruang tunggu Pôle L’Emploi yang lenggang, ingatanku melayang kembali ke masa itu.

Saat itu, aku datang bersama Juragan. Kebetulan sekali, ketika sedang menunggu di ruang tunggu ini, Juragan melihat Albert Domenech. Beliau adalah kakak kandung dari pelatih sepak bola ternama, Raymond Domenech. Penggemar bola pasti tahu, Raymond pernah menjadi pelatih timnas Prancis 2004-2010. Sayang, beliau gagal mempersembahkan gelar paling bergengsi sedunia: Piala Dunia.

Kota Arles begitu kecil. Rasanya, semua orang saling mengenal. Albert Domenech rupanya teman Juragan. Seperti kakaknya, beliau juga mantan pemain bola profesional, tepatnya di klub Olympique de Marseille (OM). Ketika karier bolanya berakhir, beliau kebetulan bekerja sebagai pimpinan cabang Pôle L’Emploi Arles.

Aku terkesima. Sekalipun hanya sesekali menimbrung di dunia sepak bola, aku cukup familier dengan wajah Raymond Domenech. Muka kakak-beradik itu pun sangat mirip.

Kami diundang masuk ke kantornya. Seru sekali pembicaraan pagi itu. Yang kudengar bukanlah apakah berkas yang kubawa ada kekurangan atau tidak, atau bagaimana nasib saya sebagai pengangguran untuk pertama kalinya.

Yang kudengar justru seputar pertandingan sepak bola dari kesebelasan yang mana melawan siapa, yang kipernya sangat agresif, kemudian striker mendapat kartu kuning, dan kurang ajarnya lagi, tim yang mereka favoritkan gawangnya jebol, karena menurut intuisi mereka, wasit sedikit memihak ke klub sebelah.

Selama lebih dari satu jam, aku menyimak. Namun, rupanya Albert dan Juragan belum juga sampai pada puncak pembicaraan. Cerita punya cerita, ternyata itu adalah minggu terakhir Albert Domenech sebagai pinca Pôle L’Emploi Arles. Beliau segera pensiun.

Pantessss!

Akhirnya, Albert Domenech mengundang Juragan hadir untuk pembahasan lebih lanjut urusan sepak bola itu. Kami diundang ke rumahnya malam itu juga, karena kebetulan beliau menggelar pesta pensiun.

Kemudian, kembali ke status pengangguranku, beliau berkata berkasku akan beliau alihkan kepada salah satu stafnya.

Setelah pertemuan itu, ketika ada pesta di Istana Mini, kami balik mengundang Albert dan istrinya, Dominique Domenech.

Kembali ke kantor Pôle L’Emploi. Sebisa mungkin, aku tidak berlama-lama di sini. Entahlah. Aku selalu merasa menjadi pengiba bantuan pemerintah. Setiap kali mendapat panggilan itu, jantungku selalu deg-degan.

Tetapi, anak dadu sudah dilemparkan. Alea jacta est. Setelah resmi terdaftar sebagai pengangguran, aku diminta membuat profil. Tak lupa, aku mencantumkan pengalamanku selama bekerja di Indonesia untuk mengiklankan diri sendiri, dengan spesialisasi memelototi angka-angka.

Tetapi sudah berulang kali pula, sebelum masa pengangguran yang direstui itu kedaluwarsa, aku sudah mendapat kontrak baru. Sehingga aku tidak sampai menghadap untuk dievaluasi kembali.

Bantuan Terakhir Karine Magret

Bantuan Terakhir Karine Magret

Belum lama aku melamun, namaku dipanggil. Bergegas aku meraup dokumen formalitas yang sudah kusiapkan, termasuk surat panggilan resmi. Aku beranjak dari kursi. Madame Magret tersenyum hangat menyambutku. Dulu, beliau menerima berkasku dari Albert Domenech.

Sambil mengucapkan selamat tahun baru dan kudoakan segala yang terbaik, kami menuju ruangan beliau untuk berkonsultasi.

Karine Magret sangat baik dan ramah. Ini adalah kali ketiga kami saling bertatap muka. Meskipun perkenalanku dengan beliau hanya melalui Pôle L’Emploi, kami sangat akrab. Kami juga pernah berkomunikasi melalui telepon, tentu saja, dalam kapasitasku sebagai pencari kerja.

Alasan wanita cantik ini memanggilku, karena tidak lama lagi beliau pergi dari Kota Arles setelah mengabdia selama 25 tahun. “Anda adalah orang terakhir yang ingin saya temui sebelum pindah,” ujarnya dengan mimik serius.

Di balik muka yang dibalut masker, aku tersenyum. Madame Magret pasti bisa melihatnya dari sudut mataku. “Saya merasa mendapat kehormatan, Madame! Anda sangat baik. Terima kasih,” jawabku tulus. “Pindah ke mana, Madame? Atau, Anda pensiun?”

“Belum,” jawabnya. “Silakan duduk dulu.”

Lalu sembari bercerita banyak hal, beliau membetulkan Curriculum Vitae-ku yang memang dapat diakses secara daring di bursa kandidat tenaga kerja. Tak hanya itu, beliau juga memperbaiki tata letak profilku, melakukan perubahan data, hingga membuat personalisasi CV-ku, supaya terlihat lebih atraktif.

Sambil melakukannya, kami berbincang banyak hal, seperti teman lama. Tahu-tahu, jam konsultasi itu sudah berlangsung hampir dua jam. Untuk seorang penggangguran dan orang asing yang sedang menerima kompensasi pemerintah, ini adalah rekor yang cukup mengagumkan.

Terakhir, Madame Magret memberikan nomor ponselnya. Sekaligus menunjukkan tempat tinggalnya dengan suami baru melalui Google Maps. Inilah alasan dari mutasinya itu.

Pada kesempatan itu juga, kujelaskan bahwa aku akan mengambil cuti, karena harus mengantar juragan ke Clinique Du Souffles, selama satu bulan. “Dari tanggal 4 Maret hingga 3 April 2021, Madame,” imbuhku.

Lalu, beliau kembali menjadi sekretarisku dengan memperbaiki dataku. Madame Magret mengatakan sudah memasukkan masa cutiku. Setelah dipotong Sabtu, Minggu, dan hari libur yang ada di antara bulan Maret, ternyata aku masih memiliki sisa cuti tujuh hari.

Di sini, cuti itu perlu kucantumkan untuk menghindari mendapat panggilan dari kantor-kantor yang kebetulan tertarik dengan keterampilanku. Sebab, konsekuensi dari masuk ke sirkulasi bursa lowongan kerja adalah harus bersedia menerima setiap panggilan dari perusahaan yang tertarik dengan profil calon pekerja.

Menurut Madame Magret, pada 2021, aku memiliki 34 hari cuti. Artinya, bila belum mendapat pekerjaan, aku akan tetap mendapat tunjangan, meskipun aku sedang cuti.

Sebagai kenang-kenangan, Madame Magret memberikan sebotol Hands Sanitizer. Aku benar-benar tersentuh dengan kebaikan beliau.

Hands Sanitizer dari Madame Magret

Sebagai ucapan terima kasih atas pelayanannya yang hangat, aku meminta izin untuk menulis cerita pertemuan kami. Beliau setuju. Aku lalu mengambil foto beliau.

“Anda seorang penulis?” tanya beliau antusias.

“Saya suka menulis, Madame,” jawabku malu-malu. “Tapi, masih amatir dan dalam bahasa native saya. Maksud saya, bukan dalam bahasa Prancis, karena bahasa Prancis saya masih mengharukan.”

“Tidak, tidak. Bahasa Prancis Anda sudah bagus. Saya tidak ada kendala selama berkomunikasi dengan Anda. Saya heran, mengapa suami Anda selalu ikut, padahal Anda seorang yang mandiri. Saya yakin, Anda adalah penulis yang baik. Anda kelihatan pendiam, tetapi sebenarnya sangat hangat.”

Aku tersipu lagi dan menjawab. “Oh, itu…. Saya didampingi… karena beliau khawatir saya akan gugup dan salah paham, Madame.”

Il n’y pas de raison. Itu tidak beralasan!” komentarnya. Kami pun tertawa bersama.

Pengalaman Kerjaku di Prancis

Pengalaman Kerjaku di Prancis

Selama di Prancis, aku bekerja di perusahaan keluarga. Namun, ketika pertama kali berstatus sebagai penggangguran, aku terpaksa menghadap dinas tenaga kerja ini, sembari menunggu kontrak baru keluar.

Sekadar informasi, ada dua jenis kontrak kerja di Prancis, yaitu:

  1. Contract à Durée Déterminée (CDD). Kontrak kerja dengan masa waktu terbatas. Gampangnya, ini untuk karyawan tidak tetap.
  2. Contrat à Durée Indéterminée (CDI). Durasi kontrak kerja tak terbatas. Sederhananya, ini untuk karyawan tetap.

Selama 16 tahun di Prancis, aku pernah menjalani keduanya. Pertama, aku mendapat kontrak CDD. Durasinya berjarak tiga bulan, kemudian enam bulan. Kontrak ini bisa diperpanjang dua kali. Seandainya perusahaan masih membutuhkan tenaga kerja tersebut, kontraknya perlu diubah menjadi CDI. Akan tetapi, seandainya perusahaan belum belum memberi kontrak itu, maka karyawan tersebut harus diberhentikan untuk sementara.

Terakhir, kontrak CDI-ku berakhir karena Istana Mini beralih pemilik. Meskipun begitu, saat aku terdaftar sebagai pencari kerja, aku tetap menjalankan prosedur dari Pôle L’Emploi.

Dan bertambahlah pengalamanku sebagai pelamar kerja. Saat melewati masa tunggu mendapat panggilan, profilku ternyata dilirik perusahaan besar yang mencari karyawan musiman yang senang memelototi angka-angka.

Aku terpana. Ternyata perusahaan agro alimentaire yang solid dengan kapital yang menggiurkan tertarik dengan profilku. Singkat cerita, aku pun menghadiri panggilan di perusahaan bernama:

Sud AGRO
RTE Mas Des Saules,
BP 290
30300 Fourques.

Saat pergi ke sana untuk wawancara, aku sempat menyasar-nyasar, karena kantornya terletak di area berhektare-hektare.

Aku diinterview oleh dua orang untuk kontrak CDD. Mereka menanyakan kapan aku bisa mulai bekerja. MasyaAllah. Sejujurnya, aku juga ingin tahu sejauh mana kemampuanku untuk berkarya di perusahaan sebesar itu, tetapi dengan berat hati, aku harus melewati tawaran menarik ini.

Aku berhasil melewati interview dengan baik. Setidaknya, aku menaati peraturan yang ditetapkan lembaga penyelia tenaga kerja itu.

Bisa kubayangkan, apabila tidak diantar dan menggunakan transportasi publik, berapa waktu yang kubutuhkan setiap hari bila harus berjalan kaki dari gerbang ke kantor?

Kemudian, yang kedua kali, sebelum bulan Februari 2021 berakhir, atau sebelum aku mengambil cuti. Kali ini, panggilan wawancara dari sebuah perusahaan yang bergerak di bidang bio alimentaire. Lokasinya sebenarnya hanya lima menit dari Istana Mini. Sayangnya, aku sudah pindah rumah. Perusahaan itu bernama:

Villa Natura
1, chemin de Severin
13200 Arles

Setulusnya, aku memohon maaf untuk kedua perusahaan itu. Karena alasan pribadi, aku tidak dapat menerima tawaran mereka.

Begitulah sedikit cerita akibat masuk bursa tenaga kerja yang kualami.

Namun, setelah pulang dari menemani Juragan di Clinique Du Souffles, bulan Mei nanti, aku sudah akan menerima kontrak kerja baru. Sehingga, aku tidak perlu bolak-balik menyetor muka ke Pole L’Emploi lagi.

Untuk berjaga-jaga, tak lupa kumohon pula kepada Madame Magret agar berkasku diberikan kepada pengganti yang sebaik dirinya. Beliau menggangguk. Sekali lagi, kuucapkan terima kasih atas seluruh atensi beliau. Jam dinding sudah menunjukkan tengah hari ketika aku berpamitan.

Madame Magret mengantarku keluar. Oh ya, di masa pandemi ini, untuk pintu masuk dan pintu keluar, arahnya tidak sejalur. Karena alasan pandemi pula, kami hanya sikut-sikutan, sebagai pengganti cipika-cipiki dan jabat tangan yang belakangan menjadi hal terlarang untuk dilakukan.

Begitulah pengalamanku mendaftarkan diri di bursa tenaga kerja. Dari obrolan santai itu, dan berkat entri dari Madame Magret ke komputer, terdapat nilai kompensasi yang masih kuterima hingga bulan April 2021.

Merci beaucoup, La France!

Aku menulis pengalaman ketika berstatus pengangguran ini agar aku tetap mengingat proses perjalananku yang unik. Bukankah pengalaman selalu menjadi guru terbaik? Kuharap juga sedikit-banyak bisa memberi pencerahan bagi kalian yang kebetulan singgah di blog ini dan tertarik hidup di Prancis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *