Saat nama Vincent van Gogh disebut, banyak orang segera teringat pada bunga matahari, langit malam berbintang, atau kisah tragis tentang telinganya yang ia sayat sendiri. Namun, mungkin ada pertanyaan yang lebih menarik daripada semua itu.
Mengapa sebagian karya terpenting Van Gogh justru lahir di sebuah kota kecil di selatan Prancis bernama Arles? Jawabannya barangkali tidak terletak pada ketenaran kota itu, tetapi pada sesuatu yang lebih sederhana: Cahaya.
ISI ARTIKEL
Kota Arles Mengubah Pandangan Van Gogh
Pada 20 Februari 1888, Vincent van Gogh turun dari kereta di Stasiun Arles. Ia datang dari Paris dengan harapan menemukan matahari Provence dan warna-warna selatan yang menjadi impiannya selama ini. Ironisnya, kota itu justru menyambutnya dengan salju.
Namun, kesan pertama yang dingin itu tidak menghalangi kekagumannya. Sedikit demi sedikit, Vincent van Gogh menemukan sesuatu yang selama ini ia cari: Langit yang terlihat luas, warna-warni memukau, matahari yang lebih terang, dan bias cahaya khas Provence yang berbeda dengan yang dikenalnya di utara.
Dalam surat-suratnya kepada sang adik, Theo van Gogh, ia berkali-kali menceritakan kekagumannya terhadap pesona warna selatan Prancis. Bahkan, ia pernah mengatakan cahaya dan warna di daerah itu mengingatkannya pada Jepang cetakan-cetakan ukiyo-e, yaitu seni cukil kayu dari Jepang yang selama ini ia koleksi.
Rumah Kuning dan Harapan Besar Van Gogh
Sebenarnya, masa tinggal Vincent di Arles tidak panjang. Hanya sekitar lima belas bulan. Namun, dalam waktu yang singkat itu, ia menghasilkan sekitar dua ratus lukisan.
Di kota inilah lahir beberapa karya yang kemudian menjadi bagian dari sejarah seni dunia, seperti Les Tournesols (Bunga Matahari), La Chambre à Arles (Kamar Tidur di Arles), Le Café de Nuit, Terrasse du Café le soir, Le Pont de Langlois, dan La Nuit étoilée sur le Rhône.
Bagi banyak orang, karya-karya tersebut mungkin sekadar lukisan terkenal. Namun, bagi Van Gogh, semuanya berawal dari apa yang ia lihat setiap hari.
Pantulan cahaya di Sungai Rhône. Atap-atap merah kota tua. Pepohonan yang berbunga. Langit biru yang seolah tak berujung. Ladang-ladang dimana posisinya miring diterpa angin mistral. Dan warna-warna Provence yang begitu hidup.
Di Arles, Vincent menyewa rumah kecil yang kemudian dikenal sebagai Rumah Kuning. Ia bahkan bermimpi mendirikan semacam komunitas para pelukis di selatan Prancis. Karena itulah ia mengundang Paul Gauguin untuk tinggal bersamanya.
Awalnya, Van Gogh berharap mereka dapat bekerja bersama dan menciptakan sebuah atelier du midi, studio seni impiannya. Namun, perbedaan watak dan pandangan membuat hubungan mereka semakin tegang.
Pada akhir tahun 1888, setelah pertengkaran yang terkenal itu, Van Gogh mengalami krisis yang kemudian berujung pada peristiwa yang akan selalu dikenang dalam sejarah seni: ia melukai telinga kirinya. Kota kecil Arles, telah menjadi saksi sayatan berdarah itu.
Lima Belas Bulan yang Mengubah Sejarah Seni
Namun, anehnya, di tengah berbagai penderitaan yang dialaminya, semangat melukis Vincent Van Gogh justru tidak padam. Seolah-olah kota itu masih terus memberinya alasan untuk berkarya.
Sering kali orang mengingat Vincent van Gogh sebagai seorang pelukis yang tidak dihargai semasa hidupnya. Tetapi di balik semua itu, ada sosok yang tidak dapat dipisahkan darinya: Theo van Gogh.
Melalui surat-surat yang mereka tulis selama bertahun-tahun, Theo bukan hanya menjadi saudara, melainkan sahabat dan pendukung yang memungkinkan Vincent terus melukis.
Dan setelah Vincent meninggal, Johanna van Gogh-Bonger, istri Theo, dengan penuh kesabaran memperkenalkan karya dan surat-surat Vincent kepada dunia.
Tanpa mereka, mungkin nama Vincent van Gogh tidak akan dikenal seperti sekarang.
Lebih dari satu abad telah berlalu. Sungai Rhône masih mengalir menuju Laut Tengah. Arena Romawi Arles tetap berdiri. Embusan angin Mistral pun selalu hadir secara berkala. Dan cahaya Provence yang pernah memikat seorang pelukis Belanda itu masih menyinari kota yang sama.
Barangkali, itulah sebabnya sebuah buku yang tersimpan di perpustakaan rumah kami tidak diberi judul Vincent van Gogh di Arles. Buku itu judulnya Arles, La Lumière de Vincent.
Karena sesungguhnya, buku itu tidak sedang bercerita tentang seorang pelukis.
Buku itu semacam surat cinta pengarangnya kepada Arles, sebuah kota yang selama berabad-abad telah menginspirasi banyak orang.
Dan di antara mereka, ada seorang pria bernama Vincent van Gogh. Ia datang ke Arles dengan membawa kegelisahan, mimpi, dan harapan. Di kota kecil di selatan Prancis itu, ia menemukan sesuatu yang tidak dapat disentuh, tetapi dapat dirasakan. Cahaya.
Mungkin, pada akhirnya, bukan Vincent van Gogh yang membuat Arles menjadi terkenal. Sebaliknya, Arles-lah yang telah membuat Vincent van Gogh menemukan salah satu bab paling indah dalam hidupnya.