Feria Arles: Corrida

Feria Arles: Corrida

Menulis tentang Arles, seperti membahas kisah hidup seorang selebritas. Ada saja kegiatan kota kecil ini yang menarik untuk diperbincangkan. Bukan hanya pasarnya yang telah menjadi buah bibir sejak abad kelima, tetapi juga berbagai aktivitas budaya yang membuatnya kian bersinar, seumpama serangkai mutiara dari tanah Selatan.

Tercatat ada dua Feria di Arles, yaitu Feria du Riz di bulan September dan Feria Corrida pada hari Paskah. Aku akan membahas Corrida D’Arles dulu.

Seni Corrida adalah sebuah fesival. Dan pertunjukan itu, bagaikan sebuah napak tilas kejayaan Romawi Kuno di Kota Arles. Kegiatan ini berlangsung di Amfiteater.

Jadwal Corrida Arles selalu bersamaan dengan prosesi suci umat Kristiani memperingati Jumat Agung. Artinya, agenda itu berlangsung pada permulaan musim semi. Atau berkisar antara bulan Maret dan April.

Namun, cuaca awal musim semi di Prancis Selatan kadang tidak bersahabat. Sering sekali, hari itu semesta tampak berduka. Sehingga, bila dipandang perlu, sang penyelenggara tidak segan mengagendakan kembali pertunjukan tersebut meskipun poster-poster sudah tersebar.

Mari kita melihat sisi festival ketika cuaca sedang bagus saja.

Selayaknya sebuah pesta, kostum yang dikenakan para matador terhitung spektakuler. Kilau aksesori tampak bercahaya. Warna-warna atraktif sangatlah memikat mata. Lengkap dengan sarung tangan, topi, dan jubah. Persis seorang pangeran yang hendak menikah.

Penampilan heboh itu merupakan hasil karya perancang ternama. Harganya tak kira-kira. Sang desainer dipastikan punya reputasi dunia. Menariknya lagi, mahakarya agung ini, tak dinyana, dikenakan untuk bergulat melawan seekor banteng yang sebenarnya buta warna.

Yang juga tak kalah nyentrik adalah dekorasi dalam arena. Setiap tahun, ornamen di atas pasir selalu berganti tema. Bagi tangan-tangan terampil, kumpulan pasir Amfiteater laksana kanvas. Dengan piawai, mereka melukis di atas lapangan berpasir, hingga hamparan pasir itu tampak bagai permadani istana.

Disambut riuh tepuk tangan penonton, prosesi panggung di atas arena pun dimulai. Para satria berkuda mengawal matador memasuki gelanggang. Kuda-kuda berdansa, tapak tapalnya mulai bercerita, mengambar mozaik baru di atas pasir-pasir yang penuh warna. Kemudian kuda bersungkem, lalu menepi, memberi kesempatan matador untuk menguasai diri.

Bagaimana lagi, namanya juga pertarungan melawan binatang besar yang liar. Tidak ada jaminan nyawa tetap di tangan. Syukur kalau menang. Bila terjadi kekacauan, bisa-bisa tinggal nama yang dikenang. Karena itu, sebelum masuk dalam pergumulan, sudah sepantasnya penonton memberi satu penghormatan.

Corrida adalah pertarungan banteng melawan manusia. Pada sesi akhir, matador yang berhasil menaklukkan sang banteng memotong kedua telinga dan ekor banteng malang itu. Atau bahkan membawa pulang kepala banteng tersebut sebagai simbol prestise.

Prosesi Corrida

Mula-mula, banteng digiring keluar dari mulut kandang. Didampingi satria berkuda (picadores). Biasanya hingga lima orang, untuk membantu sang matador.

Begitu masuk lapangan, banteng yang masih kebingungan mengambil ancang-ancang. Sedangkan pendamping matador segera menusuk otot banteng untuk melumpuhkan kekuatan binatang. Tantangan berikutnya adalah menancap sepasang tombak (banderillas) ke punggung banteng. Ini masih dilakukan secara bergantian oleh para picadores.

“Hiasan” tombak di punggung sang banteng membuat penonton semakin histeris. Sorak-sorai itu seakan menghadirkan bising yang sama, ketika Amfiteater Arles tercipta pada abad pertama Masehi.

Dan di babak terakhir atau yang disebut Suerte Suprema, mulailah seni keangkuhan manusia mempermainkan banteng.

Sebelum benar-benar menghunus banteng dengan pedang. Sang matador terus memainkan jubah. Mengecoh banteng yang mulai melemah. Berkali-kali, binatang itu mengelilingi sang matador dengan jarak yang demikian dekat.

Para penonton ikut tegang, karena bisa jadi si matador ditanduk oleh sang banteng. Sekali-sekali, terdengar irama tepuk tangan, menyemangati nyali sang matador yang tampak berpeluh menahan nafas.

Di sesi inilah, membunuh atau terbunuh istilah yang tepat untuk menggambarkan hidup seorang matador. Sedang untuk mengambarkan akhir hayat binatang yang memiliki kekuatan baja dan tak gentar menghadang maut ini, aku memberinya jargon: cara binasa dengan perkasa.

Asal Usul Feria Corrida

Pertunjukan matador berasal dari negeri Spanyol, begitu juga benteng yang dipertandingkan. Kehidupan seorang matador bak artis tenar. Meski nyawa sering menjadi taruhan. Mereka tergolong berkecukupan dan terpandang.

Sedangkan jenis benteng yang dipakai untuk festival dikembangbiakkan dari genetika indukan yang terkenal buas dan liar.

Tak heran, dari kegarangan yang tergolong sangar, berbekal tanduk melengkung tajam, dengan insting kebinatangan yang binal, lawan yang kurang tangguh bisa berbuntut fatal, atau berakhir cacat mental. Pun bisa jadi langsung meninggal.

Banteng adalah binatang tangguh dan berotot. Sekali sundul, tembok pun bisa roboh. Tetapi manusia yang beratnya tidak seberapa, dengan segala akal upaya, mampu menaklukkan dan mengecohnya layaknya sebuah hiburan publik.

Itulah seni yang diusung Corrida. Seni nyentrik ini membuktikan supremasi kekuasaan manusia atas makluk lain di muka bumi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *