Setiap zaman memiliki tantangannya sendiri. Jika dulu orang belajar berlayar menembus lautan yang belum dipetakan. Tersesat di Timur dan di Barat karena masalah lintang. Hari ini, kita bisa menyeberangi benua, bahkan dalam hitungan jam. Sebuah kabar tidak lagi butuh perjalanan berbulan-bulan. Cukup membuka ponsel, pesan bisa sampai dalam satu pencetan.
Namun, menurutku, ada satu hal yang tidak berubah. Sejauh mana pun kita berjalan, pada sebuah belokan, kita tetap rindu mencari pemberhentian.
“Pulang” bukan hanya kembali ke rumah. Pulang juga berarti kembali menjumpai keluarga, kembali kepada orang-orang yang kita cintai, kepada diri kita sendiri, atau bahkan kepada kehidupan yang pernah kita miliki, sebelum semuanya berubah.
Mungkin karena alasan itulah, Odyssey karya Homer ini masih dibaca hingga sekarang. Padahal puisi epik itu diperkirakan lahir sekitar abad ke-8 sebelum Masehi. Artinya, hampir tiga ribu tahun telah berlalu, tetapi kisahnya belum juga kehilangan makna.
Sebab, Odyssey bukan sekadar cerita tentang pelayaran panjang seorang pahlawan Yunani. Ia adalah cerita tentang kita. Dan selama kita masih bermimpi, berharap dan berjalan, kisah ini akan terus relevan untuk dibaca dan direnungkan.
ISI ARTIKEL
Odysseus, Sang Pahlawan yang Berbeda
Jika kita mendengar kisah Yunani Kuno, nama yang sering muncul biasanya adalah Achilles, Hector, atau Herakles. Mereka terkenal karena kekuatan fisiknya. Namun, Odysseus berbeda. Ia memang seorang raja sekaligus pejuang dari Ithaka, tetapi senjata utamanya bukanlah otot, tetapi kecerdikannya.
Bahkan sejak Perang Troya berlangsung, cara berpikir Odysseus sudah menjadi pembeda. Dialah yang merancang Kuda Troya, sebuah siasat yang akhirnya membuat benteng Troya jatuh setelah perang selama sepuluh tahun.
Namun, yang membuat nama Odysseus dikenang bukanlah kemenangan dalam perang tersebut. Homer memilih menceritakan sesuatu yang jauh lebih dekat dengan kehidupan kita. Menang ternyata bukan akhir dari sebuah cerita. Justru itu menjadi awal perjuangan berikutnya.
Bagaimana cara pulang?
Jika dalam Iliad, Homer bercerita tentang perang, maka Odyssey berbicara tentang akibat dari perang. Setelah perang selesai dan musuh dikalahkan, orang-orang mengira penderitaan telah berakhir.
Ternyata, Odysseus justru menghadapi perjalanan yang lebih berat dibandingkan peperangan itu sendiri. Ia harus melewati badai, pulau-pulau asing, makhluk-makhluk mitologi, godaan kekuasaan, kehilangan sahabat, bahkan kemarahan para dewa.
Misalnya:
- Cyclops mengajarkan bagaimana kekuatan tanpa kecerdasan bisa dikalahkan.
- Siren mengingatkan, tidak semua suara indah membawa keselamatan.
- Scylla dan Charybdis menunjukkan, dalam hidup, kadang kita tidak memilih antara yang baik dan buruk, tetapi terjepit antara dua pilihan yang sama-sama sulit.
- Pulau Lotus menggambarkan betapa mudahnya orang melupakan tujuan hidup ketika terlena kenyamanan.
Semua itu membuat Odyssey terasa lebih dari sekadar cerita petualangan. Ia menjadi metafora perjalanan. Bukankah kehidupan kita juga demikian?
Kita terus menghadapi berbagai “pulau” yang mengalihkan perhatian, berbagai “badai” yang menguji kesabaran, dan berbagai “monster” yang terkadang justru berasal dari diri kita sendiri.
Kecerdikan Lebih Berharga daripada Kekuatan
Salah satu pelajaran terbesar dari Odyssey adalah bahwa kecerdasan sering kali lebih menentukan daripada kekuatan.
Contoh paling terkenal tentu ketika Odysseus berhadapan dengan Cyclops Polyphemus. Raksasa bermata satu itu jauh lebih kuat darinya. Mustahil dilawan secara langsung. Maka Odysseus memilih menggunakan akal.
Ia memperkenalkan dirinya dengan nama “Tidak Ada” atau “Nobody”. Setelah Polyphemus dibuat mabuk dan matanya dibutakan, sang raksasa berteriak meminta pertolongan.
“Tidak ada menyerangku!” teriaknya.
Raksasa-raksasa lain mengira tidak ada yang benar-benar menyerangnya. Mereka pun pergi. Humor, kecerdikan, dan permainan bahasa menjadi senjata yang bahkan lebih ampuh daripada pedang.
Seperti dunia sekarang, banyak persoalan tidak dapat diselesaikan hanya dengan kekuatan atau kemarahan. Yang dibutuhkan justru kemampuan berpikir, beradaptasi, dan menemukan jalan keluar ketika semua pintu tampak tertutup.
Sayangnya, Odysseus bukan tokoh yang sempurna. Namun, Justru di sinilah tokoh itu terasa begitu manusiawi.
Contohnya, setelah Odysseus berhasil lolos dari Polyphemus, sebenarnya ia sudah selamat. Tetapi ia tidak bisa menahan diri. Lalu berteriak dari atas kapal dan menyebutkan nama aslinya. Ia ingin musuh mengetahui siapa yang berhasil mengalahkannya.
Kesombongan sesaat itu membawa akibat yang sangat panjang. Polyphemus ternyata adalah putra Poseidon. Sang dewa laut pun murka dan terus menghalangi perjalanan Odysseus menuju rumah.
Hanya beberapa kalimat yang diucapkan karena rasa bangga telah mengubah sepuluh tahun berikutnya menjadi penderitaan.
Betapa sering hal serupa terjadi dalam kehidupan kita. Kadang bukan kegagalan besar yang menghancurkan hidup seseorang, melainkan satu keputusan kecil yang lahir dari ego.
Homer tidak sedang menggurui pembacanya. Ia hanya memperlihatkan bahwa bahkan orang paling cerdas pun tetap bisa dikalahkan oleh kesombongannya sendiri.
Penelope: Kesetiaan yang Tidak Pasif
Sementara Odysseus berjuang di lautan, Penelope berjuang di rumah. Sering kali orang menganggap Penelope hanya sosok istri yang sabar menunggu. Padahal ia jauh lebih cerdas daripada itu.
Selama bertahun-tahun para pelamar memenuhi istananya dan mendesaknya memilih suami baru. Penelope tidak melawan dengan pedang. Ia melawan dengan kecerdikan, mengatakan akan memilih suami setelah kain kafan untuk ayah mertuanya selesai ditenun.
Pada siang hari, ia menenun. Di malam hari, ia mengurai kembali hasil tenunannya. Cara ini memberinya waktu. Begitu terus selama bertahun-tahun.
Penelope mempertahankan rumah, menjaga martabat keluarga, sekaligus tetap setia pada harapan bahwa Odysseus suatu hari akan kembali. Meski tidak maju di medan perang, tetapi keberaniannya bertarung dengan perang batin telah memperkuat sosoknya.
Argos: Kesetiaan yang Tidak Membutuhkan Kata-Kata
Di antara semua adegan dalam Odyssey, salah satu yang paling menyentuh justru melibatkan seekor anjing tua bernama Argos.
Ketika Odysseus akhirnya pulang ke Ithaka, ia datang dalam penyamaran sebagai pengemis. Tak seorang pun mengenalinya. Bahkan orang-orang yang dahulu dekat dengannya tidak mengetahui siapa tamu tua itu. Namun, Argos mengenalinya.
Anjing yang sudah sangat tua itu mengangkat kepala, mengibaskan ekor dengan sisa tenaga yang dimilikinya, lalu meninggal dengan tenang setelah melihat tuannya kembali.
Tidak ada dialog panjang atau pidato mengharukan. Hanya beberapa baris. Tetapi selama ribuan tahun, adegan ini terus membuat pembaca terdiam. Karena cinta yang paling tulus sering kali tidak membutuhkan banyak kata, tetapi hanya membutuhkan pengakuan.
Ranjang dari Pohon Zaitun
Bagian penutup Odyssey juga menyimpan simbol yang sangat indah. Ketika Odysseus akhirnya bertemu kembali dengan Penelope, istrinya tidak langsung percaya. Ia ingin memastikan bahwa pria itu benar-benar suaminya. Penelope lalu memerintahkan pelayan agar memindahkan tempat tidur mereka.
Odysseus langsung memprotes. “Itu tidak mungkin.”
Mengapa? Karena tempat tidur itu dibuat sendiri olehnya. Batang pohon zaitun yang masih hidup dijadikan bagian dari fondasi rumah, lalu diukir menjadi ranjang. Artinya, ranjang itu tidak mungkin dipindahkan tanpa merusak seluruh bangunan.
Jawaban itulah yang membuat Penelope yakin.
Hanya Odysseus yang mengetahui rahasia tersebut. Adegan ini bukan sekadar ujian identitas. Ranjang dari pohon zaitun melambangkan sesuatu yang jauh lebih dalam.
Sebuah rumah tangga yang dibangun di atas akar yang kokoh tidak mudah dipindahkan oleh badai kehidupan. Hubungan sejati dibangun oleh fondasi yang kuat.
Mengapa Odyssey Tetap Hidup Setelah Hampir Tiga Milenium?
Ada ribuan kisah yang pernah ditulis manusia. Sebagian besar telah dilupakan. Namun, Odyssey tetap bertahan. Terlepas dari usianya atau statusnya sebagai karya klasik.
Kisah ini berbicara tentang pengalaman yang tidak pernah menjadi usang. Setiap generasi mengenal kehilangan, kerinduan, godaan, kesalahan, dan belajar bahwa kecerdasan perlu diimbangi dengan kerendahan hati.
Setiap generasi pun memahami arti kesetiaan. Meskipun teknologi berubah, Kerajaan runtuh, bahasa berkembang. Namun, hati manusia tetap memiliki pertanyaan yang sama:
Bagaimana menghadapi penderitaan, mempertahankan harapan dan tetap menjadi diri sendiri ketika dunia terus berubah?
Selama pertanyaan-pertanyaan itu masih ada, Odyssey akan selalu menemukan pembacanya.
Kita Semua Sedang Menempuh Odyssey Kita Sendiri
Barangkali inilah alasan terdalam mengapa karya Homer tidak pernah benar-benar menjadi tua. Kita membaca Odyssey bukan hanya untuk mengetahui apa yang dilakukan Odysseus.
Kita membacanya sambil melihat diri kita sendiri di dalamnya. Ada saat ketika kita harus menghadapi badai, tergoda untuk berhenti di “Pulau Lotus” versi kehidupan kita.
Ada saat ketika kesombongan membuat kita mengambil keputusan yang keliru. Atau ketika kita membutuhkan kecerdikan serta berharap ada seseorang yang tetap setia menunggu.
Dan ada saat ketika arti “pulang” menjadi jauh lebih penting daripada arti “menang”.
Mungkin itulah keajaiban sebuah karya sastra besar. Ia tidak memberikan semua jawaban. Sebaliknya, ia menemani kita mengajukan pertanyaan yang sama, dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Setelah hampir tiga ribu tahun, Odyssey masih mengingatkan kita bahwa perjalanan hidup bukan sekadar tentang mencapai tujuan. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita berubah selama perjalanan itu berlangsung.
Karena pada akhirnya, setiap manusia sedang menulis Odyssey-nya sendiri, berusaha melewati badai, menjaga harapan tetap menyala, dan suatu hari nanti menemukan jalan pulang.