Sejak dulu, kita tumbuh dengan satu keyakinan, bahwa tanah adalah sumber kehidupan. Bukan sekadar tempat berpijak, dari sanalah padi menguning, sayuran tumbuh, dan segala yang masuk ke tubuh kita bermula.
Namun, ada satu hal yang jarang kita bayangkan. Di balik kesuburannya dalam memberikan nutrisi tumbuh-tumbuhan, tanah juga menyimpan elemen tidak terlihat, sesuatu yang ikut masuk bersama makanan yang kita anggap aman. Namanya kadmium.
ISI ARTIKEL
Ada Masalah Apa dengan Kadmium
Unsur ini tidak memiliki aroma atau pun warna, dan bukan ciptaan manusia. Ia sudah ada jauh sebelum kita mengenal pertanian, bahkan sebelum kita memberi nama pada unsur-unsur lain di bumi. Selama ribuan tahun, kadmium telah menjadi bagian dari sistem alam dan boleh dikatakan berjalan dalam keseimbangan.
Namun, melalui pertambangan, industri, dan penggunaan pupuk tertentu, zat ini semakin terangkat ke permukaan, menyebar ke tanah yang memberikan kita bahan pangan. Dalam jumlah kecil, keberadaannya mungkin tidak menimbulkan masalah. Dampak jangka panjanglah yang perlu kita khawatirkan.
Memang, perubahan sifat tanah yang disemai dengan bahan yang mengandung kadmium tidak dramatis. Tanaman tumbuh sewajarnya, panen pun tetap berlangsung.
Justru di situlah masalahnya. Karena tanaman tidak memiliki kemampuan untuk memilih, mereka akan menyerap air, mineral, dan apapun yang ikut larut. Dari ekosistem ini, benih menjadi akar, lalu ikut bergerak naik ke batang, daun, biji, dan pada akhirnya logam berat ini sampai ke piring kita.
Berbeda dengan jenis racun yang bekerja cepat, kadmium tidak menimbulkan reaksi seketika, juga tidak membuat tubuh langsung menolak. Sebaliknya, ia menetap dan terakumulasi sedikit demi sedikit, terutama di organ seperti ginjal.
Bahaya terbesar kadmium bukan hanya pada sifatnya yang beracun. Melainkan pada caranya yang hampir tidak terasa. Seperti pembunuh senyap! Dalam jangka panjang, paparan berlebih inilah yang dapat mengganggu fungsi tubuh, termasuk melemahkan tulang.
Kadmium Bukan Hal Yang Baru
Bagi sebagian orang, langkah pertama adalah mencari tahu. Salah satunya, dengan menguji tanah dan air sumur dari pekarangan sendiri di laboratorium.
Meskipun mengetahui kandungannya, kita mungkin tidak bisa mengendalikan kadarnya. Di kebun, misalnya, hubungan antara tanah dan tanaman ternyata tidak sesederhana yang kita bayangkan. Tanah yang terlalu asam lebih mudah menyerap bahan logam. Sebaliknya, tanah yang lebih seimbang cenderung menahan pergerakannya.
Penambahan kompos tidak menghilangkan zat tersebut, tetapi dapat membantu “mengikatnya”, dalam memperlambat perjalanannya menuju akar tanaman.
Perlu kita catat juga, jenis sayuran daun seperti bayam, selada, kangkung, atau sawi dikenal lebih mudah menyerap unsur-unsur dari lingkungan sekitarnya, termasuk logam berat. Karena akarnya aktif, daun mereka cepat tumbuh, dan di situlah banyak zat terkumpul.
Sementara itu, tanaman buah seperti tomat, terong, cabai, atau ketimun, risikonya cenderung lebih rendah ketika kita konsumsi.
Cerita ini bukan ancaman. Karena dunia pernah belajar tentang hal ini. Kita ambil contoh paling populer, di Jepang, pada abad ke-20, penambangan telah mengkontaminasi Sungai Jinzū. Unsur kadmium terakumulasi di tanaman padi yang tumbuh di sepanjang bantaran sungai itu.
Lalu, sebuah penyakit muncul di kalangan masyarakat yang mengandalkan produksi beras dari sana. Penderita merasakan sakit parah di tulang. Penyakit itu dikenal dengan nama itai-itai, secara harfiah berarti “aduh sakit, aduh sakit”.
Kita sampai pada satu kenyataan yang benar-benar tidak nyaman. Tanah yang sama yang memberi nutrisi untuk tanaman-tanaman kita juga bisa menjadi perantara sesuatu yang melukai kita. Bukan karena tanah berubah menjadi musuh, tetapi karena hubungan kita dengannya telah berubah.
Kita mempercepat prosesnya dengan menambah produksi, mengeksploitasi lahan, tanpa sepenuhnya memahami apa yang ikut diubah. Dalam hal ini, alam tidak berontak, ia cukup mengirim kembali apa yang sudah kita beri.
Masalahnya, daya kerja organ tubuh kita akan terus menurun jika terlalu banyak dipadati kandungan kadmium.
Solusinya Ada di Kebiasaan Makan Kita
Di tengah semua prahara yang tak dapat kita ubah, ada satu ruang yang masih bisa kita kendalikan. Kita bisa mulai dari dapur sendiri. Tempat di mana hasil panen dari alam berubah menjadi hidangan. Tempat di mana kita, untuk sesaat, memanjakan perut dengan apa yang akan kita konsumsi.
Kita mungkin pernah melihat anjuran sederhana di kemasan makanan, seperti pasta, agar direbus dalam air mendidih yang banyak. Secara teknis, itu memang hanya bertujuan untuk menghasilkan tekstur yang baik. Logam-logam berat takkan hilang dengan perebusan.
Namun, di balik itu, ada satu hal yang bisa kita renungkan. Banyak bahan makanan kita, seperti gandum dan padi-padian, tumbuh langsung dari tanah yang dapat mengandung unsur-unsur logam berat itu.
Jadi, kita sendiri bisa menyiapkan bahan mentah dengan lebih teliti. Juga, jangan terpaku pada satu bahan makanan yang terus dikonsumsi, meskipun itu sehat. Semakin banyak variasi makanan sehat kita, semakin tubuh kita aman.
Ini pun tidak bisa menghilangkan semua risiko. Langkah selektif dan variatif ini hanya menolong tubuh kita agar lebih mudah mencernanya saja. Agar racun-racun itu tidak terlalu terakumulasi dalam tubuh kita.
Bagaimanapun, di tahap-tahap awal, kita mungkin tidak pernah merasakan kehadiran zat berbahaya ini. Akan tetapi, karena zat ini mungkin sudah terserap tubuh, maka bagaimana kita mengurangi efek beracun itu hari ini akan menentukan apa yang kembali kepada kita esok hari.