Jomlo? Janda? Duda? Cerai? Tapi tunggu dulu, cerai hidup atau mati? Begitulah status. Hanya terdiri dari enam huruf. Sering diucapkan, tetapi pernahkah kita berpikir mengapa dan dari mana status menjadi penting?
Sejak manusia mengenal hukum dan masyarakat, status menentukan banyak hal. Seperti siapa boleh tinggal di mana, apakah dia berhak bicara, rumahnya di daerah mana, pemilik atau hanya penyewa, menikah resmi atau kawin siri, dan masih ada sejumlah daftar ribet yang, sedikit banyak, menyudutkan hidup seseorang.
Padahal secara etimologis, kata “status” berasal dari bahasa Latin, yang berarti keadaan atau posisi. Jadi status pada dasarnya adalah pertanyaan sederhana: di mana seseorang berdiri?
Itu saja!
Di Romawi kuno, status berada dalam ranah hukum dengan petunjuk jelas tanpa memikirkan perasaan orang itu. Di sini status mendapat label yang menentukan batas hak dan ruang hidup seseorang.
Ada status libertatis, yang menyatakan apakah seseorang bebas atau budak. Status civitatis yang memastikan apakah ia warga Roma atau orang luar. Dan ada status familiae, di mana orang tersebut ditetapkan apakah ia berada di bawah kekuasaan kepala keluarga atau sudah merdeka secara hukum.
Karena seorang budak, meskipun juga manusia, berbeda dengan seorang warga negara Romawi. Dia tidak punya ruang untuk memilih dan bersuara.
Dalam banyak peradaban, status diwariskan sejak lahir. Bangsawan atau rakyat biasa. Merdeka atau hamba. Anak sah atau haram. Perjalanan mencari status ini sangat panjang dan berliku. Sejarah mencatat, manusia berusaha keras mengubah statusnya.
Revolusi Prancis, contohnya. Pemberontakan rakyat yang tertindas, bukan sekadar ingin pergantian pemerintahan. Setelah ada demokrasi, hak pilih adalah tuntutan perempuan untuk diakui statusnya, agar setara dengan pria.
Status tidak abadi dan terus berevolusi. Di dunia digital, itu bisa diperbarui sendiri, bahkan tidak perlu melalui hukum atau saksi. “In a relationship”, “Single”, “It’s complicated”, dalam satu klik, posisi sosial diumumkan dan panen komentar.
Namun, di balik semua perubahan, manusia tetap membutuhkan kejelasan di atas kertas. Karena apa yang tertulis memberi struktur, identitas dan rasa kepastian.
Masalahnya, status juga bisa membuat orang bingung. Seseorang bisa berstatus menikah, tetapi merasa sendirian, dikarenakan pasangannya sering bepergian. Atau ada yang mengaku jomlo tetapi sering terlihat mojok serta jalan berduaan.
Yang menarik, sejarah menunjukkan manusia selalu bergerak antara dua kebutuhan: ingin diakui statusnya, tetapi juga ingin melampaui statusnya. Kita ingin kepastian, tetapi juga kebebasan.
Di situlah status menjadi menarik. Ia bukan hanya kategori administratif. Melainkan cermin sosial yang menunjukkan bagaimana masyarakat memandang hubungan, kepemilikan, dan nilai.
Barangkali, pada akhirnya, status paling penting adalah cara kita diakui dan diterima apa adanya.