Secara harfiah, bahasa mengandung khasanah kiasan yang luas dalam menyampaikan makna. Komposisi kata-kata itu sering melenceng dari arti sebenarnya. Ungkapan seperti “naik daun”, “gulung tikar”, “gaji buta”, “cuci mata”, “adu mulut”, “tangan emas”, bisa diucapkan siapa pun, tanpa harus memahami ilmu filsafat.
Ungkapan biasanya terdiri dari gabungan kata yang memiliki arti khusus. Misalnya, “panjang tangan” tidak berarti tangan seseorang benar-benar panjang. Ini menggambarkan kebiasaannya mencuri.
Demikian juga dengan “naik darah”. Bukan berarti darah benar-benar naik, tetapi hanya memberitahu kita bahwa seseorang sedang marah. Bahasa menjadi lebih hidup karena manusia memahami makna di balik kata, bukan hanya arti dari kamus.
Kita ambil contoh lain. Api kebakaran disebut “jago merah”, mimpi menjadi “bunga tidur”, pekerjaan diterjemahkan sebagai mata pencaharian. Lalu, ada kiasan lucu, seperti “tinggi hati”, “besar kepala”, atau “rendah diri”.
Orang cerdik dikatakan “banyak akal”, sementara yang lamban berpikir disindir “otak udang”. Bahkan perasaan pun digambarkan “berbunga-bunga” ketika senang.
Bahasa, dengan caranya sendiri, mengubah pengalaman manusia menjadi gambaran yang mudah dipahami sekaligus terasa dekat.
Fenomena serupa tetap hidup di dunia modern. Media sosial dan komunikasi digital melahirkan ungkapan baru yang cepat menyebar dan dipahami bersama. Istilah seperti “bawa perasaan” (baper), “overthinking”, “healing”, “burnout”, atau “tanggal tua” menjadi cara ringkas untuk menggambarkan keadaan emosi dan pengalaman hidup.
Dalam relasi sosial, muncul pula istilah seperti “ghosting”, “friendzone”, “red flag”, atau “toxic relationship”. Meskipun bentuknya berbeda dari ungkapan klasik, prinsipnya tetap sama: manusia menggunakan bahasa untuk merangkum pengalaman yang kompleks menjadi sesuatu yang mudah dimengerti.
Berbeda dengan peribahasa yang sering berbentuk kalimat lengkap dan bersifat kiasan, ungkapan biasanya lebih pendek dan digunakan dalam percakapan sehari-hari. Kata-kata itu menjadi bagian alami dari komunikasi. Seseorang bisa menggunakan ungkapan tanpa menyadari bahwa kata tersebut sebenarnya metafora.
Ungkapan lahir dari kebiasaan sosial dan pengalaman bersama. Ketika ada sekelompok masyarakat yang berulang kali menggunakan perbandingan tertentu, lama-kelamaan makna itu menjadi tetap. Namun, padanan kata itu tetap unik.
Dalam satu budaya, suatu ungkapan bisa masuk akal, tetapi terdengar aneh bagi budaya lain. Dan begitulah bahasa berkembang, selain aturan dari tata bahasa, juga lewat kesepakatan tidak tertulis antarmanusia.
Dunia modern juga tak luput dari fenomena ini. Media, teknologi, dan pergaulan menciptakan istilah baru yang kemudian menjadi bagian dari bahasa sehari-hari. Sebagian ungkapan bertahan lama, sebagian lagi hilang mengikuti zaman.
Bagaimanapun, manusia selalu mencari cara yang lebih singkat, ekspresif dan emosional untuk menyampaikan perasaan dan pikirannya.
Bahasa adalah sesuatu yang hidup. Kata-kata bukan hanya alat komunikasi, melainkan juga magnet yang saling melekatkan pengalaman manusia. Dalam kaidah sederhana itu, tersimpan kreativitas, kebiasaan, dan pengalaman kolektif masyarakat.
Ungkapan menjadi cara ringkas untuk saling memahami, sekaligus pelita kecil yang menghidupkan tutur kata, dalam percakapan kita.