Kalau berdiri di depan Amphithéâtre d’Arles, atau yang sehari-hari lebih sering kami sebut les Arènes atau Arena Arles, mudah sekali kita membayangkannya sebagai peninggalan zaman Romawi.
Memang begitu asalnya. Amphithéâtre ini dibangun pada akhir abad pertama Masehi dan dahulu mampu menampung sekitar 21.000 penonton. Tetapi perjalanan hidup mega bangunan itu ternyata tidak selalu mengikuti tujuan awal pembuatannya.
Berabad-abad setelah pertunjukan Romawi berakhir, Arena Arles justru mengalami perubahan yang mungkin sulit dibayangkan kita hari ini: Bahwa penduduk Kota Arles, pernah tinggal di dalamnya.
ISI ARTIKEL
Dari Arena Menjadi Tempat Berlindung
Setelah berakhirnya Kekaisaran Romawi, keadaan kota kuno Arles menjadi semakin tidak aman. Amphithéâtre yang besar dan kokoh kemudian dimanfaatkan sebagai tempat berlindung dan secara bertahap berubah menjadi kawasan berbenteng.
Lengkungan-lengkungan bangunan Romawi ditutup dan dimanfaatkan. Rumah-rumah bermunculan. Pertahanan diperkuat dengan menara.
Lama-kelamaan, yang terbentuk di dalam dan di sekitar Arena bukan lagi sekadar beberapa tempat tinggal, melainkan seperti sebuah pemukiman kota kecil di dalam jantung kota Arles.
Ada rumah-rumah, jalan, kapel, dan ruang publik. Menurut catatan warisan Kota Arles, ketika proses pembebasan monumen dilakukan pada abad ke-19, terdapat 212 rumah di dalam dan menempel di bagian luar Amphithéâtre.
Bayangkan saja: sebuah amphithéâtre Romawi yang dahulu dipenuhi ribuan penonton, berabad-abad kemudian dipenuhi kehidupan sehari-hari penduduk Arles.
Arena Arles yang Hampir Tidak Terlihat
Aku kebetulan mempunyai sebuah gambar lama di rumah yang memperlihatkan keadaan Arena ketika bangunan-bangunan masih memenuhi bagian dalamnya.
Gambar itu berasal dari koleksi keluarga kami.
Kalau melihatnya, bentuk Amphithéâtre Romawi masih dapat dikenali dari dinding luarnya. Tetapi di balik dinding tersebut terlihat atap-atap rumah yang berdesakan, bangunan keagamaan, serta menara yang menjulang di antaranya.
Sulit membayangkan pemandangan seperti itu kalau kita hanya mengenal Arena Arles sekarang.
Menara-menara abad pertengahan yang masih terlihat di bagian atas Arena menjadi salah satu jejak dari masa ketika bangunan Romawi tersebut diubah fungsinya menjadi benteng dan tempat tinggal.
Seperti layaknya sebuah hunian, sumber warisan Kota Arles mencatat bahwa kawasan di dalamnya terdapat rumah, jalan, gereja dan ruang publik.
Sebuah Bangunan, Kehidupan yang Berbeda
Bagian inilah yang menurutku menarik dari bangunan-bangunan tua. Kita sering melihat sebuah monumen berdasarkan fungsi awalnya: amphithéâtre berarti pertunjukan Romawi, arena berarti gladiator dan penonton.
Padahal sebuah bangunan yang bertahan hampir dua ribu tahun itu, juga mempunyai banyak kehidupan. Amphithéâtre Arles adalah contohnya. Ia pernah menjadi tempat pertunjukan. Lalu beralih fungsi tempat berlindung, benteng. Bahkan tempat tinggal ratusan keluarga.
Rumah-rumah itu akhirnya dibongkar pada abad ke-19 ketika Amphithéâtre mulai dibebaskan dan dipulihkan sebagai monumen. Tetapi itu cerita berikutnya.
Untuk sementara, aku lebih suka membayangkan satu pemandangan yang hari ini sudah tidak mungkin kita lihat lagi: sebuah kota kecil yang hidup di dalam Arena Romawi.