Amphithéâtre Arles sempat beralih fungsi dari arena Romawi menjadi pemukiman berbenteng. Pada abad ke-19, pemerintah membongkar ratusan rumah untuk mengembalikannya sebagai gelanggang pertunjukan publik, dengan tetap mempertahankan menara abad pertengahan sebagai jejak sejarah.
Selama berabad-abad, Amphithéâtre Arles bukan lagi sekadar Arena peninggalan Romawi. Di dalam dan di sekelilingnya berdiri rumah-rumah. Ada jalan, tempat ibadah, ruang publik, dan menara pertahanan. Bangunan yang dahulu dibuat untuk pertunjukan telah berubah menjadi sebuah kota kecil berbenteng.
Tetapi pada abad ke-19, perjalanan Amphithéâtre berubah lagi. Kali ini, rumah-rumah itu harus pergi.
Membebaskan Arena Arles
Keinginan untuk membuka kembali bangunan Romawi sebenarnya sudah muncul sebelum abad ke-19. Namun, pekerjaan besar pembebasan Amphithéâtre, baru mulai dilakukan pada 1825, pada masa wali kota Arles, Baron de Chartrouse.
Masalahnya tentu tidak sederhana. Rumah-rumah yang memenuhi Amphithéâtre bukan dekorasi sementara. Mereka mempunyai pemilik dan menjadi bagian dari kehidupan kota.
Menurut catatan warisan Kota Arles, proses tersebut melibatkan ekspropriasi terhadap pemilik 212 rumah. Bangunan itu tidak hanya berada di dalam, tetapi juga menempel pada fasad Amphithéâtre.
Rumah-rumah tersebut kemudian dibongkar sedikit demi sedikit. Proses pembebasan monumen berlangsung bertahun-tahun dan baru selesai pada 1844.
Pertunjukan-pertunjukan Kembali Hadir
Yang menarik, Amphithéâtre tidak perlu menunggu seluruh pekerjaan selesai untuk kembali digunakan sebagai tempat pertunjukan.
Pada 1830, ketika proses pembebasan masih berlangsung, sebuah pertunjukan banteng sudah dapat diselenggarakan di sana. Penggunaan bangunan untuk pertunjukan taurine kemudian berkembang pada abad ke-19.
Hari ini, ketika berdiri di tengah Amphithéâtre Arles, rumah-rumah yang dahulu memenuhi bagian dalamnya sudah tidak ada.
Tetapi beberapa menara abad pertengahan masih berdiri. Seolah mengingatkan bahwa bangunan ini tidak hanya mempunyai satu sejarah. Ia pernah menjadi Arena Romawi, benteng, tempat tinggal, kota kecil, dan kemudian kembali menjadi tempat pertunjukan.
Setelah berputar selama berabad-abad, hakekat bangunan itu berpulang ke pekerjaan lamanya, menjadi Arena.