Angka tahun di rumah atau bangunan tua di Eropa menandai momen penting seperti pembangunan, renovasi, atau perluasan. Berfungsi sebagai rekaman publik, penentuan usia bangunan secara akurat tetap memerlukan dokumen arsip dan analisis gaya arsitektur.
Aku sudah 23 tahun tinggal di Prancis. Sampai pemandangan rumah tua menjadi sesuatu yang biasa. Di kota seperti Arles, mau jalan ke mana pun, rasanya gampang sekali bertemu bangunan yang umurnya jauh lebih tua daripada kita.
Ada yang dindingnya sudah tidak lurus, atau batunya terlihat aus. Ada pula yang sudah berkali-kali berubah fungsi, tetapi masih menyimpan bagian-bagian dari masa lalunya.
Salah satu yang menarik perhatianku justru sesuatu yang berupa angka. Ya, angka tahun di rumah atau bangunan.
Lucunya, kadang angka itu dipahat pada batu di atas pintu, muncul di samping, fasad, atau bagian lain yang mudah terlihat. Empat angka sederhana, misalnya 1737. Dan begitu melihatnya, kita akan langsung berpikir, “Oh, berarti rumah ini dibangun tahun 1737?”
Ternyata, belum tentu.
Itulah yang menarik dari angka-angka tua pada bangunan. Kita sering membacanya seperti tanggal lahir manusia: ada tahunnya, berarti pada tahun itulah rumah tersebut lahir. Padahal, sejarah sebuah bangunan tidak sesederhana itu.
Sebuah tanggal yang dipahat pada rumah bisa menandai saat bangunan itu didirikan. Tetapi bisa juga menunjukkan tahun ketika rumah diperbesar, fasadnya dibangun kembali, pintunya diganti, atau sebuah bagian baru ditambahkan.
Bahkan ada bangunan yang sebenarnya jauh lebih tua daripada angka yang sekarang terlihat di dindingnya. Jadi kalau menemukan tulisan “1737”, misalnya, kita tidak boleh buru-buru mengatakan, “Rumah ini dibangun pada 1737.”
Yang bisa kita katakan dengan aman hanyalah bahwa tahun itu penting dalam sejarah bagian bangunan tempat angka tersebut berada, sampai ada bukti lain yang menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada tahun tersebut.
Aku suka bagian ini, karena sebuah angka yang kelihatannya sangat pasti, ternyata masih membutuhkan konteks.
Lalu kenapa orang repot-repot memahat tahun di rumah?
Salah satu jawabannya ternyata sederhana: membangun rumah adalah sebuah peristiwa.
Sekarang kita terbiasa melihat konstruksi di mana-mana. Tetapi ketika hampir semua pekerjaan dilakukan dengan tenaga manusia, dan bahan bangunan diperoleh, diolah dengan cara yang jauh lebih lambat, mendirikan atau membangun kembali sebuah rumah merupakan pekerjaan besar. Tidak aneh kalau pemiliknya ingin meninggalkan tanda.
Tanggal pada bangunan juga bisa hadir bersama inisial pemilik, nama, lambang, simbol keagamaan, atau bentuk hiasan lainnya. Dengan begitu, sebuah rumah tidak hanya mengatakan, “Aku sudah ada sejak lama,” tetapi juga meninggalkan jejak tentang orang-orang yang pernah hidup di dalamnya.
Kebiasaan meninggalkan tanggal seperti ini tidak hanya terdapat pada rumah mewah atau bangunan besar. Date stones dapat ditemukan pada berbagai bangunan lama di Eropa, termasuk lumbung, jembatan, gereja, dan bangunan lainnya.
Yang membuatku semakin tertarik adalah tempat angka itu diletakkan.
Kalau seseorang hanya membutuhkan catatan mengenai kapan rumahnya dibangun, sebenarnya ia bisa menyimpannya di dokumen. Namun, ketika tanggal dipahat pada batu dan ditempatkan di bagian bangunan yang terlihat, angka tersebut mempunyai fungsi lain: ia ingin dibaca.
Orang yang lewat bisa melihatnya. Bahkan sampai generasi sesudahnya juga bisa melihatnya. Tanpa disadari, sebuah rumah sedang berbicara kepada masa depan.
Tentu saja, kita juga harus berhati-hati. Tidak semua angka tua pada bangunan mempunyai arti yang sama. Tidak ada satu aturan universal yang mengatakan bahwa angka di atas pintu pasti menunjukkan tahun pembangunan.
Sebuah bangunan dapat mengalami renovasi berkali-kali selama ratusan tahun. Batu bertanggal bahkan bisa dipindahkan atau digunakan kembali.
Karena itu sejarawan biasanya membutuhkan bukti lain. Seperti arsip, gaya arsitektur, dokumen kepemilikan, atau penelitian terhadap bangunan itu sendiri, sebelum menentukan umur sebuah rumah.
Justru di situlah menurutku angka menjadi menarik. Empat digit yang dipahat pada batu terlihat seperti informasi yang sudah selesai. 1737. Titik.
Padahal, bisa jadi angka itu sebenarnya baru permulaan.
Apa yang terjadi pada 1737? Siapa yang tinggal di sana? Apakah seluruh rumah dibangun pada tahun itu, atau hanya fasadnya? Apakah ada bangunan yang lebih tua sebelumnya? Siapa yang memutuskan bahwa tahun di rumah tersebut cukup penting untuk dipahat dan ditinggalkan kepada orang-orang yang bahkan belum lahir?
Aku sering berpikir, orang yang memahat angka itu mungkin tidak pernah membayangkan bahwa beberapa abad kemudian akan ada orang lewat yang berhenti sebentar hanya untuk memandanginya.
Namanya mungkin sudah hilang dan cerita keluarganya barangkali sudah dilupakan. Rumahnya bisa jadi telah berganti pemilik entah berapa kali.
Tetapi angka yang ia tinggalkan masih ada.
Barangkali, itulah salah satu hal yang paling kusukai dari bangunan tua. Sejarah tidak selalu datang dalam bentuk peristiwa besar, raja, perang, atau revolusi. Terkadang ia cuma berupa empat angka kecil di atas sebuah pintu.
Kita hanya perlu mengamati dan mencari jawabannya. Lalu, labirin ceritanya susul menyusul terbuka.