Berasal dari bahasa Yunani Kuno, kata “sycophant” yang berarti “menunjukkan buah ara” ini di Athena Kuno awalnya merujuk pada penuduh hukum oportunis. Setelah masuk ke bahasa Inggris pada abad ke-16, maknanya bergeser dari penuduh tidak terpuji menjadi sebutan bagi penjilat yang gemar mencari muka demi kepentingan pribadi.
Aku tadinya cuma ingin membicarakan buah ara. Di Prancis Selatan, pohon ara bukan sesuatu yang terlalu istimewa. Pohonnya gampang ditemukan, buahnya juga bukan barang asing.
Tetapi gara-gara buah yang kelihatannya tidak punya urusan dengan siapa-siapa ini, aku malah terseret sampai ke Athena Kuno dan menemukan sebuah kata yang riwayatnya aneh sekali: sycophant.
Dalam bahasa Inggris sekarang, sycophant dipakai untuk menyebut orang yang mencari muka kepada seseorang yang dianggap penting atau berkuasa, biasanya dengan pujian berlebihan demi mendapatkan keuntungan. Pendeknya, kalau diterjemahkan dengan bahasa sehari-hari: penjilat.
Lalu apa hubungannya dengan buah ara?
Nah, di situlah persoalannya. Kata sycophant berasal dari bahasa Yunani Kuno, sykophántēs. Bagian pertamanya, sykon, berarti buah ara. Bagian lainnya berhubungan dengan kata yang berarti menunjukkan atau memperlihatkan.
Kalau diterjemahkan secara harfiah, kira-kira kita mendapatkan gambaran seseorang yang “menunjukkan buah ara”.
Aneh, kan?
Lebih aneh lagi, di Athena Kuno, kata itu bukan sebutan untuk tukang kebun, penjual buah, apalagi orang yang gemar menunjukkan hasil panennya.
Sykophántēs digunakan untuk orang yang melakukan pengaduan atau penuntutan, dan lama-kelamaan mempunyai konotasi yang buruk. Sistem hukum Athena memungkinkan warga biasa mengambil peran dalam membawa perkara tertentu ke pengadilan.
Kesempatan itu tentu bisa digunakan demi kepentingan masyarakat, tetapi juga dapat disalahgunakan. Orang yang dianggap gemar membuat tuduhan, mencari keuntungan dari perkara, atau menggunakan sistem hukum untuk kepentingannya sendiri bisa mendapatkan reputasi sebagai sykophántēs.
Tetapi buah aranya masih belum ketemu. Di sinilah muncul sebuah cerita yang sangat terkenal.
Menurut penjelasan yang sudah beredar sejak zaman kuno, di Yunani pernah ada larangan membawa atau mengekspor buah ara dari Attika. Orang yang melaporkan pelanggaran itulah yang kemudian disebut “penunjuk buah ara” (sykophántēs).
Ceritanya cantik sekali. Begitu mendengarnya, semuanya seolah langsung beres. Sayangnya, sejarah sering tidak sebaik itu kepada orang yang suka jawaban rapi. Para ahli sudah lama mempermasalahkan penjelasan tersebut.
Tidak ada bukti yang cukup untuk memastikan bahwa praktik melaporkan ekspor buah ara benar-benar merupakan asal-usul kata sykophántēs. Bahkan orang Yunani pada zaman dahulu sudah mencoba menjelaskan hubungan aneh antara kata itu dan buah ara. Artinya, teka-tekinya sendiri sudah tua.
Jadi kalau ada yang mengatakan dengan yakin bahwa sycophant berarti penjilat karena dahulu orang Athena mengadukan penyelundup buah ara, aku akan menambahkan satu kalimat kecil: Belum tentu.
Kita tahu buah ara memang ada di dalam sejarah katanya. Kita tahu sykophántēs mempunyai hubungan dengan pengadu atau penuduh yang reputasinya buruk dalam masyarakat Athena.
Namun, mengapa tepatnya buah ara bisa masuk ke dalam kata tersebut, jawabannya tidak sesederhana legenda yang sering diceritakan.
Dan menurutku justru bagian itu yang menyenangkan.
Sebuah kata bisa bertahan ribuan tahun sementara alasan pertama manusia menciptakannya malah hilang.
Perjalanannya juga belum selesai di Yunani. Kata itu kemudian masuk ke bahasa-bahasa Eropa. Dalam bahasa Inggris, sycophant tercatat sejak abad ke-16.
Maknanya kemudian bergeser. Dari orang yang mempunyai reputasi sebagai pengadu atau penuduh yang tidak terpuji, kata itu akhirnya berkembang menjadi sebutan bagi orang yang merendahkan diri, mencari muka, dan memuji orang lain demi kepentingannya sendiri.
Itulah sycophant yang kita kenal sekarang.
Ngomong-ngomong soal penjilat, AI juga katanya berpotensi seperti itu.
Jadi, bijak-bijaklah dengan kesimpulan yang dibuatnya, jika kalian kebetulan sering mengandalkan AI untuk penyelesaian masalah.
Lucunya, manusianya berubah, begitu pula masyarakat dan sistem hukumnya. Bahasanya pun berpindah dari satu zaman ke zaman lain. Tetapi buah aranya tetap menempel di dalam kata tersebut.
Padahal buahnya sendiri tidak melakukan apa-apa. Ia cuma tumbuh di pohon, matang, lalu dimakan orang. Dua ribu tahun lebih kemudian, reputasinya masih ikut terseret gara-gara tingkah manusia.
Kasihan juga buah ara. Padahal, manfaatnya begitu besar ketika musim panas tiba.