Ketika senja perlahan menghilang dan cahaya angkasa belum cukup untuk menerangi kegelapan, orang lebih dulu akrab dengan api. Ini bukan tugas yang mudah, karena api harus dijaga dan dikendalikan agar tidak padam, tetapi juga jangan sampai membesar, hingga menghancurkan.
Karena itu, mereka membuat tempat khusus. Kadang hanya berupa beberapa susunan batu, atau menggali lubang di tanah, sampai tanah liat yang dibentuk mengelilingi bara. Dari sanalah lahir tungku api.
Di dekat nyala tungku, aktivitas hidup mulai berpusat. Di situ mereka bertahan hidup, menjauhkan diri dari binatang buas, hingga tempat melakukan berbagai percobaan, dan perlahan membangun peradaban.
Dari kebersamaan itu, mereka tampaknya juga belajar berorganisasi. Karena api tidak mungkin hadir begitu saja. Kayu harus dikumpulkan, dipotong, dikeringkan, lalu ditempatkan dengan benar, agar nyalanya dapat bertahan.
Mungkin karena itulah, di hampir setiap bangsa, api selalu diperlakukan dengan cara yang istimewa. Ada yang menjadikannya simbol pengetahuan, menghubungkannya dengan para dewa, atau menjadikannya tempat berkumpul yang sakral.
Dalam mitologi Yunani karya Hesiodos, sekitar 700 SM, misalnya, Prometheus diceritakan mencuri api dari para dewa untuk diberikan kepada manusia. Kisah itu mungkin hanya legenda, tetapi cukup untuk menunjukkan betapa pentingnya peran api, sebagai lambang perubahan hidup.
Sejak orang mulai menjaga bara di dalam tungku, kehidupan perlahan berubah. Makanan yang sebelumnya dimakan mentah mulai dimasak. Hari yang gelap menjadi lebih panjang karena ada cahaya. Dingin mulai dapat dilawan.
Dari api pula orang belajar membakar tanah liat menjadi gerabah, mengolah logam, hingga menciptakan berbagai peralatan yang membantu kehidupan mereka sehari-hari.
Pada rumah-rumah lama di Eropa, musim dingin identik dengan cerobong asap di perapian. Menu-menu di musim yang banyak menuntut energi ini sangat terbantu dengan nyala api di tungku.
Panci dapat diletakkan dekat bara selama berjam-jam, sementara penghuni rumah melakukan pekerjaan lain. Tidak ada bunyi timer. Ketika mereka kembali, makanan sudah perlahan matang, dengan aroma yang menggugah selera, tinggal menyajikannya dan siap makan bersama.
Apa pun masakannya, rasa lapar membuat isi panci menjadi nikmat luar biasa!
Di banyak daerah Nusantara, tungku api juga berperan penting. Sebelum kompor masuk ke rumah-rumah, dapur pernah dipenuhi aroma asap kayu, suara ranting terbakar, dan panci atau kuali besar berisi air yang dibiarkan tetap berada di atas perapian.
Bahkan sebagian makanan tradisional lahir dari cara memasak seperti ala musim dingin di Eropa. Kaldu, gulai, dan berbagai masakan rumahan yang perlu digodok dalam waktu lama. Tungku api adalah jawabannya.
Panasnya tidak selalu besar, tetapi membantu bumbu perlahan meresap. Mungkin karena itulah, sampai hari ini banyak orang masih merasa makanan dengan arang bakar memiliki rasa yang berbeda. Contohnya ubi, ikan, ayam, pepes, dan sebagainya.
Sebagai nostalgia, sebelum televisi dan telepon memenuhi rumah, masyarakat pedesaan dulu sering berkumpul dan berbicara di dekat tungku, berbagi cerita, atau sekadar diam sambil memperhatikan nyala kayu yang perlahan menjadi arang.
Hari ini, kita memiliki dapur yang dipenuhi peralatan. Kompor gas, microwave, oven listrik, sampai alat memasak otomatis yang membuat makanan dapat disiapkan dalam hitungan menit.
Akan tetapi, di tengah semua kemudahan itu, orang tetap kembali mencari hubungan dengan api. Contohnya, restoran barbeku tak pernah sepi. Piza oven kayu masih dianggap istimewa. Atau ada yang sengaja menikmati suara kayu terbakar dari komputer, hanya untuk mencari ketenangan.
Contoh yang sangat dekat dengan kita, menjelang Iduladha, selalu ada aroma arang dan daging bakar yang mengudara. Wangi sedap yang membuat perut meronta itu seperti susul-menyusul, dari halaman rumah warga hingga sudut-sudut kampung.
Kadang, masyarakat luas berkumpul di dekat bara, ada ibu-ibu pengajian bergotong-royong membuat sate, berbagi makanan, dan menghabiskan malam bersama.
Meski zaman sudah berubah, tradisi hajatan seperti itu tetap ada, dan mengingatkan kita tentang arti kebersamaan. Karena sejak awal perabadan, di dekat tungku api itulah sesuatu dimulai.
Selamat Iduladha bagi para pembaca yang merayakannya. Semoga hari-hari hangat bersama keluarga dan orang-orang terdekat selalu membawa kedamaian, seperti riwayat bara api dalam tungku, yang tidak hanya menghadirkan kehangatan, makanan, kemajuan, tetapi juga transformasi dan identitas.