Lebih dari 2.500 tahun lalu, seseorang menuliskan namanya pada sebuah cawan. Kita kemudian menamankannya Cawan Manie. Kita tidak tahu seperti apa wajah orang itu, bagaimana kehidupannya, atau apakah ia pernah membayangkan bahwa tulisannya akan dibaca kembali ribuan tahun kemudian. Yang sampai kepada kita hari ini bahkan bukan cawannya yang utuh.
Di kawasan suci kuno Fondo Iozzino, Pompeii, para arkeolog menemukan pecahan keramik hitam Etruska (bucchero) yang masih menyimpan sebagian inskripsi kepemilikan. Tulisan yang berhasil dibaca itu kurang lebih berbunyi:
Aku cawan milik Manie. Jangan ambil aku.
Kalimat tersebut mungkin bukan tulisan paling penting yang pernah dibuat manusia. Namun, justru karena kesederhanaannya, aku merasa pecahan kecil itu mengajukan pertanyaan yang jauh lebih besar: sejak kapan orang mulai menuliskan namanya, dan mengapa keinginan meninggalkan jejak itu bertahan sampai sekarang?
ISI ARTIKEL
Misteri Cawan Manie
Aku langsung berpikir, memangnya waktu itu cawan suka hilang? Sering tertukar? Atau dipakai orang lain?
Akan tetapi, kita tidak mempunyai bukti bahwa cawan Manie pernah dicuri atau Pompeii kuno sedang mengalami wabah kehilangan peralatan makan.
Apalagi, pecahan tersebut ditemukan di kawasan sakral, sehingga kita harus berhati-hati menafsirkan alasan di balik inskripsinya. Yang pasti, seseorang merasa perlu menghubungkan sebuah nama dengan sebuah benda melalui tulisan.
Sekadar catatan, kita sering mengenal sejarah tulisan melalui sesuatu yang besar. Seperti prasasti raja, hukum, kitab keagamaan, monumen, atau karya sastra yang berhasil bertahan selama berabad-abad. Wajar saja, karena benda-benda semacam itulah yang biasanya masuk buku sejarah.
Namun, sebuah pecahan cawan bertuliskan nama pemiliknya membuka pintu yang berbeda. Tiba-tiba, kita tidak sedang berhadapan dengan kerajaan atau peperangan, melainkan dengan seseorang yang mempunyai barang dan ingin orang lain mengetahui siapa pemiliknya.
Manie tidak perlu berdiri di samping cawan itu sambil menjaganya. Nama yang tergores di permukaannya sudah mengambil alih sebagian tugas tersebut.
Dari situ, aku mulai bertanya-tanya: sejak kapan manusia menuliskan namanya? Lebih tepatnya kapan nama seseorang mulai masuk ke dalam tulisan yang masih bisa kita baca sekarang?
Pertanyaannya harus dibatasi seperti itu karena manusia hampir pasti sudah saling memberi nama jauh sebelum mengenal aksara. Sayangnya, suara tidak meninggalkan artefak. Kita bisa menemukan tulang, perkakas batu, sisa perapian atau lukisan gua dari masa prasejarah, tetapi tidak mungkin menggali panggilan seorang ibu kepada anaknya yang hidup sepuluh ribu tahun lalu.
Nama yang diucapkan telah lenyap bersama suara. Namun, nama yang ditulis seseorang mempunyai nasib berbeda. Untuk menemukan jejak itu, kita harus mundur jauh sebelum masa Manie, menuju Mesopotamia pada akhir milenium keempat sebelum Masehi.
Ketika Angka Mulai Membutuhkan Nama
Sekitar 3300 SM, di kota-kota awal Mesopotamia, penduduk di sana sudah menggunakan sistem tanda yang kemudian berkembang menjadi tulisan kuneiform.
Kalau membayangkan salah satu penemuan terpenting dalam sejarah peradaban, mungkin kita berharap tulisan pertama digunakan untuk mencatat sesuatu yang menggetarkan, seperti kisah penciptaan dunia, cinta, kematian, atau setidaknya kemenangan seorang penguasa.
Ternyata banyak catatan paling awal yang bertahan, isinya jauh lebih praktis. Mereka mencatat persediaan jelai, ternak, jatah dan berbagai hitungan administratif.
Aku justru menyukai bagian ini. Peradaban waktu itu berhasil menciptakan cara, membuat bahasa meninggalkan suara. Lalu salah satu urusan yang perlu dibereskan supaya tidak terjadi sengketa adalah pembukuan.
Asumsinya, masyarakat berkembang dengan berbagai kebutuhan yang semakin besar. Seperti kita saat ini, mereka juga menghadapi persoalan yang tidak sederhana.
Berapa banyak hasil pertanian yang tersedia? Apa yang sudah dibagikan? Siapa menerima jatah? Dari mana barang datang dan ke mana perginya? Sementara, ingatan seseorang mempunyai batas.
Di sinilah angka dan aksara bertemu dengan sangat alami. Bilangan dapat menjelaskan jumlah, dan catatan administratif pada akhirnya membubuhkan identitas seseorang di belakang hitungan tersebut.
Salah satu contoh yang paling sering dibicarakan dan terkenal adalah Kushim. Dalam catatan yang berhubungan dengan jelai, dan muncul pada tablet proto-kuneiform dari Uruk (dibaca Kušim).
Namanya kerap disebut sebagai orang pertama dalam sejarah penulisan yang kita ketahui. Masalahnya, kita belum boleh memberikan gelar itu kepadanya.
Para ahli masih memperdebatkan apakah Kushim benar-benar nama seorang individu. Ada kemungkinan tanda tersebut merujuk pada jabatan atau institusi. Jadi, kalau suatu hari kita membuat daftar “sepuluh manusia pertama yang namanya tercatat dalam sejarah”, Kushim sebaiknya diberi tanda bintang.
Namun, keraguan mengenai satu nama tidak mengubah gambaran besarnya. Dari masa yang sangat awal, memang sudah muncul identitas individu dalam catatan tertulis. Sebuah tablet dari sekitar 3100 SM, misalnya, memuat Gal-Sal serta dua nama lain yang dibaca En-pap X dan Sukkalgir.
Aku membayangkan betapa sedikitnya yang kita ketahui tentang mereka. Tidak ada wajah, suara, kebiasaan sehari-hari, apalagi biografi lengkap. Namun, beberapa tanda pada tanah liat membuat nama mereka bertahan selama lebih dari lima ribu tahun.
Yang lebih menarik, mereka tidak sampai kepada kita karena berdiri di atas panggung sejarah. Jejak tersebut muncul karena seseorang mencatat.
Sebuah Nama Menempel pada Benda
Dari Mesopotamia, kita bisa kembali kepada cawan Manie dengan pemahaman yang sedikit berbeda.
Di luar fungsi ingatan seseorang, tulisan sejak awal sudah mempunyai hubungan erat dengan kebutuhan untuk menyimpan informasi. Ketika sebuah nama ditempelkan pada benda, kemampuan itu menjadi sangat konkret. Pemiliknya boleh pergi, tetapi keterangannya tetap ada.
Hari ini, kita melakukan hal serupa tanpa menganggapnya istimewa:
- Anak sekolah menulis nama pada buku.
- Koper diberi label sebelum masuk bagasi pesawat.
- Barang yang mudah tertukar sering ditandai.
- Seseorang yang menulis nama pada makanan di lemari es bersama, terutama kalau sudah beberapa kali mendapati makan siangnya mendadak disantap orang lain.
Aku tidak tahu apakah Manie menghadapi persoalan semacam itu, dan kita memang tidak boleh berpura-pura tahu. Namun, prinsip dasarnya mudah dikenali: aksara memungkinkan hubungan antara seseorang dan sebuah benda diketahui tanpa kehadiran pemiliknya.
Di sinilah menurutku tulisan mulai memperlihatkan salah satu kekuatannya yang paling sederhana sekaligus luar biasa. Ia membuat seseorang dapat meninggalkan sedikit dirinya pada sesuatu yang berada di luar tubuh.
Tentu saja, nama bukan satu-satunya cara menandai kepemilikan. Jauh sebelum mengenal aksara, orang sudah menggunakan simbol, bentuk, posisi, atau tanda lain. Bahkan setelah tulisan berkembang, tidak semua orang bisa membaca dan menulis.
Karena itu, sejarah nama tertulis tidak boleh disamakan begitu saja dengan sejarah kepemilikan. Aksara hanya menambahkan kemungkinan baru. Dan apa yang terukir di sana berkembang jauh melampaui jejak itu sendiri.
Bukan Hanya Raja yang Punya Nama
Kalau sejarah hanya dibaca melalui monumen, raja tampaknya memenangkan perlombaan meninggalkan nama. Karena raja dengan sendirinya mempunyai modal. Ia bisa dengan mudah membeli batu besar, membayar tenaga kerja, juru tulis, atau membuat bangunan monumental dan kekuasaan, memastikan gelar mereka ditampilkan berulang kali di batu prasasti.
Seorang petani atau pedagang biasa tentu sulit bersaing dengan raja yang dapat memerintahkan namanya dipahat pada bangunan raksasa.
Akibatnya, ketika memikirkan Mesir kuno misalnya, kita spontan mengingat Tutankhamun, Ramses, atau Cleopatra. Dari Romawi, muncul Julius Caesar dan Kaisar Augustus. Nama besar mudah bertahan karena sejak awal memang dibuat agar terlihat.
Meskipun begitu, dunia menulis menggambarkan sesuatu yang patut disimak. Ia jauh lebih ramai daripada daftar penguasa. Tablet administratif Mesopotamia yang mencatat individu dalam kegiatan ekonomi dan pembagian barang menjadi salah satu contoh bagaimana tulisan mampu bertahan.
Ada lagi, di Mesir, scarab dan segel dapat memuat nama serta gelar pejabat, kemudian digunakan dalam berbagai urusan administratif. Ada juru tulis, penerima barang, pemilik, pekerja, dan orang-orang yang identitasnya perlu diketahui karena mereka terlibat dalam suatu sistem.
Di sana, tercatat siapa penerima barang itu? Mana pejabat yang berwenang? Terutama pada sekelompok kumpulan masyarakat, di mana semua orang tidak lagi saling mengenal.
Aku merasa bagian ini penting karena sejarah tulisan sering tampak seperti sejarah orang-orang besar. Padahal, aksara juga memberi kita jalan untuk bertemu warga biasa yang barangkali tidak pernah membayangkan dirinya akan menjadi bagian dari “sejarah”. Mereka hanya menjalani fungsinya. Lalu namanya kebetulan selamat.
Pompeii, Cawan Manie, dan Kita
Kalau ingin bertemu sisi dunia kuno yang terasa lebih gaduh, Pompeii adalah tempat yang menyenangkan untuk diceritakan, setidaknya melalui peninggalannya.
Letusan Vesuvius pada tahun 79 M menghancurkan kehidupan kota, tetapi lapisan material vulkanik yang menutupinya juga membantu mempertahankan jejak sehari-hari dalam jumlah luar biasa. Di antara yang selamat, terdapat grafiti pada dinding.
Isinya bermacam-macam. Ada nama, salam, dukungan politik, ungkapan cinta, ejekan, komentar mengenai gladiator, hitungan, dan berbagai pesan lainnya. Sebagaimana ukiran di Cawan Manie.
Ini menunjukkan bahwa penduduk dunia Romawi tidak menghabiskan seluruh waktunya dengan berdiri anggun memakai toga sambil memikirkan masa depan kekaisaran. Mereka juga bergosip, jatuh cinta, mendukung seseorang, kesal kepada orang lain, dan rupanya suka menulis di tembok.
Bagiku, grafiti semacam ini mempunyai daya tarik tersendiri, karena ia memperlihatkan lapisan kehidupan yang berbeda dari prasasti resmi. Monumen biasanya sudah memikirkan citra yang hendak ditampilkan. Coretan spontan tidak selalu mempunyai ambisi sebesar itu.
Namun, sebuah nama dapat menjadi sangat berharga ketika sebagian besar kehidupan pemiliknya sudah hilang. Penelitian terhadap grafiti Pompeii bahkan membantu para arkeolog menafsirkan keberadaan orang-orang non-elite, termasuk perempuan, yang jauh lebih sulit ditemukan jika kita hanya mengikuti sumber monumental.
Tentu saja, kita mungkin tetap tidak tahu banyak mengenai kehidupan di sana. Setidaknya, sebagian dari mereka tidak lagi sepenuhnya anonim.
Ketika Orangnya Pergi
Ada satu tempat di mana nama menghadapi ketidakhadiran dalam bentuk paling mutlak: makam.
Tradisi pemakaman berbeda dari satu kebudayaan ke kebudayaan lain, begitu pula makna yang diberikan kepada nama. Kita tidak bisa menyatukan semuanya lalu mengatakan manusia kuno menuliskan identitas pada makam karena mempunyai satu gagasan universal mengenai keabadian.
Namun, dari sudut pandang kita hari ini, akibat materialnya jelas. Ketika sebuah inskripsi bertahan, orang yang telah meninggal dapat tetap dikenali melalui namanya. Hal itu mungkin terdengar biasa sampai kita membayangkan kebalikannya.
Sebagian besar manusia yang pernah hidup di dunia tidak meninggalkan nama yang dapat kita ketahui. Mereka lahir, mempunyai keluarga, mungkin bekerja keras sepanjang hidup, mencintai seseorang, bertengkar, tertawa, merasa takut, kemudian meninggal.
Tidak ada tulisan yang berhasil membawa identitas mereka sampai kepada kita. Mereka bukan tidak penting. Jejaknya saja yang hilang.
Karena itu, aku selalu merasa ada sesuatu yang berbeda ketika arkeologi bukan hanya menemukan “seorang manusia”, tetapi seseorang yang namanya dapat dibaca. Kita memang belum mengenalnya. Satu kata tidak akan mengembalikan seluruh kehidupan. Namun jarak antara “sisa manusia dari masa lampau” dan “seseorang bernama…” terasa tidak sama.
Di sinilah tulisan melakukan sesuatu yang tidak sanggup dilakukan suara sendirian.
Ucapan membutuhkan dua pihak yang hidup pada waktu yang sama: seseorang berbicara dan yang lain mendengar. Tulisan tidak terikat aturan tersebut. Ia dapat menunggu pembacanya. Kadang-kadang sangat lama.
Nama Kita Sekarang Ada di Mana-mana
Jika ditelusuri, nama ada di mana-mana: di paspor, kartu, surat, buku, kontrak, alamat surel, akun media sosial, profil, dokumen elektronik, dan entah berapa banyak basis data.
Dalam satu hari, seseorang dapat meninggalkan lebih banyak jejak tertulis daripada yang mungkin dibuat sebagian orang kuno sepanjang hidupnya.
Tentu tidak semuanya akan bertahan. Justru dunia digital mempunyai paradoks sendiri. Sesuatu dapat disalin jutaan kali dalam beberapa menit, tetapi juga dapat lenyap ketika server ditutup, format tidak lagi terbaca, akun dihapus, atau perusahaan tempat kita menitipkan data berhenti beroperasi.
Di sini ironinya. Tanah liat yang dibakar kadang-kadang mempunyai umur lebih panjang daripada teknologi paling mutakhir.
Meski demikian, persoalan yang mengikuti nama tetap terasa akrab. Kita bahkan menciptakan username ketika nama biasa tidak cukup atau sudah digunakan orang lain.
Aku tidak ingin mengatakan bahwa akun internet merupakan kelanjutan langsung dari tablet Uruk, grafiti Pompeii, atau Cawan Manie. Jarak budaya dan teknologinya terlalu besar untuk disederhanakan seperti itu.
Namun, ada satu kemampuan tulisan yang terus dimanfaatkan dalam bentuk berbeda: identitas dapat berada di tempat lain sementara tubuh kita tidak ada di sana. Saat seseorang membaca artikel ini, misalnya, aku tidak berada di sampingnya. Barangkali kita bahkan tidak pernah bertemu, tetapi kata-kata bisa sampai lebih dulu.
Cawan Manie: Potongan yang Masih Menyebut Nama Pemiliknya
Setelah perjalanan panjang dari Mesopotamia ke Pompeii, dari tablet dan segel menuju makam lalu layar, aku ingin kembali ke tempat kita memulai. Kepada pecahan Cawan Manie.
Kita masih tidak tahu siapa sebenarnya orang itu. Tidak ada alasan untuk mengarang wajah, pekerjaan, keluarga, ataupun kisah kehilangan cawannya. Bahkan ketidaktahuan tersebut menurutku merupakan bagian dari keindahan peninggalan benda bersejarah ini.
Meskipun yang tersisa hanya sedikit, tetapi nyata. Ada potongan cawan dengan nama, dan pesan agar benda itu tidak diambil.
Barangkali orang yang menorehkannya hanya sedang menyelesaikan persoalan yang sangat praktis. Tidak ada niat menjadi terkenal, apalagi berbicara kepada manusia yang hidup dua setengah milenium kemudian.
Namun, waktu mempunyai cara yang aneh dalam memilih apa yang disimpannya. Raja membangun monumen agar namanya dikenang. Manie mungkin hanya menandai sebuah benda.
Benda tersebut tidak menceritakan seluruh kehidupan pemiliknya. Ia hanya membuka celah kecil, sekilas saja. Dan ribuan tahun kemudian, ketika sekelompok arkeolog membaca potongan cawan yang ditemukan di tempat suci, pada reruntuhan Pompeii, pesan sederhana itu menjadi sangat bersahaja:
Aku Manie, aku menulis ini cawanku.