Blog: Sarana untuk Menjaga Semangat Literasiku Tetap Menyala

Beberapa teman lama pasti sudah tahu, aku pernah menjadi bloger sejak tahun 2005. Jadi, jagat perblogan (blogosfer) bukanlah hal yang asing buatku. Namun, mungkin ada yang bertanya, kenapa aku nge-blog, bahkan sampai hari ini? Bukankah blog bukan lagi tren di dunia digital?

Ya, benar. Blog rasanya sudah melewati masa jayanya sekitar 10-15 tahun silam.

Lantas, Kenapa Aku Masih Ngeblog?

Kenapa Aku Masih Ngeblog?

Sederhana saja. Pertama, karena blog adalah situs web juga, dengan penampilan dan fungsi yang nyaris sama. Tentu, sampai kapan pun, orang akan membutuhkan informasi di situs web atau blog.

Lalu alasan kedua, bagiku, membuat blog seperti membangun media bagi diri sendiri. Bukan hanya membangun, tetapi juga merawatnya. Aku selalu menganggap blog seperti FransiscaRipert.com ini adalah media yang perlu kujaga terus kredibilitasnya.

Kita memerlukan sebuah media untuk menyuarakan isi kepala, mengekspresikan diri, berkarya, dan melatih kemampuan literasi. Nah, saat konten-konten di media sosial atau TikTok terlalu pendek dan terbatas, blog adalah pelarianku untuk tetap “menyala” di jalur literasi. Terlebih ketika buku-bukuku masih dalam taraf hendak memikat penerbit, hehehe.

Di samping membiasakan diri untuk menulis secara ilmiah (kalau boleh dibilang begitu) dan ikut berkontribusi dalam dunia literasi Indonesia, tentu saja ada fungsi personal dari blog, yaitu sebagai dokumentasi kegiatan serta bacaaan-bacaanku.

Blog Pertamaku, Prasasti Hidupku

Blog Pertamaku, Prasasti Hidupku

Aku pertama menginjakkan kaki di Prancis pada Desember 2004, dalam keadaan tidak paham bahasanya. Ibaratnya tidak pernah belajar berenang, tetapi langsung nekat mencebur. Bingung, panik, tegang, nyaris putus asa. Namun, seperti kata Jenderal Julius Cesar, alea iacta est. Anak dadu sudah terlempar!

Aku harus mempelajari bahasa Prancis dengan cara yang paling berat, yaitu praktik langsung di usia yang tidak muda lagi.

Masyarakat Prancis fanatik dengan bahasanya. Itu bukan isapan jempol. Tidak peduli kita belum memahami bahasa Prancis, mereka tetap menerangkan apapun dengan bahasanya. Akibatnya, aku lebih banyak diam. Lantaran kendala bahasa ini, aku menjadi lamban beradaptasi, dalam arti kata, aku mengalami masa gegar budaya lebih lama.

Mulutku terkunci, tetapi untungnya pikiranku tidak. Sejak Desember 2005, aku meluncurkan blog bertajuk Senandung Mimosa, sekadar untuk mengusir sepi. Isinya puisi, esai, pengalaman selama menetap di Prancis, pemikiran, curhatan, dan campur aduk lainnya. Blog ini seperti prasasti hidupku yang sunyi.

Syukurlah, teman-teman di berbagai belahan dunia merespon baik dan asyik berinteraksi denganku. Kami saling bersilahturahmi setiap ada update. Rata-rata, aku menerima puluhan komentar di setiap tulisan. Aku makin yakin, bahwa aku memiliki ketertarikan (dan mungkin bakat) di dunia literasi, terutama kepenulisan.

Sayangnya, blog itu hanya seumur jagung. Tidak sampai setahun, tepatnya pada 4 Oktober 2006, aku sudah mempublikasikan tulisan perpisahan. Apa mau dikata, kesibukan bekerja kecil-kecilan membuatku tidak lagi sempat blogging.

Apalagi setelah berstatus sebagai istri, aku harus mengikuti kursus intensif bahasa Prancis. Kursus ini gratis, tetapi wajib. Sejak itu, aku menjadi murid berdedikasi yang hadir dari Senin sampai Jumat, dengan masa pendidikan 500 jam.

Prihatin Rendahnya Literasi Digital

Prihatin Rendahnya Literasi Digital

Vakum sebagai bloger selama kurun waktu 2006-2020 bukan berarti aku berhenti membaca berita di Indonesia. Sepanjang periode itu, aku tetap mengamati pesatnya perkembangan dunia siber. Dalam dua dasawarsa terakhir, informasi di internet makin melimpah ruah. Dari sana pula, muncul keprihatinanku.

Menurut laporan We Are Social, pada Januari 2022, terdapat 204,7 juta pengguna internet dari total 277,7 juta penduduk Indonesia. Artinya, sebanyak 73,7% penduduk kita sudah memiliki akses internet.

Sebenarnya, ini berita baik. Sayangnya, pada saat bersamaan, makin banyak beredar hoaks alias berita palsu. Ini masuk akal, karena di zaman digital ini, semua orang bisa menjadi media. Motivasinya bermacam-macam, tetapi yang terkuat mungkin ingin menjadi tenar atau uang.

Di pihak lain, media arus utama yang digadang-gadang sebagai teladan, sepertinya ikut terperosok dalam hasrat mengeruk keuntungan sebesar-besarnya di jagat maya.

Lihatlah, betapa banyak tampilan portal media besar yang dijejali iklan, isinya dibagi-bagi menjadi beberapa halaman (padahal lebih memudahkan bila dijadikan satu halaman saja), dan menggunakan teknik click bait (judul provokatif yang tidak sesuai isi).

Apa tujuannya? Besar kemungkinan, semua itu demi memaksimalkan penghasilan dari iklan. Entah institusi-institusi media itu sadar dampak negatifnya bagi warganet atau tidak.

Kita tahu, pancingan click bait ditambah keengganan warganet untuk membaca berita secara utuh (bisa jadi karena memang kurang suka membaca atau ingin menghemat kuota internet) membuat sebagian warganet cenderung menyimpulkan fakta hanya berdasarkan judul berita.

Berita-berita click bait semacam itu, dalam sejentik klik, langsung menyebar di grup-grup WhatsApp (WA). Bum!

Itulah mungkin yang membuat Kementerian Informasi dan Informatika (Keminfo) menggalakkan Program Literasi Digital. Pilarnya ada empat, yaitu:

  1. Keamanan digital
  2. Keterampilan digital
  3. Etika digital
  4. Budaya digital

Aku sangat mendukung program Keminfo ini. Sebab bagiku, segenap kemajuan teknologi informasi kita akan sia-sia, bahkan menjadi bumerang, bila masyarakatnya tidak melek keempat pilar tersebut. Warganet akan menjadi gampang diadu domba, ditipu, dieksploitasi, atau menjadi pelaku distribusi kebencian di dunia maya.

Mari Meneladani Prinsip Netral dan Objektif

Meneladani Prinsip Netral dan Objektif

Hal-hal negatif semacam itu sedang menjangkiti masyarakat kita. Selain minimnya keterampilan digital (pilar kedua) dalam mencari referensi yang valid, kita juga kerap bermasalah dengan miskinnya etika digital (pilar ketiga).

Aku pernah membaca, banyak hubungan pertemanan dan persaudaraan retak justru setelah mereka bergabung di grup medsos. Pemicunya bisa A risih dengan gambar-gambar iseng, B berbeda pandangan politik, C kewalahan lantaran memori ponselnya jadi penuh, atau D terganggu dengan notifikasi yang terus berbunyi.

Semua itu tanda-tanda bahwa etika digital masih dianggap enteng di kalangan warganet.

Aku sendiri tidak keberatan menjadi anggota grup. Namun, kalau ada sesuatu yang penting dan genting, aku lebih suka ditelepon atau di-SMS. Dengan begitu, aku langsung tahu tujuannya.

Teman-teman diaspora yang dekat denganku sudah maklum, di Prancis selama 2014-2020, aku harus mengurus sebuah penginapan. Profesi ini sangat menyita waktu dan tenagaku.

Lalu, pandemi membubarkan bisnis tersebut. Penginapan terpaksa dijual, aku pun mengganggur. Sedih sekaligus lega. Leganya, aku mulai merasa betapa nikmatnya waktu luang. Meskipun itu tidak berlangsung lama.

Setahun berselang, suamiku terjatuh dan membutuhkan perawatan khusus. Berangsur-angsur, profesiku beralih menjadi ibu rumah tangga sekaligus “perawat tetap” sampai sekarang.

Kehidupan yang kian monoton sungguh kontras dengan pikiran yang membutuhkan pelarian. Sehingga, kegiatan literasi belasan tahun silam, yang dulu pernah menjadi wadah aspirasiku, mengusik pikiranku. Selain itu, cemas dan gemas rasanya membaca angka-angka termutakhir.

Ini lo, berdasarkan survei Katadata Insight Center 2021, sebanyak 11,9 persen masyarakat mengaku berpartisipasi menyebarkan hoaks. Angka ini meningkat 11,2 persen dari tahun sebelumnya.

Gawatnya, berdasarkan survei Indeks Literasi Digital Nasional tahun 2021, terkuak bahwa acuan utama masyarakat dalam mengklarifikasi hoaks adalah melalui internet dan keluarga.

Mengapa gawat? Sebab, jika tingkat literasi digital ia atau anggota keluarganya rendah, hoaks jelas akan makin menggila. Jadi menurutku, penting untuk berkontribusi melalui media sendiri yang memegang prinsip objektif serta netral, seperti institusi media arus utama.

Suka atau Tidak, Ini Era Audiovisual

Suka atau Tidak, Ini Era Audiovisual

Dalam institusi media, semuanya jelas. Jika itu opini atau tulisan yang sifatnya subjektif, katakan opini. Jika itu cerpen, katakan dengan gamblang bahwa itu fiksi. Jika itu berita, sampaikan dengan metode 5W + 1H, netral, dan melalui narasumber yang berimbang. Inilah yang tidak aku lakukan di blog pertama.

Maka blog ini, blog kedua yang kubuat sejak 2020, harus lebih serius, baik dari sisi penampilan maupun kontennya. Masalahnya, dunia blog sudah banyak berkembang.

Menurut data Technorati, hanya ada sekitar 57 juta blog di dunia setelah aku berhenti ngeblog (2006). Pada tahun aku mulai kembali blogging (2020), jumlah itu meningkat berlipat-lipat. Apalagi sekarang (2022), ada lebih dari 600 juta blog yang aktif.

Jadi memang harus serius, karena jumlah persaingan dalam meraih pembaca sudah 12 kali lebih ketat!

Itu masih persaingan dengan sesama bloger, belum dengan platform-platform lainnya. Aku perhatikan, tren blog (teks dan gambar) sudah bergeser menjadi media sosial (gambar dan tulisan), lalu bergeser lagi menjadi video dan podcast. Artinya, kebutuhan zaman sekarang bukan lagi teks dan foto.

Maka, selain membuat blog yang lebih profesional, aku juga berusaha mengikuti zaman dengan Instagram dan rutin berbagi video di YouTube. Walaupun isinya masih amatir, seputar remah-remah pengetahuan, ditambah beberapa dokumentasi kehidupan kami di sini. Tetapi, setidaknya sekarang media-mediaku lebih rapi dan terarah.

Dan demi berandil dalam peningkatan literasi di Indonesia, aku memilih tema sejarah, aksara, dan angka. Bahasannya memang kurang populer. Tetapi, aku merasa perlu menyampaikan pengetahuan secara jujur, terbuka, dan terdokumentasi.

Nuansa Literasi di Blog Kedua

Nuansa Literasi di Blog Kedua

Kendati cenderung bersifat personal, di blog kedua, aku berhati-hati memakai data. Karena aku tahu, segala karut-marut dan menjamurnya hoaks berawal dari sumber yang tidak jelas.

Kita perlu keterampilan digital dalam menyaring sumber-sumber informasi yang valid. Dalam hal ini, bahkan kita dianjurkan untuk tidak mempercayai kepala kita sendiri.

Sebab, ada banyak potensi kekeliruan dalam otak kita saat mengolah informasi. Bisa jadi karena salah kutip, salah konteks, daya ingat yang makin lemah seiring pertambahan usia, atau cara pengambilan kesimpulan yang salah.

Itulah mengapa, kecuali fiksi atau cerita ringan mengenai pengalaman sendiri, aku menghindari mengandalkan isi pikiranku yang cenderung subjektif atau bias. Dalam tulisan blog, aku selalu membubuhkan referensi tepercaya yang bisa diakses oleh umum. Sehingga, sewaktu-waktu pembaca dapat menelusuri kebenaran maupun kesalahan tulisan tersebut.

Cukup terbuka dan adil, bukan?

Terima kasih sudah membaca sampai bagian ini. Kalau ada waktu, silakan baca-baca tulisanku yang lain, supaya blog ini tetap “menyala” dan memberi kontribusi pengetahuan kepada siapapun yang membutuhkannya. Salam literasi!

Yuk, bagikan tulisan ini di...

Leave a Comment