Kerja: Catatan dari Ukiran Batu Hingga Era Digital

Mengapa manusia tidak pernah benar-benar berhenti bekerja? Dalam bahasa Prancis kata travail, bisa berarti bekerja, atau sekaligus keluhan. C’est du travail! Seolah sejak awal, bahasa sudah memberi kode bahwa kerja bukan sekadar aktivitas, tetapi mengandung beban.

Namun, tidak semua peradaban memandang kerja sebagai hukuman. Di Mesopotamia kuno, kerja sudah tercatat dalam hukum. Dalam Kode Hammurabi (sekitar 1754 SM), upah pekerja diatur dengan jelas. Kode itu memuat tarif untuk tukang bangunan, dokter, bahkan penggembala.

Artinya, kerja bukan sekadar kewajiban. Kerja diakui bernilai dan memiliki harga.

Pada suatu masa, sebelum jam menjadi penguasa, manusia bekerja mengikuti matahari. Petani pergi ke ladang saat terang dan berhenti saat gelap. Reformasi Protestan membawa gagasan baru, tepatnya abad ke-16, kerja dirumuskan sebagai panggilan moral. Di sinilah kapitalisme menemukan bahan bakarnya.

Max Weber menyebut reformasi ini sebagai etika kerja Protestan. Kerja bukan lagi sekadar mencari nafkah, tetapi juga tanda berkah. Menganggur menjadi sesuatu yang mencurigakan.

Konsep waktu berubah drastis ketika Revolusi Industri hadir pada abad ke-18. Pabrik tidak peduli pada sinar matahari. Mesin tidak butuh tidur, selama masih berfungsi. Sejak itulah manusia tidak hanya bekerja, tetapi bekerja berdasarkan jam.

Orang akan bangga saat bisa mendapat upah. Kerja menjadi identitas, bahkan sering menjadi pertanyaan kedua setelah ditanya nama. Padahal di Roma kuno, kaum aristokrat justru menghindari kerja fisik. Kerja dianggap urusan budak. Kaum elit lebih menghargai waktu luang untuk berpikir, membaca, dan berdiskusi.

Di Jepang, yang masyarakatnya produktif dan hobi bekerja, ada istilah resmi yang diakui hukum, disebut karoshi. Artinya, orang mati karena terlalu banyak bekerja. Kata “karoshi” menjelaskan pada kita, bahwa candu pada pekerjaan bisa membunuh.

Pada awal abad ke-20, Frederick Winslow Taylor memperkenalkan manajemen ilmiah. Tujuannya untuk efisiensi. Manusia diperlakukan seperti bagian dari mesin. Setiap gerakan pekerja diukur, setiap detik dihitung. Kerja mandor digantikan sistem.

Evolusi kerja terus berlanjut. Dulu, karyawan pulang berarti pekerjaan hari itu dianggap selesai. Sekarang, kerja datang semena-mena ke perangkat digital kita, bahkan saat perangkat sedang tidak aktif. Notifikasi tidak pernah tidur. Kata fleksibel dilekatkan. Perbedaan waktu bukan lagi hambatan.

Orang bekerja tanpa perlu bertemu, bahkan dari balik piyama, di belahan benua berbeda, selama kuota internetnya tersedia.

Lalu sebenarnya, mengapa kita bekerja?

Kerja bukan hanya soal uang. Dalam kamp tahanan perang, Viktor Frankl mencatat bahwa orang yang diberi tugas sederhana, bahkan sekadar menyapu, memiliki peluang bertahan hidup lebih besar daripada mereka yang kehilangan tujuan.

Dalam agama, kerja disebut sebagai ibadah. Tanpa penyalin naskah di biara abad pertengahan mungkin akan begitu banyak teks klasik yang akan hilang. Intinya, bekerja itu berkah, asal sesuai dengan kapasitas, kemampuan, serta tujuannya.

Yuk, bagikan tulisan ini di...

Leave a Comment