Membahas kemegahan penguasa Romawi dari jauh, kita akan berpikir bahwa mereka memiliki segalanya. Dari ketika jalan-jalan batu menghubungkan benua dan pasukan bergerak atas satu perintah, sampai para kaisar yang hidup dalam kemewahan yang hampir tak terbayangkan.
Namun, di balik toga putih dan mahkota kemenangan, ada satu kegelisahan yang tidak bisa dibungkam. Sebuah ketakutan tentang cepatnya jarum waktu.
Banyak kaisar Romawi berakhir di usia dini. Bukan karena tubuh mereka menyerah, tetapi pengkhianatan, intrik, dan kekerasan telah mempercepat umur kekuasaan mereka.
Tokoh seperti Caligula bahkan tidak sempat mengecap usia tiga puluh. Sementara Nero, terpojok oleh beberapa kudeta gubernur berpengaruh, dipaksa bunuh diri di usia tiga puluh tahun, dibantu oleh juru tulisnya, Epaphroditus.
Augustus, menjadi salah satu pengecualian yang hampir terasa ganjil. Kaisar pertama Romawi ini hidup hingga lebih dari tujuh puluh tahun, meskipun sejak muda dikenal bertubuh rapuh.
Bagaimanapun, saat masih berkuasa, orang-orang Romawi ini berhasil menciptakan budaya. Membangun megah peradaban termal. Membuat banyak ilusi tentang keabadian. Walaupun saat itu belum ada laboratorium yang memberikan analisis soal mandi, mereka sudah menguasai teknologi permandian kolam air hangat.
Selain itu, mereka hobi minum anggur. Soal minuman fermentasi ini, memang diadopsi dari dunia Yunani, sebagai simbol kegembiraan, pelepasan, bahkan kedekatan dengan sesuatu yang dianggap ilahi.
Anggur, bagi orang Romawi, bukan sekadar cairan yang dituangkan ke dalam cawan. Ia adalah bagian dari kehidupan itu sendiri. Minuman ini hadir dalam setiap kesempatan. Baik itu perjamuan, ritual, atau perayaan kemenangan, bahkan dalam percakapan sehari-hari.
Namun, anggur yang mereka minum bukanlah anggur seperti yang kita kenal sekarang. Ia sering kali dicampur, diolah, diperkaya dengan berbagai bahan sebagai penambah rasa.
Ada minuman pembuka yang disebut mulsum. Ini semacam anggur yang dipadukan dengan madu. Rasanya manis, hangat, dan lembut di lidah. Dalam bayangan filosofis mereka, madu dapat bertahan lama. Daya tahan madu lalu diartikan sebagai petunjuk akan sesuatu yang awet. Ini cukup masuk akal.
Di sisi lain, ada pula posca yang terbuat dari cuka anggur yang diencerkan dengan air, rasanya asam dan ringan. Minuman ini, selain dikonsumsi kaum elit, juga oleh para tentara. Walaupun belum mengenal istilah metabolisme, tetapi mereka menyakini tubuh harus dijaga keseimbangannya. Termasuk dengan rajin mandi.
Namun, di balik kemewahan cawan perak dan rasa manis anggur, tersimpan satu ironi. Banyak anggur Romawi disimpan atau diproses dalam wadah yang mengandung timbal. Bahkan, dalam beberapa kasus, mereka sengaja memasak anggur dalam wadah tersebut untuk menghasilkan rasa manis yang khas.
Padahal, di balik citarasa istimewa itu, tersembunyi zat yang perlahan meracuni tubuh mereka. Di titik inilah, sejarah terasa begitu dekat dengan kehidupan masa kini. Kita ambil contoh perokok, nikmat sesaat ini terbukti telah membunuh jutaan orang di dunia.
Meski demikian, tidak semua yang mereka lakukan keliru. Madu yang mereka gunakan memang memiliki sifat menenangkan dan melindungi. Cuka yang diminum pun dapat membantu pencernaan.
Anggur sendiri mengandung zat yang dalam dunia modern kita kenal sebagai antioksidan. Jadi, di tengah keterbatasan pengetahuan, mereka sudah menyentuh sebagian kecil dari kebenaran.
Hari ini, kita memang tidak seperti para kaisar Romawi, duduk di istana marmer atau meminum anggur dari cawan emas. Namun, kita memiliki minuman versi kita sendiri, seperti ramuan herbal, air dengan irisan lemon dan jahe yang ditata rapi bersama daun-daun beraroma dalam botol bening, dan masih banyak lagi minuman detoks lainnya.
Di saat yang sama, kita sering terbius oleh iklan, berharap menemukan kandungan jitu yang bisa membuat tubuh sehat, penampilan sesempurna artis ternama, sekaligus terlihat awet muda.
Dalam hasrat ingin menunda penuaan, mungkin yang kita cari juga tidak jauh berbeda dengan para pembesar yang sudah sampai di puncak digdaya. Hanya berbeda kemasan.
Jika kita kembali ke dapur kita sendiri, ke segelas air yang kita minum setiap hari, kita mungkin akan menemukan jawaban yang lebih jujur. Bahwa tidak ada satu minuman pun yang bisa menghentikan waktu.
Namun, dengan kesadaran saat masih muda, kita bisa membantu tubuh agar masih sehat ketika memasuki usia senja. Terutama kita perlu berkarya secara nyata, seperti para penguasa Romawi yang meninggalkan sebuah peradaban besar bagi dunia.