
Hari Minggu kemarin, 13 Agustus 2017, seperti biasa, pagi-pagi aku sudah sibuk mengurusi tamu penginapan yang pamitan. Juragan berkata, “Siang ini, kamu enggak usah masak, deh.”
Warga Indonesia penikmat aksara yang tinggal di Kota Arles, Prancis

Hari Minggu kemarin, 13 Agustus 2017, seperti biasa, pagi-pagi aku sudah sibuk mengurusi tamu penginapan yang pamitan. Juragan berkata, “Siang ini, kamu enggak usah masak, deh.”

Di penghujung bulan Januari, shio monyet segera meletakkan posisi, ayam api bertandang menghampiri. Sesama binatang, yang diberi kuasa oleh penanggalan lunar selama 12 bulan, menjadi simbol perjalanan keberuntungan. Unggas ayam dikenal secara universal. Siapapun pernah merasakan lezat dagingnya, kecuali dia tidak doyan atau ada pantangan.

Ketika pertama kali aku bertatap muka dengannya, bulan Desember, pohon ini berdiri kaku di depan halaman yang bakal menjadi tempat aku menetap. Hanya ada ranting-ranting yang membisu dalam senyap. Penuh rasa sendu, kutegur dalam diam, udara yang menusuk tulang dan kesunyian panjang, seketika mengintimidasi perasaanku. Kelu.

Dalam keseharian, sering kita mendengar kata empat puluh atau angka 40. Entah itu empat puluh menit, empat puluh jam, empat puluh hari, empat puluh malam, empat puluh minggu, empat puluh tahun, dan seterusnya.

Pada hari Rabu, 9 Maret 2016, para ahli astronomi mengagendakan sebuah fenomena. Hari istimewa di mana piringan matahari tertutup oleh perjalanan bulan. Fenomena indah yang kita namakan gerhana matahari total ini kembali melintasi persada Indonesia.