Peradaban Kekaisaran Gupta di India: Pengaruhnya Sampai Indonesia

Ketika mendengar nama India Kuno, banyak orang langsung teringat kisah Mahabarata atau Ramayana. Sebagian lagi mungkin mengenal tokoh-tokoh seperti Arjuna, Bima, dan Gatotkaca yang sering dilakonkan dalam pertunjukan wayang. Namun, Kaisar Gupta? Rasanya, jarang ada yang tahu.

Padahal, di bawah kekaisaran tersebut, peradaban India begitu maju di antara abad 4 hingga 6 Masehi.

Jika kita tarik mundur lagi, sebagian besar warisan budaya India sebenarnya telah berkembang jauh sebelum masa itu. Antara lain bahasa Sansekerta, tradisi Weda, kisah Mahabharata dan Ramayana, serta berbagai pemikiran keagamaan.

Namun, pada masa Kekaisaran Gupta, banyak warisan yang lebih tua mencapai salah satu puncak perkembangannya. Karena itulah, beberapa sejarawan menyebut periode tersebut sebagai salah satu zaman keemasan India kuno.

Kemajuan India di Bawah Kekaisaran Gupta

Asal-usul keluarga Gupta sendiri belum jelas sepenuhnya. Kemungkinan besar mereka bermula sebagai penguasa wilayah kecil di lembah Sungai Gangga.

Kebangkitan mereka dimulai pada masa Chandragupta I yang memperkuat kedudukannya melalui berbagai aliansi politik, termasuk pernikahannya dengan Kumaradevi dari keluarga Licchavi yang berpengaruh.

Putranya, Samudragupta, meneruskan takhta sang ayah dengan pencapaian yang luar biasa. Melalui berbagai ekspedisi militer dan kebijakan politiknya, wilayah kekuasaan Gupta meluas hingga mencakup sebagian besar India utara.

Pada masa Kumaragupta I dan Skandagupta, kekaisaran ini mencapai salah satu puncak kejayaannya.

Meskipun demikian, pemerintahan Gupta sebenarnya cukup terdesentralisasi. Banyak kerajaan di bawah yang tetap mempertahankan penguasanya masing-masing, sementara pusat-pusat keagamaan dan kebudayaan menikmati otonomi yang cukup besar.

Pada masa itu pula, agama Hindu dan Buddha hidup berdampingan selama berabad-abad.

Dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan, mereka memiliki Aryabhata. Ia sangat dikenal di bidang matematika dan astronomi. Karya-karya para sarjana dari periode ini banyak diterjemahkan oleh para ilmuwan muslim sejak abad ke-8.

Atau Kalidasa yang, karena karya sastranya yang luar biasa, mendapat julukan “Kavikula-guru”. Julukan ini setara dengan kata “guru semua penyair” di India.

Di masa itu, berbagai pembelajaran berkembang. Mengundang para peziarah maupun cendekiawan dari berbagai negeri datang belajar. Musafir Tiongkok seperti Faxian, yang pernah mampir di Pulau Jawa, meninggalkan catatan berharga mengenai kehidupan masyarakat India pada masa itu.

Pusat-pusat keagamaan seperti Sarnath, Mathura, Nalanda, dan Ajanta berkembang menjadi tempat penting bagi ilmu pengetahuan, seni, dan spiritualitas.

Ironisnya, meskipun banyak karya sastra, seni, dan ilmu pengetahuan dari masa Gupta berhasil bertahan, catatan mengenai kehidupan sehari-hari masyarakatnya justru relatif terbatas. Para sejarawan sering kali harus menyusun kembali sejarah Gupta dari prasasti, koin emas, segel kerajaan, dan catatan para musafir asing.

Pengaruh Kekaisaran Gupta Tidak Berhenti di Anak Benua India

Melalui perdagangan, agama, sastra, dan hubungan budaya yang berlangsung selama berabad-abad, pengaruh India menyebar ke berbagai wilayah Asia, termasuk Nusantara.

Jejak peninggalan berupa Bahasa Sanskerta masih dapat kita temukan sampai sekarang. Contoh kata-kata seperti “bahasa”, “rasa”, “agama”, “raja”, “manusia”, dan “samudra” bahkan dipakai kita dalam percakapan sehari-hari.

Ada lagi, kisah Mahabharata dan Ramayana berkembang di berbagai daerah di Nusantara. Demikian pula pengaruh Hindu-Buddha, kalender Saka, serta berbagai unsur budaya lainnya yang turut membentuk sejarah Asia Tenggara.

Salah satu warisan India pada masa Gupta yang paling terkenal adalah perkembangan konsep śūnya atau kekosongan. Bersama perkembangan sistem bilangan India, gagasan ini kelak ikut berperan dalam lahirnya angka nol dan sistem angka yang akhirnya menyebar ke berbagai peradaban lain.

Berakhirnya Kekaisaran Gupta

Sebagaimana banyak peradaban besar lainnya, kejayaan Kekaisaran Gupta tidak berlangsung selamanya. Tekanan dari luar, termasuk serangan bangsa Hun, ditambah melemahnya pemerintahan pusat, serta berbagai perubahan politik membuat kekaisaran ini perlahan memudar.

Ironisnya, ketika nama Gupta semakin jarang disebut, sebagian warisan yang mereka pelihara dan kembangkan justru tetap hidup. Ia hidup dalam ilmu pengetahuan, bahasa, sastra, tradisi, dan sebagian lagi melalui cerita yang diwariskan secara turun menurun.

Kisah mereka memberi kita gambaran nyata tentang suatu pemerintahan yang tidak tersentralisasi.

Kita menikmati buahnya, tetapi hampir melupakan pohonnya.

Mungkin begitulah sejarah bekerja. Sebagian peradaban dikenang melalui peperangan dan istana. Sebagian lainnya justru hidup dengan cara yang lebih sunyi dalam keseharian kita.

Demikian pula dengan Kekaisaran Gupta. Disadari atau tidak, sebagian warisan yang mereka pelihara dan kembangkan turut memberi warna pada perjalanan panjang sejarah Asia, termasuk Nusantara.

Yuk, bagikan tulisan ini di...

Leave a Comment