Mengapa buku peta dunia disebut atlas? Mengapa nama seorang raksasa dalam mitologi Yunani dipakai untuk menamai kumpulan peta bumi?
Jawabannya membawa kita pada kisah Atlas, seorang Titan yang menurut legenda dihukum untuk memikul langit di pundaknya.
Ada nama yang lahir dari cerita, lalu menghilang bersama zaman. Namun, ada pula nama yang justru bertahan ribuan tahun dan berubah menjadi bagian dari kehidupan manusia. Atlas adalah salah satunya. Sebuah kisah yang telah dikenal sejak abad ke-8 sebelum Masehi melalui puisi Hesiod.
Dalam legenda Yunani, Atlas diyakini berdiri di ujung barat dunia, wilayah yang dikaitkan dengan daerah sekitar Afrika Utara. Karena itu, nama Titan ini diberikan kepada rangkaian pegunungan tersebut, Atlas Mountains.
Banyak ilustrasi modern menggambarkan Atlas memikul bola bumi, tetapi dalam mitologi Yunani asli, ia sebenarnya memikul langit. Waktu itu, orang Yunani membayangkan bumi berada di tengah, sedangkan di atasnya, dibingkai kubah langit besar yang berisi bintang-bintang.
Kisah tentang Atlas yang memikul langit tidak berhenti pada mitologi, ia juga meninggalkan jejak dalam karya seni dari masa lampau.
Sebuah artefak Romawi pada abad ke-2, yang kemudian diakuisisi oleh Kardinal Alessandro Farnese pada 1562, memperlihatkan Atlas memikul bola langit yang dihiasi rasi bintang.
Para sejarawan bahkan menggunakan konstelasi di patung itu untuk mempelajari peta langit kuno. Patung yang dikenal sebagai Atlas Farnese itu kini disimpan di Museum Arkeologi Nasional Napoli, Italia.
Hari ini, kita mengenal atlas sebagai buku kumpulan peta dunia. Tetapi jauh sebelum menjadi istilah ilmiah, Atlas diceritakan sebagai salah satu Titan, generasi dewa yang lebih tua daripada para dewa Olympian seperti Zeus.
Dikisahkan, setelah perang besar antara Titan dan Olympian yang dikenal sebagai Titanomachy, Atlas tidak dibunuh karena telah berbaik hati terhadap umat manusia dalam memperkenalkan misteri bumi dan langit. Tetapi ia tetap dihukum Zeus.
Di balik hukuman Atlas, ada satu kisah menarik yang memperlihatkan sisi lain dari menanggung beban. Dalam salah satu mitologi, Herakles pernah meminta Atlas mengambil apel emas dari Taman Hesperides. Untuk sementara waktu, Herakles menggantikan Atlas memikul langit.
Ketika menyerahkan apel emas ke Herakles, ia mencoba pergi. Namun, Herakles menipunya dengan meminta Atlas menahan langit sebentar agar ia bisa menata bahunya, Herakles pun pergi.
Inti anekdot ini, bahkan seorang Titan yang patuh pun tak kuat menahan beban berat. Sebuah analogi yang memberi gambaran utuh bagaimana sifat manusia pada umumnya.
Meskipun diceritakan pernah hendak ingkar, nama Atlas tak pernah redup. Pada abad ke-16, Flemish Gerardus Mercator, seorang kartograf, menerbitkan kumpulan peta dengan judul Atlas sive Cosmographicae Meditationes de Fabrica Mundi (Atlas atau Renungan Kosmografi tentang Struktur Dunia).
Sejak publikasi Mercator pada 1595, kata “atlas” mulai digunakan secara umum untuk menyebut kumpulan peta. Istilah ini kemudian menyebar ke berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia.
Atlas tidak dikenal karena kemenangan atau kekuasaan, melainkan hukuman yang ia pikul. Dan nama itu hidup kembali dalam bentuk yang tidak pernah dibayangkan orang Yunani sebelumnya.
Dari kubah langit para penyair Yunani hingga globe bumi dalam ilustrasi modern, sosok Atlas berubah mengikuti cara manusia membayangkan alam semesta.
Ribuan tahun berlalu, sebuah nama dari dunia mitos itu selalu akan muncul, saat kita membuka buku kumpulan peta. Seolah-olah Atlas masih berdiri di tepi langit, dan ikut memetakan bumi bagi kita.