
Sahabat dan kerabatku,
Kukerat langit pekat cakrawala
Biasnya terasa sendu memeluk persada
Di angkasa, jutaan bintang berdansa
Kontras menyertai kerlip lampu Jakarta yang penuh warna
Warga Indonesia penikmat aksara yang tinggal di Kota Arles, Prancis

Sahabat dan kerabatku,
Kukerat langit pekat cakrawala
Biasnya terasa sendu memeluk persada
Di angkasa, jutaan bintang berdansa
Kontras menyertai kerlip lampu Jakarta yang penuh warna

Ironisnya pertemuan adalah bahwa ia selalu dibingkai dalam sebuah kata yang kejam, yaitu perpisahan. Demikian pula keberadaanku di tanah air. Rasanya, baru kemarin aku meringkuk di pesawat seharian. Serasa aku tak percaya, bahwa lawatan tiga malam di Surabaya dan Pontianak begitu cepat.

Dear, sahabatku semua. Aku datang menjemput kerinduan. Ingin berjumpa dengan kalian semua.

Kota Arles adalah bagian dari gairah musik gipsi yang tak pernah usai. Di kota ini, pada 1978, lahir sebuah grup musik legendaris kelas dunia, Gipsy Kings.

Orang Prancis memang kreatif. Untuk hal-hal sepele saja, kalau mau, mereka mampu mengemasnya menjadi sajian trendi dan mutakhir. Termasuk soal celana dalam.

Menulis tentang Arles, seperti membahas kisah hidup seorang selebritas. Ada saja kegiatan kota kecil ini yang menarik untuk diperbincangkan. Bukan hanya pasarnya yang telah menjadi buah bibir sejak abad kelima, tetapi juga berbagai aktivitas budaya yang membuatnya kian bersinar, seumpama serangkai mutiara dari tanah Selatan.