
Aku seperti seorang pelari maraton. Suhu musim gugur yang terus menurun tidak mampu menghalauku dari rasa gerah. Pekarangan samping istana mini kupandang dengan sendu.
Warga Indonesia penikmat aksara yang tinggal di Kota Arles, Prancis

Aku seperti seorang pelari maraton. Suhu musim gugur yang terus menurun tidak mampu menghalauku dari rasa gerah. Pekarangan samping istana mini kupandang dengan sendu.

Sewaktu di tanah air dulu, aku pernah bergabung di sebuah perusahaan Hotel Management yang membawahi grup Hilton di Indonesia. Jadi, dunia penginapan sama sekali bukan hal yang asing bagiku. Dan sampai hari ini, bisnis ini tetap kugeluti.

Sepulang dari menengok rumah petak, aku bergegas kembali ke istana mini. Seluas mata memandang, setiap sudut istana mini ini sudah dijajah barang yang akan dipindahkan atau dihibahkan.

Aku baru saja menandatangani urusan jasa pengangkutan. Namanya Demanegement Chevallier. Slogan mereka: Memindahkan barang adalah sebuah profesi. Aku membaca sebuah map yang mereka berikan. Terdapat beberapa saran profesional. Semoga bisa kuceritakan lain waktu sebagai tips bagi yang juga ingin pindah rumah.

Aku mendaki dari lembah demi memasuki relung-relung hatimu
Pendakian ini begitu tinggi dan terjal
Butuh selaksa kesabaran dan tekad luar biasa

Seorang sahabat kolaborasi memintaku menulis tentang rumah baruku yang belum beratap. Tidak masalah. Namun, apa yang akan kutulis? Pikir punya pikir, kalau tidak ada atap, air langsung mengguyur ketika hujan, angin mengirim debu, untuk berteduh dari terik pun minimal harus membawa payung atau tenda.