Aku sudah berkali-kali melewati Place de la République di Arles. Di jantung kota itu, berdiri sebuah tugu tinggi yang rasanya sulit untuk tidak dilihat: Obélisque d’Arles.
Kita bahkan tidak perlu sengaja mencarinya. Begitu masuk ke Alun-alun Arles (Centre ville d’Arles), tugu itu sudah berdiri di sana, menjulang di antara Hôtel de Ville dan bangunan-bangunan tua di sekitarnya.
ISI ARTIKEL
Sejarah Obelisk Arles
Kalau melihat suatu obelisk, mungkin pikiran kita langsung lari ke Mesir. Namun, obelisk yang satu ini punya cerita sendiri.
Obelisk Arles berasal dari zaman Romawi. Dahulu, ia berdiri di spina, bagian memanjang di tengah sirkus Romawi Arles, tempat perlombaan kereta berlangsung. Granitnya berasal dari Asia Kecil, wilayah yang sekarang menjadi bagian dari Turki.
Yang menarik, obelisk itu tidak berdiri di sana dengan tenang selama dua ribu tahun.
Setelah sirkus tidak lagi digunakan, obelisk akhirnya roboh dan pecah menjadi dua bagian. Bagian terbesarnya tetap berada di sekitar kawasan sirkus. Tetapi pecahan ujungnya, yang panjangnya sekitar empat meter, mengalami takdir yang jauh lebih aneh.
Pecahan itu berada di kawasan Place Antonelle. Dan dipakai sebagai bangku!
Aku tertawa ketika pertama kali membaca bagian sejarah ini. Bayangkan saja: sesuatu yang tadinya berdiri sebagai monumen Romawi, roboh, patah, lalu beberapa abad kemudian orang duduk di atasnya.
Mungkin dipakai untuk ngobrol atau sekadar beristirahat. Entahlah. Yang jelas, pecahan obelisk Romawi itu pernah mempunyai karier kedua sebagai tempat duduk.
Kalau dipikir-pikir, perjalanan hidup sebuah batu ternyata bisa lebih berliku daripada perjalanan hidup manusia.
40 Hari Memindah Obelisk Arles Yang Cuma Beberapa Ratus Meter
Cerita obelisk ini berubah lagi pada abad ke-17. Para konsul Arles memutuskan untuk mendirikannya di depan Hôtel de Ville yang baru. Kedua pecahannya akhirnya dipertemukan kembali. Nah, bagian inilah yang membuatku kembali berhenti ketika membaca sejarahnya.
Betapa tidak, untuk memindahkan obelisk yang hanya beberapa ratus meter itu, mereka membutuhkan waktu sekitar 40 hari. Kita mungkin spontan berpikir, “Empat puluh hari? Cuma beberapa ratus meter?”
Namun, ingat, kita sedang berbicara tentang abad ke-17. Tidak ada truk besar yang tinggal datang, mengangkat batu, lalu membawanya ke Place de la République. Yang harus dipindahkan adalah potongan-potongan batu raksasa dengan teknologi yang tersedia pada zamannya.
Dan ternyata memindahkannya belum menjadi bagian yang paling sulit. Masalah berikutnya adalah: bagaimana menegakkan benda sebesar itu?
Untuk pekerjaan tersebut, orang Arles sampai memanggil para pelaut yang mempunyai keahlian menangani tiang kapal. Awalnya kedengarannya agak aneh. Mau memasang obelisk, kok yang dicari pelaut?
Tetapi setelah dipikir lagi, justru masuk akal. Pada masa ketika belum ada peralatan angkat modern seperti sekarang, siapa yang terbiasa mengendalikan benda panjang dan tinggi dengan tali, katrol, serta sistem pengangkatan yang rumit?
Pelaut!
Akhirnya obelisk itu berhasil didirikan di tempat yang sekarang menjadi Place de la République. Operasi tersebut selesai pada 26 Maret 1676, ketika bagian ujungnya dipasang kembali.
Batu yang pernah roboh, patah, dan sebagian pernah dijadikan tempat duduk itu akhirnya berdiri lagi. Namun, rupanya petualangannya belum selesai.
Ketika Penguasa Berganti, Puncak Obelisk Arles Ikut Berganti
Kalau bagian batang obelisk membawa kita kembali ke zaman Romawi, bagian atasnya justru menceritakan sejarah Prancis yang jauh lebih muda. Ketika obelisk didirikan kembali pada masa Louis XIV, bagian atasnya diberi sebuah bola perunggu dengan lambang matahari kerajaan.
Lalu zaman berubah.
Revolusi Prancis datang. Simbol kerajaan tentu tidak lagi cocok dengan suasana baru. Puncak obelisk kemudian pernah dihiasi bonnet phrygien, topi yang menjadi salah satu simbol revolusi dan kebebasan.
Kemudian kekuasaan berubah lagi. Pada masa Napoleon, muncul elang.
Lalu, pada masa Monarki Juli, di atas sana pernah muncul ayam jantan.
Aku suka bagian sejarah ini karena obelisknya sendiri tidak pergi ke mana-mana. Batu Romawinya tetap berdiri, sementara simbol yang diletakkan di atas kepalanya berubah mengikuti siapa dan zaman apa yang sedang berkuasa.
Matahari kerajaan bahkan sempat kembali, sebelum akhirnya dilepas secara permanen pada abad ke-19. Sekarang puncaknya jauh lebih sederhana.
Jadi kalau suatu hari kita berdiri di Place de la République dan melihat obelisk itu, sebenarnya kita sedang melihat beberapa lapisan sejarah sekaligus.
Ada dunia Romawi yang membawanya ke sirkus Arles. Masa ketika sirkus ditinggalkan dan obelisk roboh. Pecahannya yang pernah dipakai sebagai bangku.
Dilanjutkan dengan era Arles abad ke-17, yang menghabiskan puluhan hari untuk memindahkan pecahan itu, padahal jaraknya hanya beberapa ratus meter, sampai memiliki inisiatif untuk memanggil pelaut, membantu menegakkannya.
Lalu ada sejarah politik Prancis yang berkali-kali mengganti simbol di atasnya. Dan semua cerita itu menempel pada satu benda yang hari ini bisa kita temukan jika kita sedang berjalan di alun-alun kota.
Bukan Sekadar Batu
Mungkin itu sebabnya aku suka melihat benda-benda tua di Arles. Kadang-kadang yang terlihat cuma batu. Padahal kalau batu itu bisa bicara, ceritanya panjang sekali.
Khusus untuk obelisk yang satu ini, mungkin ia berhak sedikit sombong. Tidak semua batu Romawi pernah menjadi monumen, turun pangkat menjadi bangku, lalu berdiri lagi di tengah kota dengan megah.
Dan saat kita menegadah, berbagai dinamika masa lalu ikut terbuka, berjejar di hadapan kita, tanpa perlu membuka buku sejarah.