Penonton pun tergelak-gelak. Teater batu menjadi riuh. Aktornya turun panggung. Namun, apa yang diparodikan barusan menjadi viral di seluruh Athena.
Ada sesuatu yang aneh dalam cara orang berbicara. Kata-kata perbandingan mengalir seperti angin. Kita pun sering mengira kalimatnya hanya sekadar lewat. Betulkah demikian? Mari kita telusuri sejarahnya mulai dari teater di Yunani hingga hari ini.
Bayangkan sebuah suasana dengan sekelompok teman di kafe atau dalam percakapan santai di sore hari. Seseorang tersenyum, lalu dengan nada ringan berkata bahwa tadi ia bertemu dengan teman seangkatan mereka di parkiran, yang ternyata sudah berkeluarga, punya dua anak.
Lalu, pertanyaan berikutnya datang begitu saja, “Kita kok masih pada jomlo, ya?” Percakapan itu terasa biasa, tujuannya hanya ingin membuat suasana sore dipenuhi canda tawa. Tetapi setelah bubar dan masing-masing pulang rebahan, malam itu menjadi lebih panjang, kabar teman seangkatan yang “berbeda aliran” terasa bermain-main di ingatan.
Sejak masa Yunani Kuno, orang telah menggunakan humor untuk menyampaikan hal-hal yang sulit diucapkan secara langsung. Pada abad ke-5 SM, ketika Athena berada di antara kejayaan dan kegelisahan akibat Perang Peloponnesia, penyair Aristophánês, sering membawakan komedi dengan menyindir realitas sosial tokoh-tokoh terkenal di zamannya.
Itu membuat penonton tertawa. Saat itu, tahun-tahun di bawah pemerintahan Pericles.
Di masa Romawi Kuno, beda lagi. Penyair satir Juvenal (Decimus Iunius Iuvenalis) yang hidup sekitar abad pertama hingga kedua Masehi, kerap menyindir fenomena sosial masyarakat Romawi yang munafik atau terobsesi dengan kemewahan.
Juvenal, misalnya, menggambarkan bagaimana ada tamu yang diam-diam mendapat menu yang lebih buruk. Padahal diundang warga Patricia kaya Romawi untuk jamuan makan Cena.
Meja dipenuhi hidangan terbaik, pelayan mondar-mandir membawakan arak. Namun, perlakuan munafik tuan rumah terhadap tamu tertentu terlihat berlebihan. Syair yang ditulis begitu jujur melukiskan kehidupan sehari-hari, hingga pembacanya merasa seperti sedang melihat cermin.
Sindiran dalam karya semacam ini memiliki jarak. Ia tidak menyerang individu tertentu, hanya menyingkap kecenderungan masyarakat secara luas. Pembacanya mungkin tersenyum, atau merasa sedikit tersindir, tetapi jarang merasa terluka secara pribadi.
Memasuki Era Renaisans, orang mulai terbiasa mengukur dirinya melalui pencapaian. Siapa yang lebih berbakat, produktif, atau siapa yang lebih layak dikenang. Pada masa itu, perbandingan sering kali berkaitan dengan intelektualitas.
Kita bisa melihat contohnya dalam In Praise of Folly, karya Desiderius Erasmus Roterodamus (28 Oktober 1466 – 12 Juli 1536), seorang humanis Belanda. Dalam tulisan itu, ia tidak pernah secara langsung menuduh para pemuka agama atau kaum terpelajar telah tersesat.
Justru sebaliknya, ia memilih cara yang jauh lebih halus. Melalui sindiran yang dibungkus pujian itu, Erasmus memperlihatkan bagaimana para pemimpin, sarjana, bahkan tokoh agama sering kali begitu yakin pada dirinya sendiri, padahal tanpa disadari mereka juga hidup di dalam kebodohan itu.
Pada masa Zaman Pencerahan, sindiran kembali mencapai puncaknya sebagai alat berpikir. Tokoh seperti François-Marie Arouet (21 November 1694 – 30 Mei 1778) atau Voltaire menggunakan ironi candaan intelektual untuk menghibur, menyindir sekaligus mengguncang cara masyarakat berpikir.
Dalam salah satu gagasannya, ia bahkan mengingatkan betapa berbahayanya menjadi benar ketika pihak yang berkuasa justru berada di pihak yang salah.
Sindiran tersebut adalah cara mempertanyakan kekuasaan, kebiasaan, bahkan keyakinan yang selama ini dianggap tidak boleh disentuh.
Namun, di zaman modern, perbandingan tidak lagi berhenti pada karya, tetapi merembes ke kehidupan pribadi. Status pernikahan, jumlah anak, pekerjaan, penghasilan, bahkan kebahagiaan.
Sindiran tidak perlu lagi diucapkan secara eksplisit. Seseorang mungkin berkata dengan tulus bahwa orang lain sudah mencapai sesuatu di usia tertentu. Tidak ada nada merendahkan dan maksud menyakiti. Tetapi bagi yang baper, kalimatnya terasa menohok.
Padahal, di balik semua ini, ada sesuatu yang sangat manusiawi. Dalam psikologi sosial, dijelaskan bahwa manusia memahami dirinya melalui orang lain. Sindiran menjadi jalan lebih sopan dan aman, yang memungkinkan seseorang bertanya tanpa benar-benar bertanya, atau membandingkan tanpa terlihat menyamakan.
Jika dulu sindiran hidup dalam percakapan tatap muka, hari ini ia menemukan bentuk baru berupa portabel. Seseorang mengunggah pencapaian di medsosnya. Hanya foto. Tidak ada kalimat yang diucapkan, tetapi perbandingan tetap terjadi.
Yang membuat sindiran begitu rumit adalah kenyataan bahwa ia jarang lahir dari niat buruk. Sering kali, ia muncul dari kekhawatiran, perhatian, atau bahkan kasih sayang yang tidak menemukan cara yang tepat untuk disampaikan.
Orang tua mungkin bertanya tentang masa depan anaknya karena ia ingin memastikan anak itu tidak kesepian. Seorang teman membandingkan pencapaian karena ia ingin memberi motivasi.
Kita tidak mungkin bisa menghapus sindiran dari kehidupan. Karena secara tidak langsung, ini sudah menjadi cara kita berpikir dan berkomunikasi.
Barangkali yang bisa kita lakukan adalah memperhatikan bagaimana kita berbicara. Air tenang tetap menghanyutkan. Pilihan kata yang cerdas membuat sindiran tetap mengena, tanpa terasa berat di telinga. Bagaimana pendapat Anda?