Ketika kata yang tersedia terasa kurang cukup, manusia mulai menggunakan perbandingan. Selain memberi nama pada benda, sejak awal peradaban, manusia juga berusaha menjelaskan perasaan, pengalaman, dan kejadian yang tidak selalu bisa dilihat secara kasatmata. Dari proses itulah majas lahir sebagai alat berpikir.
Kebiasaan memahami sesuatu melalui simbol, sudah muncul sejak lama. Kata-kata seperti “langit muram”, “laut marah”, atau “matahari serasa hangat” seolah meniru sifat manusia.
Pengamatan dan tafsir batin seperti ini menjadi jembatan antara kenyataan dan perasaan. Begitulah majas menghiasi bahasa metafora, dengan menyamakan dua hal secara langsung.
Sebutan seperti “tulang punggung keluarga”, tentu bukan berarti tubuh seseorang menjadi tulang penyangga, tetapi menjelaskan perannya dalam memikul tanggung jawab utama. Begitu pula ketika harapan disebut “cahaya di ujung jalan”, ini memberi makna, bahwa ada sesuatu yang tadinya belum pasti, sekarang menemukan arah.
Berupa-rupa wajah majas. Jenis lain yang sering digunakan adalah personifikasi, yaitu memberi sifat manusia pada benda atau alam. Kalimat seperti “angin berbisik di malam hari” atau “daun pun gemulai menari” membuat gambaran terasa hidup. Secara nyata, tidak ada bisikan atau tarian, tetapi pembaca dapat merasakan suasana yang dimaksud.
Majas memang membantu pengalaman menjadi lebih mudah dibayangkan.
Sering pula kita mengucapkan kata hiperbola. Ini tak lain adalah sebutan yang dilebih-lebihkan untuk menekankan perasaan. Ungkapan “menunggu seribu tahun” atau “lautan air mata” jelas bukan kenyataan, tetapi pembaca memahami dengan kuat perasaan yang dimaksud.
Sementara itu, ironi menggunakan kata yang tampak positif untuk menyampaikan makna yang berlawanan, seperti keadaan berantakan disebut rapi atau kecerobohan disebut teliti, sebagai bentuk sindiran halus, keragaman ini juga bagian dari kekayaan bahasa majas.
Tanpa disadari, majas menjadi bagian alami dari komunikasi sehari-hari. Seseorang bisa mengatakan “pikirannya buntu” ketika tidak menemukan solusi, “hatinya ringan” ketika merasa lega, atau “waktunya terasa terbang” selagi sedang bahagia.
Perkembangan zaman tidak menghilangkan keberadaan majas. Media modern, iklan, film, bahkan percakapan digital masih dipenuhi ungkapan dan kiasan.
Ini seperti ketika kita mengirim atau menjawab pesan, ada yang terasa kurang lengkap jika tidak menambahkan sedikit emotikon. Tak selalu penting artinya secara harfiah, bubuhkan saja ikon bebek berkacamata, tangan berdempetan, wajah berkeringat, kodok yang sedang ngopi, hati beterbangan, dan berbagai simbol lain yang melambangkan suasana akrab.
Bahasa memang terus bertransformasi mengikuti teknologi, tetapi cara manusia menyampaikan perasaan melalui simbol dan kiasan pada dasarnya tetap sama.
Melalui majas, sesuatu yang abstrak menjadi terasa nyata. Perasaan memperoleh bentuk, pengalaman memiliki warna, dan makna kehidupan terasa lebih dekat. Manusia tidak hanya berbicara tentang kenyataan, tetapi juga menghidupkannya melalui bahasa.