
Seluruh dunia saat ini sedang dilanda pandemi. Hampir semua aktivitas mengalami anomali. Begitu juga acara-acara tatap muka. Frekuensi kegiatan itu berkurang drastis dan menjadi sesuatu yang sangat tidak dianjurkan.
Warga Indonesia penikmat aksara yang tinggal di Kota Arles, Prancis

Seluruh dunia saat ini sedang dilanda pandemi. Hampir semua aktivitas mengalami anomali. Begitu juga acara-acara tatap muka. Frekuensi kegiatan itu berkurang drastis dan menjadi sesuatu yang sangat tidak dianjurkan.

Pada hari keempat Januari 2021, tepatnya pukul sepuluh pagi, aku disambut salju pertama di vila cantik bernomor urut lima.

Tanggal 17 Desember 2020, akhirnya resmi sudah aku menempati si Vila Cantik bernomor urut 5. Dengan segala kekurangan di sana-sini yang belum selesai.

Setiap ada peristiwa terkait hotel yang mirip dengan yang pernah kualami, nostalgiaku dengan si mantan segera terbayang.

Barangkali aku kualat karena sudah memberi rumah baruku yang masih bersolek julukan “rumah petak”. Akibatnya, aku benar-benar merasakan bagaimana tinggal di kamar (hotel) yang cuma sepetak di masa transisi ini. Di sini tembok, di sana tembok, diapit sepotong kasur dengan pemandangan sebuah televisi. Dan itu harus kualami sampai hari ini. Artinya, sudah sekitar dua bulan aku tinggal di hotel sepetak.

Sampai hari ini, aku masih tinggal di Hotel Campanile. Selintas, seperti aku sedang bersantai. Nyatanya tidak begitu. Aku harus pintar-pintar menyesuaikan diri tinggal di hotel yang minim fasilitas dan layanan ini. Eh, bukan minim. Lebih tepatnya layanan itu berkurang karena masa pandemi Corona.