Pindah dari Istana Jelita ke Rumah Jelata – Part VI: Si Cantik Nomor 5

Pindah dari Istana Jelita ke Rumah Jelata - Part VI: Si Cantik Nomor 5

Barangkali aku kualat karena sudah memberi rumah baruku yang masih bersolek julukan “rumah petak”. Akibatnya, aku benar-benar merasakan bagaimana tinggal di kamar (hotel) yang cuma sepetak di masa transisi ini. Di sini tembok, di sana tembok, diapit sepotong kasur dengan pemandangan sebuah televisi. Dan itu harus kualami sampai hari ini. Artinya, sudah sekitar dua bulan aku tinggal di hotel sepetak.

Setiap kulihat pekerjaan di rumah baruku hampir selesai, tahu-tahu ada bahan yang kurang, tetapi tokonya sedang tutup. Atau bahannya sudah ada, tetapi tukangnya tidak datang. Sehingga, pekerjaan menjadi tertunda. Sehingga lagi, renovasi rumah itu jadi terkesan terpetak-petak. Semua akibat kurangnya koordinasi para pekerja.

Selanjutnya, karena pandemi Corona, aku harus menunggu reparasi berminggu-minggu untuk urusan sepele itu. Sungguh tega! Padahal, yang kutunggu bukanlah sesuatu yang esensial.

Ranjang yang belum bisa ditiduri

Aku seharusnya sudah bisa tinggal di rumah baru. Namun, lantaran para pekerja masih berlalu-lalang di dalam ruangan, juga efek pandemi Corona yang mewajibkan batas maksimum individu dalam ruang tertutup, rencana itu harus tertunda.

Apalagi, debu tebal masih bergentayangan di sudut-sudut yang tak terjangkau. Daripada menanggung akibat yang semakin membuatku merana, aku memilih bersabar saja di kamar petak hotel.

Toh kalau dipikir-pikir, hotel yang menampungku sejak 22 Oktober 2020 ini telah memberiku waktu untuk berefleksi dan relaksasi. Betapa tidak, setelah 16 tahun bertarung dalam hidup yang cukup berat dan sering membingungkan, Tuhan akhirnya menghadiahkan waktu dan tempat yang sunyi ini, meski dengan fasilitas yang seadanya.

Aku diistirahatkan dari persoalan wajan, halaman, dan kamar penginapan. Seandainya malam-malam aku terjaga sangat lama, kemudian baru tertidur di pagi buta, aku tak perlu cemas memikirkan sayur yang harus diolah, tamu yang silih berganti datang, cucian yang tidak kering, atau hal-hal tak terduga seputar dunia penginapan.

Jadi, aku merasa harus menggunakan kesempatan berharga ini sebaiknya-baiknya. Apalagi semua ini akan berakhir sebentar lagi.

Si Cantik Nomor Urut 5

Handel pintu yang bermasalah: cuma ada satu!

Mungkin masih terkait dengan kualatku, aku sempat mengalami insiden terkunci di kamar kecil ketika memeriksa rumah baruku. Penyebabnya, handel pintunya baru terpasang sebelah, sedang handel di sisi baliknya kemungkinan hilang, terbuang, atau terselip entah di mana.

Apakah insiden itu akibat dari julukan “rumah petak” yang kurang etis?

Kalau begitu, mumpung belum terlanjur parah “kutukannya”, melalui tulisan ini aku ingin membaptis rumah baruku dengan nama baru yang lebih romantis, yaitu: La Belle Maison Numero 5. Atau puitisnya, Si Vila Cantik Bernomor Urut 5.

"La Belle Maison Numero 5" alias "Si Vila Cantik bernomor urut 5"

Siapa tahu dengan menumpang angka 5 milik Chanel yang pernah menjadi parfum terlaris di dunia, aura Si Vila Cantik terpancar dan pembangunannya lancar. Dan satu lagi harapanku: semoga tetangga-tetanggaku juga menyenangkan.

Tidak seperti Istana Mini, lingkungan sini termasuk ramai. Jarak antarrumah tergolong dempet. Dari terasku saja, aku bisa melihat jelas kegiatan tetangga di samping dan belakang rumah. Tetapi aku tak perlu khawatir, karena tukang-tukangku sedang membangun dinding setinggi 1,8 meter, sesuai batas yang diizinkan pemerintah.

Sekolah dekat rumah

Si Vila Cantik bernomor 5 juga dekat dengan gedung sekolah. Bangunan itu bernomor mulai dari 9, memanjang hingga belokan jalan. Belum-belum, saat aku sedang menyusun barang-barang, tertangkap oleh telingaku suara anak-anak bubar sekolah.

Ya, pada jam-jam tertentu, kicau burung dan desau angin yang biasa kunikmati di Istana Mini atau hotel telah berganti dengan deru kendaraan dan ramai pejalan kaki.

Akhirnya, Aku Punya Tetangga

Tetangga-tetanggaku (seperti di Indonesia ya pemandangannya)

Kedatanganku di lingkungan baru ternyata cukup mencuri perhatian. Aku yang selama 16 tahun tidak tahu tetanggaku siapa, dituntut beradaptasi.

Setiap melihat kemunculanku, para tetangga atau warga sekitar yang kebetulan sedang melintas mulai memperkenalkan diri. Rupanya di wilayah itu, jarang ada pendatang baru. Keramahan mereka kusambut di antara bebunyian alat-alat pertukangan.

Mereka mengucapkan selamat datang, sekaligus mempromosikan bahwa daerah yang bakal kuhuni adalah tempat yang tenang. Dalam sehari saja, aku sudah menerima beberapa konfirmasi. “Jangan khawatir,” janji mereka.

Tak lupa, mereka menanyakan kapan aku pindah. Tak lupa pula, sambil mengamati pekerjaan para tukang, mereka turut memberi estimasi. “Wah! Rasanya masih banyak pekerjaan!” komentar tetangga samping yang terpisah jalur jalan, sembari bangga menunjukkan di mana rumah tinggalnya, “Yang bertingkat itu.”

Aku jadi sedikit minder. Sebab, sepanjang kompleks itu memang hanya si Vila Cantik bernomor urut 5 yang berpenampilan paling kumal. Semoga setelah mendapat nama baptis yang lebih romantis, penampakannya berubah drastis dari jelata menjelma jelita, sehingga pemiliknya tidak minder lagi.

Rumah paling kumal di daerah ini, sejauh ini

Walaupun yang utama bagiku sebenarnya bukan penampilan, melainkan fungsi rumah sebagai tempat tinggal yang hangat dan penuh privasi. Di samping itu, meskipun si Vila Cantik ternyata bertampang kumal bin jelata, aku berharap dapat hidup berdampingan secara damai dan penuh solidaritas dengan para tetanggaku.

Aku membayangkan bila periode ini berlalu, aku akan belajar bersosialisasi, menikmati hidup yang lebih hakiki, menyelesaikan hobi yang sempat tertunda, atau membuat rencana-rencana lain sambil beradaptasi dengan lingkungan baru.

Menurutku, perjalanan manusia selalu menemukan arahnya sendiri. Aku hanya perlu meniti sampai ujung, agar jejak yang tertinggal di belakang senantiasa menjadi pedoman ke depan. Kelak jejak itu, bagaimanapun bentuknya, menjadi sejarah tersendiri bagi perjalanan hidupku.

Dinding yang belum terbangun sempurna

Namun kurasa, berdekatan dengan perayaan Natal dan Tahun Baru, pembuatan pembatas tembok di bagian luar akan terhenti lagi.

Ah, apapun penghalangnya, “Bienvenue à ta maison numero 5, Fransisca!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *