Mengapa Juli-Agustus Sama-Sama Memiliki 31 Hari?

Kalau kita melihat kalender sekarang, mungkin ada sesuatu yang pernah membuat kita bertanya-tanya. Mengapa bulan Juli dan Agustus sama-sama memiliki 31 hari? Padahal, bulan-bulan lainnya cenderung bergantian antara 30 dan 31 hari. Februari bahkan hanya memiliki 28 hari, atau paling banyak 29 hari.

Kaisar Augustus pernah dikatakan tidak ingin bulan yang memakai namanya lebih pendek daripada Bulan Juli, bulan yang menghormati Julius Caesar. Karena itu, Augustus konon mengambil satu hari dari Februari sehingga bulan Agustus juga memiliki 31 hari.

Cerita tersebut terdengar masuk akal dan mudah diingat. Tetapi benarkah demikian?

Kalender Romawi Kuno Berbeda dengan Kalender Sekarang

Menurut tradisi Romawi, kalender yang paling awal hanya memiliki sepuluh bulan dan dimulai pada Maret. Dan berjumlah 304 hari dalam setahun.

Pada masa Raja Numa Pompilius, Januari dan Februari ditambahkan, sehingga kalender Romawi menjadi dua belas bulan. Sedangkan jumlah hari dalam setahun berkisar sekitar 355 hari. Karena penambahan itu, urutan beberapa bulan bergeser, tetapi nama-nama lamanya tetap dipertahankan. Urutannya menjadi:

  1. Ianuarius (Januari)
  2. Februarius (Februari)
  3. Martius (Maret)
  4. Aprilis (April)
  5. Maius (Mei)
  6. Junius (Juni)
  7. Quintilis (bulan “kelima”, tetapi kemudian menjadi bulan ke-7)
  8. Sextilis (bulan “keenam”, kemudian menjadi bulan ke-8)
  9. September
  10. October
  11. November
  12. December

Dan secara resmi, tahun Romawi mulai menggunakan Januari sebagai awal tahun sejak tahun 153 Sebelum Masehi. Keputusan itu terkait jabatan konsul dan administrasi negara.

Reformasi Besar oleh Julius Caesar

Karena perbedaan sepuluh hari selama berabad-abad, kalender Romawi sudah tidak lagi selaras dengan perjalanan matahari. Untuk mengatasi masalah tersebut, pada 46 SM, Julius Caesar melakukan reformasi besar, dengan bantuan seorang ahli astronomi bernama Sosigenes dari Alexandria.

Hasil reformasi tersebut menjadi kalender Julian yang mulai berlaku pada tahun 45 SM. Kalender ini menetapkan panjang rata-rata satu tahun menjadi 365 seperempat hari, dengan penambahan satu hari setiap empat tahun sekali yang kemudian dikenal sebagai tahun kabisat.

Kalender Julian menjadi jauh lebih teratur dibandingkan sistem sebelumnya dan kelak menjadi dasar bagi kalender modern yang kita gunakan sekarang.

Yang menarik, pola dua bulan berturut-turut yang masing-masing memiliki 31 hari ternyata sudah ada, bahkan sebelum kedua bulan tersebut memakai nama Julius dan Augustus.

Legenda yang Bertahan Lebih Lama daripada Fakta

Setelah Julius Caesar wafat, Senat Romawi memutuskan pada tahun 44 SM untuk mengganti nama Quintilis menjadi Julius sebagai penghormatan kepada pemimpin tersebut. Dari nama inilah lahir nama “July” dalam bahasa Inggris, “juillet” dalam bahasa Prancis, dan “Juli” dalam bahasa Indonesia.

Pada tahun 8 SM, Senat Romawi kembali memberikan penghormatan, kali ini kepada Kaisar Augustus. Bulan Sextilis diubah namanya menjadi Augustus.

Yang perlu dicatat, bulan Sextilis tidak dipilih karena merupakan bulan kelahiran Augustus. Kaisar pertama Romawi itu justru lahir pada tanggal 23 September 63 SM.

Menurut sumber-sumber Romawi, bulan Sextilis dipilih karena beberapa peristiwa penting dalam perjalanan karier Augustus terjadi pada bulan tersebut.

Asal Cerita Augustus Mengambil Satu Hari dari Februari

Sejarawan modern berpendapat, legenda itu muncul beberapa abad kemudian. Dengan kata lain, cerita yang sering kita dengar, ternyata lebih muda daripada kalender itu sendiri.

Kalau begitu, mengapa Februari justru menjadi bulan yang paling pendek?
Jawabannya ternyata jauh lebih rumit dan lebih tua daripada kisah persaingan antara Julius Caesar dan Augustus.

Nama Februari diduga berasal dari Februa, upacara penyucian dalam tradisi Romawi kuno. Pada masa raja Romulus, Februari berada di pengujung tahun. Upacara pembersihan itu dilakukan sebelum memasuki tahun baru, yaitu Bulan Maret.

Namun, sebelum reformasi dilakukan oleh Julius Caesar, kalender Romawi sering mengalami penyesuaian. Hal itu disebabkan oleh perbedaan panjang tahun yang ditentukan pada masa Numa Pompilius dengan perjalanan matahari. Bahkan terdapat bulan tambahan yang disebut Mercedonius, yang kadang-kadang disisipkan setelah Februari.

Sedangkan keputusan untuk menambahkan bulan, berada di tangan para imam dan pejabat Romawi. Dalam praktiknya, sistem ini dapat dimanfaatkan untuk kepentingan politik, misalnya memperpanjang masa jabatan sekutu atau memperpendek masa jabatan lawan.

Februari memang istimewa, akibat berbagai penyesuaian yang dilakukan, Februari sering menjadi bulan yang “menanggung” berbagai perubahan. Ironisnya, bulan yang paling pendek justru memiliki salah satu sejarah paling panjang dan paling rumit di antara semua bulan dalam kalender Romawi.

Kalender Julian sendiri, kemudian digunakan selama lebih dari enam belas abad.
Namun, panjang tahun yang ditetapkan pada reformasi Julius Cesar sedikit lebih panjang daripada tahun matahari yang sebenarnya. Selisih kecil itu terus berakumulasi ribuan tahun.

Untuk memperbaiki perbedaannya, pada tahun 1582, Paus Gregorius XIII memperkenalkan kalender Gregorian. Dalam reformasi kalender Gregorian, sepuluh hari dihapus dari kalender. Setelah tanggal 4 Oktober 1582, hari berikutnya menjadi tanggal 15 Oktober 1582.

Langkah tersebut bukan berarti sepuluh hari kehidupan manusia hilang begitu saja. Reformasi itu dilakukan untuk mengembalikan keselarasan antara kalender dan posisi matahari yang telah bergeser selama berabad-abad.

Legenda untuk Menceritakan Sejarah

Kisah tentang Augustus yang mengambil satu hari dari Februari bertahan karena sangat mudah diingat. Terlepas dari legenda, kisah itu telah membantu banyak orang mengingat susunan jumlah hari dalam kalender.

Sejak dahulu, manusia memang sering menggunakan cerita untuk membantu mengingat sesuatu yang rumit. Banyak kisah terkenal dalam sejarah justru bertahan bukan semata-mata karena ketepatan setiap detailnya, tetapi karena kisahnya mudah diceritakan kembali dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Jika memang demikian, harus diakui bahwa orang yang pertama kali menciptakan legenda itu sangat cerdas.

Di sinilah letak keindahan sejarah. Ia menjadi petunjuk tentang fakta, agar kita lebih memahami cerita dalam legenda.

Jadi, saat melihat kalender setiap hari, kita sebenarnya sedang melihat sesuatu yang lebih dari sekadar daftar tanggal. Kita sedang melihat jejak para pendiri Romawi, keputusan para senator pada zamannya, penghormatan kepada para kaisar, keahlian para astronom, pemikiran para paus pada Abad Pertengahan, serta ribuan tahun perjalanan peradaban manusia.

Yuk, bagikan tulisan ini di...

Leave a Comment