Jika sampai ada ungkapan, pertandingan terjadi di lapangan, tetapi kenangannya hidup dalam kata-kata. Maka barangkali kita perlu lebih dulu berterima kasih kepada suara sang komentator.
Kita ambil contoh sepak bola. Sejak peluit dibunyikan, penonton sudah diajak waspada. Komentator mulai menggambarkan aksi dua puluh dua pemain. Bagaimana serangan dibangun? Bola dioper dari satu kaki ke kaki lain? Mengapa wasit memberi peringatan? Atau apa yang dilakukan kiper dalam mempertahankan gawang, sampai ada satu tim yang mencetak gol kemenangan?
Aksi yang umumnya berlangsung sembilan puluh menit itu dipenuhi narasi improvisasi. Komentator bukan sekadar pelengkap siaran, tetapi menjadi satu unsur pokok dari sebuah pertandingan.
Jika kita membahas sejarahnya, boleh dikata suara komentator olahraga berawal dari perkembangan teknologi radio pada awal abad ke-20. Ketika siaran langsung mulai diperkenalkan. Terutama untuk pertandingan sepak bola dan basebal.
Saat itu, para penggemar bola tidak selalu bisa hadir di stadion. Radio menjadi satu-satunya cara mengikuti pertandingan secara real time.
Namun, radio tidak memiliki gambar. Komentatorlah yang harus menggambarkan situasi dengan sangat detail, seperti posisi pemain, arah bola, kecepatan gerakan, bahkan ekspresi penonton yang hadir di stadion. Apa yang terjadi di lapangan, harus diterjemahkan ke dalam kata.
Di sinilah peran komentator menjadi sangat vital. Mereka bukan hanya melaporkan kejadian, tetapi juga membangun imajinasi pendengar. Banyak penggemar bola justru lebih terkesan dengan permainan saat mendengarkan radio, karena imajinasi bekerja lebih aktif.
Contoh gaya komentar klasik yang sering terdengar sangat dramatis. Misalnya:
Mbappé meliak-liuk, melewati satu pemain… dua pemain… masih menguasai bola. Ada ruang, TEMBAK! Ooooh… Membentur tiang, Saudara-saudara! Sayang sekaliiiii…. Tapi belum selesai, Dembélé menyambut pantulan bolanya… langsung umpan lambung dan… GOOOOOLLLL! Kolo Muani, dengan sundulan kerasnya, akhirnya membalikkan keadaan setelah timnya tertinggal. Prancis 3, Indonesia 2!
Di Amerika Latin, ketika bola masuk ke gawang, komentator tidak sekadar berkata “gol”. Ia menarik napas panjang lalu berseru: “Goooooooooool!” Suara itu bisa berlangsung lima hingga sepuluh detik.
Bagi pendukung tim favoritnya, itulah puncak emosi sebuah pertandingan. Komentator seolah ikut berlari bersama para pemain di lapangan.
Suara yang tepat dapat membuat satu momen menjadi abadi dalam ingatan. Kadang komentatornya sampai kehabisan suara, napasnya tersenggal-senggal, demikian seru, serasa jantungnya sendiri hendak copot.
Seiring perkembangan televisi, gambar mulai menggantikan sebagian fungsi deskripsi. Namun, komentator tidak kehilangan pamor. Justru mereka berkembang menjadi pengarah emosi. Kata-kata mereka membantu penonton memahami momen penting, membangun dramatisasi, bahkan menciptakan kenangan kolektif.
Tidak mudah menjadi komentator. Ia harus menggabungkan beberapa keterampilan sekaligus. Seperti pengamatan cepat, pemahaman permainan, profil dan latar belakang setiap pemain, sambil tetap menjaga kontrol suara, pilihan kata, dan reaksi spontan. Dalam hitungan detik, mereka harus memutuskan kalimat yang pas.
Banyak orang masih mengingat pertandingan tertentu bukan hanya karena golnya, tetapi karena kalimat komentator itu. Misalnya, muncul istilah:
- tembakan roket: tendangan keras
- umpan membelah lautan: umpan jauh yang akurat
- digempur tujuh hari tujuh malam: keadaan tim yang terus tertekan
- mandi lebih cepat: pemain yang terkena kartu merah, sehingga harus keluar dari lapangan sebelum pertandingan usai
- dan sebagainya.
Metafora-metafora tersebut membantu penonton memahami situasi secara emosional. Apalagi di ajang besar seperti Olimpiade atau Piala Dunia. Komentator dipilih melalui seleksi ketat. Karena profesi ini menuntut pemahaman yang matang tentang permainan dan industri sepak bola.
Suara komentator berpotensi meningkatkan ketegangan, atau memperkuat kegembiraan. Namun, pecandu pertandingan perlu berhati-hati. Jika kurang bijak mendengar komentar, tak jarang, ada tawuran, rumah tangga rusak, dan berbagai kerugian yang timbul, padahal pertandingan sudah bubar.
Meskipun teknologi digital sudah maju, tetapi profesi ini tidak hilang. Justru sekarang komentator sepak bola muncul di berbagai bentuk media. Seperti di streaming internet, podcast olahraga, hingga konten media sosial. Gaya bahasanya juga berubah menjadi lebih santai dan personal.
Pada akhirnya, komentator menunjukkan bahwa bahasa memiliki kekuatan luar biasa. Kata-kata dapat mengubah gerakan fisik menjadi cerita, pertandingan menjadi drama, dan momen menjadi kenangan.
Tanpa suara itu, mungkin kita tetap melihat permainan. Tetapi dengan suara itu, kita merasakan permainan. Dan mungkin di situlah letak keajaibannya. Manusia tidak hanya membutuhkan peristiwa, tetapi juga cerita yang menyertainya.
Komentator hadir untuk memberi suara pada pengalaman itu, suara yang membuat penontonnya bersorak.