Kabar Burung dan Rahasia Arah di Langit

Kita sering mendengar ungkapan “kabar burung”. Kabar yang cepat sekali beredar, belum tentu benar, meskipun kadang, mengandung kenyataan. Namun semakin dipikirkan, ungkapan itu sebenarnya menimbulkan pertanyaan menarik. Burung yang mana?

Seekor burung pipit jelas tidak melesat seperti elang. Gerakan camar laut pun berbeda dari burung migrasi yang menyeberangi benua. Bahkan di angkasa yang sama, setiap spesies memiliki ritme dan pola pergerakan berbeda. Lalu mengapa manusia sejak dahulu memakai burung sebagai gambaran tentang kecepatan dan arah?

Mungkin jawabannya berawal dari burung itu sendiri.

Jauh sebelum manusia mengenal mesin, makhluk tercepat yang paling sering mereka lihat adalah burung. Ia muncul dari kejauhan, melintas di atas laut, lalu lenyap di balik cakrawala, hanya dalam hitungan singkat. Pada masa ketika perjalanan masih dilakukan dengan berjalan kaki atau menunggang kuda, gerakan mereka tampak hampir mustahil diikuti mata.

Ada burung yang datang hanya pada musim tertentu. Ada pula yang selalu bergerak ke selatan ketika udara mulai dingin, lalu kembali ke tempat yang sama setiap tahun. Ketika malam tiba, beberapa burung migrasi seperti angsa liar, camar laut, bangau, hingga dara-laut arktik, menggunakan bintang untuk menjaga jalur perjalanan mereka.

Namun misteri terbesar burung, bukan hanya soal arah atau kecepatan. Bagaimana mereka mampu menempuh ribuan kilometer, melintasi gunung, badai, bahkan samudra gelap pada malam hari?

Dalam beberapa percobaan oleh para peneliti, burung migrasi terlihat kebingungan ketika pola bintang pada langit buatan diubah. Mereka juga menemukan beberapa spesies burung memiliki kemampuan mendeteksi medan magnet bumi.

Ada teori mengenai protein khusus bernama cryptochrome yang terdapat pada mata burung migrasi, seperti robin Eropa dan merpati pos, yang membantu mereka merasakan arah magnetik melalui cahaya. Sebagian ilmuwan juga menemukan partikel magnetit kecil pada tubuh beberapa spesies lain, termasuk merpati pos dan angsa liar, yang membantu mereka mengenali utara dan selatan.

Mungkin itu pula sebabnya, banyak burung migrasi tetap dapat menemukan jalan meskipun langit mendung atau malam terlalu gelap.
Menariknya lagi, burung migrasi jarang melakukan perjalanan jauh sendirian. Banyak spesies bergerak dalam formasi besar berbentuk huruf V. Selama bertahun-tahun orang mengira susunan itu hanyalah sebuah kebiasaan, sampai penelitian menunjukkan bahwa pola tersebut membantu mereka menghemat energi.

Burung di depan menghadapi hambatan udara paling besar, sementara yang lain memanfaatkan aliran udara dari kepakan sayap di depannya. Setelah beberapa waktu, posisi pemimpin akan berganti ke belakang. Mereka seolah berbagi kelelahan di udara, sehingga perjalanan panjang terasa lebih ringan.

Lalu bagaimana dengan ungkapan “secepat burung” yang sering kita gunakan? Berapa sebenarnya kecepatan mereka?

Ternyata tidak ada satu angka resmi untuk itu. Merpati pos misalnya, mampu melaju sekitar 60 hingga 90 kilometer per jam ketika kembali ke rumahnya. Burung migrasi besar seperti angsa liar memiliki kecepatan rata-rata sekitar 50 hingga 80 kilometer per jam. Sementara Alap-alap kawah (Falco peregrinus) dapat melesat lebih dari 300 kilometer per jam ketika menukik memburu mangsa.

Jadi, sebelum dunia dipenuhi layar digital, satelit, dan GPS, orang telah belajar mengenali arah dari langit. Bahkan di tengah lautan yang tampak tidak bertepi, seekor burung dapat menjadi pertanda bahwa daratan tidak lagi terlalu jauh. Bagi pelaut kuno, itu menjadi kabar baik yang memberi harapan bahwa sebentar lagi, mereka akan mencapai daratan.

Burung bukan sekadar penghuni udara. Mereka pernah menjadi penanda musim, petunjuk daratan, simbol kebebasan, bahkan bagian penting dari sejarah navigasi kita. Aneh rasanya membayangkan sebagian burung migrasi masih mampu menempuh perjalanan ribuan kilometer dengan bantuan bintang dan medan magnet bumi.

Sementara diriku, dengan navigasi ponsel di tangan, kadang masih tersesat di jalan yang pendek.

Dan soal “kabar burung” itu, mungkin sejak dulu orang terbiasa melihat mahkluk angkasa ini sebagai lambang sesuatu yang bergerak cepat. Jadi benar juga, jika dipikir-pikir, sebagian dari kabar simpang-siur, sering seperti burung, sulit ditangkap, termasuk berita yang menyebar dari mulut ke mulut.

Yuk, bagikan tulisan ini di...

Leave a Comment