Benda melahirkan kenangan. Dan kenangan membuat kita takjub. Setidaknya itulah yang aku rasakan setiap kali berdiri di depan bangunan batu.
Kota Arles, tempat tinggalku selama 22 tahun terakhir, hampir separuh peninggalan kunonya diberi label UNESCO sebagai warisan dunia. Batu-batu itu dirawat dengan keseriusan yang nyaris sakral.
Dari Eropa yang memelihara batunya dengan tekun, pikiranku sering kembali ke tanah pertiwi. Bukankah di negaraku juga banyak peninggalan yang disusun dari batu?
Kita semua mengetahui berat batu. Medianya keras, dingin, berat, dan pada ukuran tertentu, bisa tidak ramah punggung. Namun, manusia justru mengukir, menyusun, menatanya seperti puisi berirama. Lalu, memberinya nama yang agung: candi.
Batu candi bukan sekadar arsitektur. Sekarang, ia menjema jadi buku waktu. Reliefnya membentuk paragraf. Prasastinya menjadi tanda tangan. Saat pembuatannya mencatat tahun terbit.
Di dunia yang serba tergesa-gesa, candi hadir sebagai penyeimbang paling elegan. Dalam batu yang terusun apik ini, kita bisa melihat sesuatu yang dilekatkan dengan kebesaran hati.
Borobudur dan Prambanan, misalnya, dibangun pada akhir abad ke-8 hingga ke-9, menunjukkan bagaimana arsitektur, ritual, dan narasi bisa menyatu dalam satu lanskap spiritual.
Bukan hanya Indonesia. Batu semacam candu arsitektur lintas peradaban. Yunani membangun kuil bagi dewa-dewi. Romawi merancang amfiteater bagi massa dan kekuasaan. Penguasa Mesir mengunci konsep keabadian lewat piramida.
Mengapa manusia begitu terobsesi mengerjakannya? Padahal, pada zamannya, memindahkan material, menempatkan secara presisi, memastikan stabilitas struktur, dan menambahkan ukiran detail.
Semua dilakukan dengan perhitungan manual dan tenaga manusia. Satu kesalahan kecil bisa berujung tragedi. Jawaban paling bersahaja barangkali karena manusia rindu keabadian.
Candi itu semacam bentuk kharisma yang disepakati bersama pada satu masa. Ornamennya menyimpan kode budaya, simbol kosmologi, status, dan nilai. Satu prasasti yang memuat catatan kaki tentang sang pecetus ide, siapa, kapan, dan untuk apa.
Dan sekarang kita paham, jika dipikirkan dengan matang, sekumpulan batu yang tadinya hanya berserakan dapat dibentuk dan dikumpulkan, untuk menciptakan kenangan panjang.