Paskah: Ketika Kalender, Bulan Purnama, dan Angka Bertemu

Tidak semua hari raya datang dengan tanggal yang tetap. Hari Paskah, misalnya. Kadang ia muncul di akhir Maret, atau baru hadir di April. Mengapa begitu?

Jika melihat sejarahnya, perayaan itu diwarnai lapisan cerita yang panjang. Dari kepemimpinan Nabi Musa membawa dua juta umat Yahudi keluar dari tanah perbudakan di Mesir, kemudian kata itu beredar dalam berbagai bahasa, ditambah refleksi gereja setelah menyadari perayaan itu perlu diseimbangkan dengan perputaran bumi dan peredaran bulan.

Mari kita memulainya dengan melihat akar katanya. Paskah berasal dari tradisi Yahudi kuno yang disebut Pesach. Dalam bahasa Ibrani, kata ini berarti melewati atau melompati. Istilah Pesach merujuk pada kisah dalam Kitab Keluaran ketika malaikat maut diceritakan “melewati” rumah-rumah bangsa Israel pada malam sebelum mereka keluar dari Mesir.

Lalu melalui bahasa Yunani dan Latin, kata ini menyebar ke berbagai bahasa di Eropa. Dari sana muncul bentuk-bentuk yang kita kenal sekarang: Pâques dalam bahasa Prancis, Pasqua dalam bahasa Italia, dan Paskah dalam bahasa Indonesia.

Dan jika kita masuk dalam tradisi Kristen, Paskah dirayakan untuk memperingati kebangkitan Yesus, sebuah peristiwa yang menurut Injil terjadi beberapa hari setelah perayaan Pesach Yahudi. Karena itulah kedua tradisi ini sejak awal memiliki hubungan yang sangat erat.

Pertanyaan tentang perubahan tanggal Paskah sebenarnya sudah menjadi perdebatan gereja sejak awal. Kesepakatan baru akhirnya diatur pada tahun 325, tepatnya pada perjanjian Konsili Nicea.

Namun, aturan ini sempat menghadapi masalah besar, karena di Kalender Julian, satu tahun panjangnya 365,25 hari. Selisih yang tampaknya sangat kecil itu lama-kelamaan menumpuk. Setelah lebih dari seribu tahun, tanggal musim semi dalam kalender sudah bergeser hampir sepuluh hari dari posisi sebenarnya di langit.

Ini membuat Hari Paskah datang lebih awal. Tidak lucu rasanya jika suatu hari, Natal dan Paskah terjadi di hari yang sama.

Karena perhitungan Paskah bergantung pada purnama pertama setelah musim semi, gereja akhirnya melakukan koreksi besar terhadap kalender. Pada 1582, Paus Gregorius XIII memperkenalkan kalender baru yang kemudian dikenal sebagai Kalender Gregorian.

Koreksi itu cukup drastis. Untuk mengembalikan kalender ke posisi yang sesuai dengan pergerakan matahari, sepuluh hari dihapus sekaligus. Setelah tanggal 4 Oktober 1582, hari berikutnya langsung menjadi 15 Oktober 1582.

Perubahan juga dilakukan pada aturan tahun kabisat. Dalam kalender baru ini, tahun tetap dianggap kabisat setiap empat tahun, tetapi tahun abad tidak lagi otomatis menjadi kabisat.

Hanya tahun yang habis dibagi 400 yang tetap dihitung sebagai tahun kabisat. Karena itulah tahun 1700, 1800, dan 1900 bukan tahun kabisat, sementara tahun 2000 kembali menjadi tahun kabisat.

Dengan penyesuaian ini, kalender kembali selaras dengan pergerakan matahari, dan perhitungan tanggal Paskah pun menjadi jauh lebih stabil.

Yang menarik, di balik penentuan tanggal Paskah, tersembunyi satu angka yang sangat penting, yaitu angka 19.

Para astronom sejak zaman Yunani telah mengetahui bahwa 19 tahun matahari hampir sama dengan 235 bulan. Setelah periode ini, fase bulan kembali hampir pada pola yang sama. Pola tersebut dikenal sebagai Siklus Metonik, sebuah cara untuk menyelaraskan kalender matahari dengan pergerakan bulan.

Prinsip yang sama juga muncul dalam berbagai sistem penanggalan lain, termasuk kalender Yahudi dan kalender Imlek. Dengan memahami pola ini, manusia dapat memperkirakan kapan bulan purnama akan muncul dalam kalender tahunan.

Kita ambil contoh tahun 2026. Menurut perhitungan Siklus Metonik tadi, bulan purnama pertama yang muncul setelah 21 Maret, jatuh sekitar akhir Maret. Karena itu, Hari Minggu berikutnya, yaitu 5 April 2026 menjadi tanggal Paskah tahun ini.

Begitu kira-kira kronologi perhitungan dalam kalender gerejawi.

Paskah sering identik dengan telur. Namun, selama masa prapaskah, telur justru sering dihindari. Ketika masa empat puluh hari menahan makan telur itu berakhir, manusia membuat simbol.

Namun, sekali lagi, simbol ini bisa dikatakan diadapsi dari tradisi bangsa Yunani dan Romawi, yang menganggap telur sebagai lambang kehidupan baru.

Manusia memang kreatif, dari larangan makan telur, lahir tradisi menghias telur Paskah yang masih populer hingga sekarang. Termasuk menyembunyikan telur atau cokelat berbentuk kelinci dan telur di taman untuk diburu anak-anak. Kegiatan ini sekaligus menandai datangnya musim semi.

Jika dilihat sepintas, Paskah hanyalah sebuah hari raya yang datang setiap tahun. Namun, di balik tanggal yang tampaknya berubah-ubah itu tersimpan cerita panjang. Dimulai dari kisah kuno bangsa Israel keluar dari perbudakan di tanah Mesir, perjalanan sebuah kata yang melintasi banyak bahasa, hingga berbagai diskusi, termasuk ketika gereja mengambil keputusan mengganti kalender, agar siklusnya selaras dengan peredaran matahari dan bulan. Mungkin karena itulah Paskah selalu terasa istimewa.

Untuk para pembaca kristiani di mana pun kalian berada, selamat Paskah! Rayakan hari istimewa ini dengan penuh suka cita. Damai di bumi, damai di hati, kepada semua yang berkenan kepada-Nya.

Yuk, bagikan tulisan ini di...

Leave a Comment