8 Maret: Ketika Perempuan Dunia dan Indonesia Berpikir Serempak

Mendidik perempuan berarti mendidik seluruh bangsa. Ungkapan dari Afrika ini terasa tepat untuk mengingat tanggal 8 Maret yang diperingati sebagai Hari Perempuan Sedunia.

Hari itu tidak lahir dari perayaan. Di Petrograd, di tengah perang dan kelaparan, ada aksi perempuan Rusia yang menuntut roti. Para buruh perempuan ini bahkan dianggap terlalu berani untuk zamannya dan hampir mengguncang kekuasaan Tsar.

Rusia pada masa itu masih menggunakan sistem penanggalan Julian hingga 31 Januari 1918. Jika ditelusuri dari kalender Rusia lama, hari itu sebenarnya tanggal 23 Februari 1917. Lalu, setelah pemerintahan baru mengadopsi kalender Gregorian, hari berikutnya langsung menjadi 14 Februari 1918, atau melompat 13 hari sekaligus.

Dalam konversi ke kalender Gregorian itulah, tanggal 23 Februari 1917 menjadi 8 Maret, dan tanggal inilah yang kemudian diperingati sebagai Hari Perempuan Sedunia.

Yang menarik, perempuan Indonesia sudah memulai perjuangan itu, jauh sebelum ada aksi demo perempuan di Rusia. Malah bisa dikatakan pionir. Meskipun di Indonesia, Hari Kartini secara resmi baru ditetapkan pada 1964 oleh Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno.

Waktu tak pernah berbohong, mari kita melihat latar sejarah nusantara kita.

Pada akhir abad ke-19, di Jepara, Raden Ajeng Kartini menulis surat-surat tentang pendidikan dan kebebasan berpikir dalam bahasa Belanda. Ia menulis antara 1899 hingga 1904.

Kartini wafat pada 17 September 1904, beberapa hari setelah melahirkan putranya. Artinya, ketika Kartini berbicara tentang hak perempuan untuk belajar dan berpikir, dunia bahkan belum memiliki hari internasional untuk memperingatinya.

Empat tahun setelah Kartini wafat, pada 1908, pernah ada ribuan buruh perempuan turun ke jalanan di Kota New York. Saat itu, mereka menuntut jam kerja yang lebih manusiawi dan hak politik.

Dua tahun kemudian, pada 1910, aktivis Jerman, Clara Zetkin, mengusulkan satu hari internasional bagi perempuan dalam konferensi di Kopenhagen. Gagasan itu diterima, meskipun tanggalnya belum ditetapkan.

Sekarang, kita kembali ke Indonesia. Sering kali kedua tanggal itu terasa terpisah. Padahal jika ditelusuri dari sisi waktu, keduanya seperti dua percikan api yang menyala hampir bersamaan.

Mereka tidak saling mengenal, tetapi sama-sama lahir dari kegelisahan yang sama: keinginan agar perempuan mendapat kesempatan belajar dan menentukan hidupnya sendiri.

Tidak hanya Kartini, di Nusantara, banyak perempuan perkasa yang turut bersuara dengan lantang.

• Di Aceh, Cut Nyak Dien berdiri di garis depan, membawa misi melawan kolonialisme.
• Di Bandung, Dewi Sartika membuka jalan pendidikan bagi perempuan melalui sekolah yang ia dirikan.
• Di Minahasa, Maria Walanda Maramis memperjuangkan hak perempuan untuk belajar dan berorganisasi.

Medan mereka berbeda, cara mereka pun tidak sama. Namun, satu hal menyatukan semuanya: kesadaran bahwa masa depan sebuah masyarakat sering kali dimulai dari pendidikan yang diterima di rumah.

Dan makna rumah, sering dikaitkan dengan perempuan. Sedangkan perempuan pada hakekatnya adalah seorang ibu atau calon ibu. Mungkin peribahasa dari tanah Arab ini bisa memberi gambaran tentang peran itu:

“Al-ummu madrasatun ula” (ibu adalah sekolah pertama bagi manusia).

Secara simbol, angka 8 sering dipandang sebagai tanda keseimbangan. Bahkan jika diputar ke samping, ia menyerupai simbol tak terbatas yang diperkenalkan matematikawan Inggris John Wallis pada tahun 1655.

Hari ini, kita bisa menulis di blog, mengunggah video, atau berbagi gagasan di ruang digital tanpa harus mempersoalkan apakah kita perempuan atau laki-laki.

Habis gelap terbitlah terang. Kini, perempuan di mana pun, jika berpotensi, bisa menjadi ilmuwan, pemimpin, bahkan astronot yang berangkat ke luar angkasa, dan memangku berbagai jabatan penting di dunia.

Dan mungkin itulah makna 8 Maret yang sesungguhnya. Peringatan ini bukan sekadar tanggal, melainkan pengingat bahwa sejarah berubah ketika ada yang berani bersuara.

Untuk seluruh perempuan di dunia, semoga hari ini menjadi hari penuh makna buat kita semua.

Yuk, bagikan tulisan ini di...

Leave a Comment