Idulfitri: Ketika Mudik Menjadi Cerita Sakral

Saat azan berkumandang dan waktu ibadah tiba, ada seruan untuk umat agar meninggalkan urusan jual-beli, dan bersegeralah mengingat Tuhan. Sejenak, manusia diminta berhenti dari kesibukan dan menuju tempat ibadah. Begitu pula ketika Idulfitri tiba. Ada semacam panggilan yang menggema dalam ingatan, untuk pulang ke kampung halaman.

Setiap tahun, setelah satu bulan berpuasa, umat Islam di berbagai penjuru dunia menunggu satu hari yang terasa berbeda. Pagi ketika masjid dipenuhi orang, jalanan menjadi ramai oleh salam, dan pintu-pintu rumah terbuka lebih lebar. Hari itu dikenal sebagai hari kemenangan yang bersahaja: Idulfitri.

Di Indonesia, hari raya ini sering disebut Lebaran. Kata yang sederhana, tetapi sarat makna. Ia bukan hanya menandai berakhirnya bulan puasa, tetapi juga menghadirkan suasana pulang, berkumpul, dan saling memaafkan.

Tradisi Idulfitri sendiri telah ada sejak masa awal Islam pada abad ke-7. Setelah kewajiban puasa Ramadan dijalankan, datanglah hari pertama Bulan Syawal sebagai tanda berakhirnya masa menahan lapar dahaga dan mempertebal takwa.

Sejak zaman Nabi Muhammad, hari itu dirayakan secara sederhana: salat bersama, saling menyapa, dan berbagi makanan dengan sesama.

Bahkan sebelum Salat Idulfitri dilaksanakan, umat muslim yang mampu diwajibkan membayar zakat fitrah, agar setiap orang, termasuk mereka yang papa, dapat merasakan kegembiraan hari raya.

Dengan cara ini, puasa tidak hanya menjadi latihan pribadi, tetapi merupakan jembatan sosial yang menghubungkan manusia satu sama lain.

Di Indonesia, Idul Fitri kemudian berkembang menjadi perayaan budaya yang sangat khas. Setiap tahun media melaporkan arus mudik dan arus balik. Bandara, stasiun, terminal, pelabuhan, hingga jalan tol dipenuhi lautan manusia yang membawa koper, kardus, dan oleh-oleh.

Perjalanan itu sering melelahkan. Ada yang harus duduk berjam-jam di bus, berdesakan di kereta, atau menempuh perjalanan jauh dengan sepeda motor. Namun, setiap tahun jutaan orang tetap melakukannya.

Mengapa orang tetap mudik meskipun bisa menyapa lewat medsos? Barangkali karena kerinduan akan kampung halaman dan bertemu fisik itu dinilai lebih utuh. Kehangatan sebuah pelukan dan tawa di ruang keluarga rasanya tak tergantikan dengan selintas tatapan di layar.

Dalam budaya Jawa ada ungkapan sederhana yang sering diingat saat Lebaran:

Mangan ora mangan sing penting kumpul.

Artinya, “Makan atau tidak, yang penting tetap kumpul-kumpul.” Mungkin itu sebabnya perjalanan pulang selalu terasa penting, betapapun panjang dan melelahkannya.

Sesampainya di kampung halaman, aneka hidangan telah menunggu di meja makan. Dari ketupat, opor ayam, rendang, sambal goreng, dan berbagai sajian. Menu sambutan itu serasa turut menghapus rasa lelah, setelah menempuh jarak jauh. Makanan-makanan itu bukan sekadar menu hari raya, tetapi juga bagian dari ingatan kolektif tentang keluarga.

Pada hari itu, orang-orang saling mengucapkan maaf. Ada yang datang ke rumah kerabat, ada yang bersalaman setelah salat. dan ada pula yang sekadar duduk bersama sambil berbincang. Setiap orang seakan memiliki begitu banyak cerita untuk dibagikan.

Di Indonesia, tradisi saling memaafkan ini bahkan berkembang menjadi sebuah kebiasaan yang khas. Kita menamainya halal bihalal. Di momen itu, keluarga, tetangga, hingga rekan kerja berkumpul dalam satu kesempatan untuk bersalaman dan saling bermaafan.

Pada gilirannya, meminta maaf membutuhkan keberanian, sementara bisa memberi maaf, dibutuhkan kebesaran hati. Dan silaturahmi seperti ini dikatakan dapat memperpanjang umur dan melapangkan rezeki.

Ungkapan lain yang sering terdengar adalah “minal aidin wal faizin”, yang secara umum dipahami sebagai harapan agar kita kembali menjadi orang-orang yang menang. Bukan menang atas orang lain, melainkan menang atas diri sendiri setelah berhasil menahan hawa nafsu.

Pada akhirnya, Idulfitri bukan hanya tentang berakhirnya puasa, tetapi juga tentang perjalanan pulang, bukan hanya ke rumah, tetapi juga ke hati kita, agar lebih lapang.

Bagi pembaca yang bersiap mudik. Semoga lancar di perjalanan dan selamat sampai tujuan, baik berangkat ataupun kembali nanti.

Kepada pembaca muslim di manapun kalian berada, selamat Idulfitri. Mohon maaf lahir batin. Semoga peristiwa setahun sekali ini membawa banyak arti dalam hidup kita. Minal aidin wal faizin.

Yuk, bagikan tulisan ini di...

Leave a Comment