Aksara: Bagaimana 26 Huruf Mengalahkan Waktu

Huruf abjad. Sering juga dipanggil aksara. Dalam bahasa Sansekerta, kata “aksara” berarti yang tidak rusak dan tidak binasa. Susunannya baku, bisa dipadu tak beraturan. Darinya, lahir kata. Dengannya, kita bisa membentuk kalimat, sekaligus mengabadikan data peradaban.

Dalam bahasa Indonesia atau Latin standar, deretan abjad ini hanya berisi 26 karakter. Fisiknya tak lebih dari coretan garis lurus dan lengkung yang menugaskan 5 vokal dan 21 konsonan menjadi susunan nada.

Meskipun terbaca sederhana, dari kombinasi inilah, manusia menulis kitab suci, kontrak hukum, puisi cinta, hingga pesan singkat yang bisa menyelamatkan atau menghancurkan hidup seseorang. Dua puluh enam simbol ini secara gegap gempita menyimpan gagasan manusia dari waktu ke waktu.

Sebelum ada aksara, manusia sudah hidup ribuan tahun tanpa mencatat. Mereka berburu, bercocok tanam, membangun rumah, bahkan berperang.

Begitu yang bersangkutan meninggal, kejadian di dunia dilupakan, paling ada beberapa cerita dari mulut ke mulut, dan bisa sampang-siur. Jika satu generasi lalai, sejarah ikut hilang.

Lalu sekitar 3200 tahun sebelum Masehi, di wilayah Mesopotamia, manusia mulai membuat tanda pada tablet tanah liat. Bukan untuk menulis puisi, apalagi memberi kajian filsafat, tetapi untuk mencatat gandum dan ternak.

Ide tulisan pun lahir dalam bentuk aksara paku, cuneiform. Dari inovasi itu, manusia pertama kali mengunci suara dan ingatan menjadi catatan. Kebutuhan menulis semakin dibutuhkan manusia untuk menandai berbagai peristiwa.

Di Mesir, tulisan berkembang menjadi hieroglif. Siapa yang bisa menulis dianggap sekaligus menguasai pengetahuan. Ada gambar burung, mata, air, matahari, dan lain sebagainya. Tulisan bukan lagi hanya sebagai alat, tetapi secara sakral sebagai simbol kekuasaan.

Di Tiongkok, karakter Han berkembang dari simbol-simbol untuk mewakili benda dan gagasan. Di sana, kaligrafi lahir sebagai disiplin jiwa. Karakter ini telah diadaptasi untuk menulis beberapa bahasa lain, termasuk huruf kanji Jepang, hanja Korea, dan Chữ Nôm Vietnam.

Lalu datanglah revolusi yang mungkin jarang dibicarakan. Bangsa Fenisia menyederhanakan semuanya. Mereka tidak lagi menggambar matahari atau burung, tetapi menulis bunyi. Sesuai kebutuhan, padu padan dengan berbagai huruf dirangkai menjadi kata apa saja.

Dari sistem sederhana inilah lahir alfabet Yunani, lalu Latin, dan akhirnya A sampai Z yang kita gunakan hari ini.

Alfabet merupakan hasil perjalanan panjang peradaban yang saling meminjam dan menyempurnakan. Sebab, manusia menyadari suara yang terucap bisa hilang, ingatan bisa kabur.

Sementara, apa yang tertulis bisa tersimpan. Buktinya, hari ini, kita masih dapat membaca Hukum Hammurabi atau dialog Plato, dan ukiran prasasti di candi-candi. Padahal, tahun kejadiannya sudah ribuan tahun.

Dan yang paling mengagumkan adalah, dari 26 huruf ini, lahir kombinasi kata yang mungkin hampir tak terbatas. Dari deretan ini pula, lahir komposisi kata “damai” dan “sengketa”, demikian juga dengan kata “benci” dan “cinta”. Aksara itu netral, manusialah yang memberinya arah.

Seperti angka 0 sampai 9 yang melahirkan komponen matematika, perpaduan huruf telah melahirkan seluruh bahasa dan menjadi mesin kombinasi paling genius yang pernah diciptakan manusia. Itulah mengapa di banyak budaya, aksara dianggap sakral.

Semua yang kita sebut peradaban berdiri di atas nyanyian alfabet yang kita pelajari saat masih kanak-kanak. Karena kita sudah mengetahui rahasia susunan huruf itu, rajin-rajinlah membaca. Karena aksara memungkinkan manusia berkaca pada masa lalu, berbicara di zaman sekarang, serta merancang masa depan.

Yuk, bagikan tulisan ini di...

Leave a Comment