Dimensi Cinta

Dimensi Cinta

“Orang baik bukan hanya terus berujar tentang kebaikan
Lebih daripada itu, ia berbuat!”

Demikian sebaris kalimat yang kutanam dalam hati
dan kucoba mengamalkannya setiap kali
dengan meletakkan nurani
pada yang lebih hakiki

Jika hujan terhenti, engkau dapat melihatnya dalam bentuk pelangi

Hanya sepasang sepatu
Beralas bahan kapas selembut salju
Untuk menghangatkan kakimu
Yang kusarungkan dengan perasaan pilu

Sendi kakimu terasa kaku,
lebih mirip sepasang kayu
Kulihat sejengkal dari jemari itu mengurat biru

Usia tua telah merampas seluruh kelenturan kulitmu
begitu pula penglihatanmu
Keriput dan tulang seperti bersatu
Makanan pun agak sulit diserap tubuh
Kursi roda itu menjadi kendaraan sekaligus penentu gerakmu

Tetapi semua kekurangan itu, tidak pernah merampas pesonamu

Engkau tersenyum menyambutku
menanyakan kabar
mengucapkan terima kasih berulang-ulang
dan kembali lagi pada kalimat barusan

Lalu, kugenggam kedua tanganmu…
tetapi aku menjadi malu
Sebab, aku merasa mencuri tenagamu
agar dapat menguatkanku

Iya, menguatkan hatiku
Yang menjerit karena menentang keadaanmu!

Aku tahu, perhatian ini takkan pernah setara
Tetapi menurutmu, itu lebih berharga
dari seribu ucapan sayang yang engkau terima

Lalu kupeluk tubuh ringkih itu
Dan kuingat berbagai jasanya
Kutemukan dunia cinta
Di mana setiap aku terjebak dalam gelisah,
tangan itu membentang seketika
seperti hendak menampung seluruh asa
hingga aku merasa lega

Jika di suatu hari mendatang aku tak lagi bisa menjumpaimu,
semoga aku masih diberi waktu menanamkan bunga di atas pusaramu.


– Puisi ini kubuat untuk Mareinne, ibu angkatku dari Kota Arles, seorang perempuan tangguh yang kini menetap di rumah jompo.

2 Replies to “Dimensi Cinta”

  1. Morning Sis,

    Baru baca ini, huhuhu, derai air mata ingat Eyang tersayang dan was’was takut kehilangan Ibunda 🙁

    Gue baca yaaaa…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *