Barangkali aku kualat karena sudah memberi rumah baruku yang masih bersolek julukan “rumah petak”. Akibatnya, aku benar-benar merasakan bagaimana tinggal di kamar (hotel) yang cuma sepetak di masa transisi ini. Di sini tembok, di sana tembok, diapit sepotong kasur dengan pemandangan sebuah televisi. Dan itu harus kualami sampai hari ini. Artinya, sudah sekitar dua bulan aku tinggal di hotel sepetak.
rumah
Pindah dari Istana Jelita ke Rumah Vila – Part V

Terus terang, pindah rumah adalah sesuatu yang asing bagiku. Biasanya, aku hanya rajin memindahkan koper. Berdasarkan pengalaman pribadi, isi koper pun berkurang drastis begitu aku mulai membuka kuncinya. Sehingga beban terberatku hanya mengangkatnya.
Pindah dari Istana Jelita ke Rumah Vila – Part IV

Aku seperti seorang pelari maraton. Suhu musim gugur yang terus menurun tidak mampu menghalauku dari rasa gerah. Pekarangan samping istana mini kupandang dengan sendu.
Pindah dari Istana Jelita ke Rumah Vila – Part III

Sepulang dari menengok rumah petak, aku bergegas kembali ke istana mini. Seluas mata memandang, setiap sudut istana mini ini sudah dijajah barang yang akan dipindahkan atau dihibahkan.
Pindah dari Istana Jelita ke Rumah Vila – Part II

Aku baru saja menandatangani urusan jasa pengangkutan. Namanya Demanegement Chevallier. Slogan mereka: Memindahkan barang adalah sebuah profesi. Aku membaca sebuah map yang mereka berikan. Terdapat beberapa saran profesional. Semoga bisa kuceritakan lain waktu sebagai tips bagi yang juga ingin pindah rumah.
Pindah dari Istana Jelita ke Rumah Vila – Part I

Seorang sahabat kolaborasi memintaku menulis tentang rumah baruku yang belum beratap. Tidak masalah. Namun, apa yang akan kutulis? Pikir punya pikir, kalau tidak ada atap, air langsung mengguyur ketika hujan, angin mengirim debu, untuk berteduh dari terik pun minimal harus membawa payung atau tenda.
