Manusia tidak selalu hidup dalam kata-kata panjang. Ketika menulis menjadi kebutuhan, mereka sudah belajar memendekkan bahasa. Apakah mereka malas? Tunggu dulu. Secara logis, keadaanlah yang memaksa.
BTW (Bicara Tentang Waktu), kitapun melakukan hal yang sama. Berusaha membuat sesuatu agar lebih mudah. Namun, IDE (Imajinasi Dari Empati) dan penerapan itu dua hal yang berbeda. Setelah terjadi uji coba di lapangan, barulah kendala muncul. OOT (Orang-orang Terdahulu) juga demikian. Dan singkatan lahir dari kendala itu.
Di Kekaisaran Romawi, bangsa yang gemar membuat jalan dan mendirikan tembok ini, misalnya. Singkatan tidak lahir karena krisis moneter. Setiap perluasan wilayah, ada batas yang harus ditandai, sedangkan biaya memahat batu tidak murah. Maka lahirlah singkatan-singkatan resmi yang kini kita kenal.
VIP (Versi Itu Penting). Pada batu-batu kokoh atau yang sekarang sudah jadi reruntuhan, banyak huruf-huruf singkat terukir.
Singkatan pada masa itu bukan permainan. Salah satunya yang paling terkenal adalah SPQR alias Senatus Populusque Romanus, atau Senat dan Rakyat Roma. Empat huruf yang digoreskan di batu mewakili identitas kekuasaan dan kebanggaan kekaisaran Roma.
Memasuki Abad Pertengahan, situasinya berbeda, tetapi alasannya tetap sama: mahal. FYI (Fase Yang Ironis). Masa itu, perkamen dibuat dari kulit binatang. Tinta diracik dengan susah payah. Para penyalin manuskrip yang bekerja berjam-jam di ruang dingin biara mulai menyingkat kata-kata Latin agar menghemat ruang dan waktu.
Mereka masuk tahap PHP (Pikiran Harus Proses). Tanda-tanda khusus muncul untuk menggantikan akhiran atau suku kata tertentu. Singkatan menjadi teknik profesional.
Ketika negara modern dan militer berkembang, singkatan kembali menemukan panggungnya. Administrasi membutuhkan kecepatan dan ketepatan. Nama-nama panjang lembaga berubah menjadi rangkaian huruf yang ringkas: NATO, FBI, KGB.
Menariknya, banyak orang mengenal singkatannya lebih baik daripada kepanjangannya. Entah karena lebih mudah diingat, atau karena OKE (Otak Kreatif), maka lahirlah pelesetan kocak: NATO (Not Action, Talking Only), FBI (Fakta Bikin Iri), KGB (Kadang Gagal Bangkit).
Lalu datanglah telegram pada abad ke-19. Pesan yang ditulis terdengar aneh bagi telinga kita. Cara bertutur ini masih satu keluarga dekat singkatan. Misalnya:
TIBA SELAMAT STOP KOPER HILANG STOP MOHON DOA STOP. OTAK PENUH STOP DOMPET KOSONG STOP MERINDUKANMU STOP SEGERA PULANG STOP
Karena setiap kata dihitung, untuk menghemat biaya, orang belajar memotong kalimat hingga hanya menyisakan inti pesan. Tanda baca pun dikurangi. Ini demi menghindari risiko salah tafsir dalam transmisi jarak jauh.
Namun, selama hampir 150 tahun, telegram menjadi jembatan komunikasi manusia, sampai teknologi telepon dan faksimili lahir.
Ketika teknologi bergerak ke telepon seluler dan pesan singkat, kebiasaan menyingkat kata berkembang lebih jauh. Kini, bukan lagi batu atau perkamen yang mahal. SMS membatasi jumlah karakter. Maka lahirlah “tdk”, “yg”, “gk”, “btw”, “lol”, dan sebagainya.
Dalam perjalanan panjang itu, singkatan ikut berubah sesuai fungsi sosial, dan menjadi bahasa sandi generasi. Jika seseorang memahami arti TTM, LDR, PHP, atau TST, ia dianggap “mengerti zaman”. Jika tidak, ia dicap kurang gaul.
Di sinilah singkatan mulai memiliki sisi yang lebih manusiawi. Ia tidak lagi kaku atau resmi seperti kode militer. Namun, ia bisa lucu, kreatif, dan kadang nakal. Memendekakan kata, bisa memperpanjang tawa. Contohnya, gelar PHD yang keren, dipelesetkan menjadi lulus Pas Hampir DO.
Singkatan kadang bisa mendinginkan emosi. Padahal jika dibaca secara utuh, tergambar berat definisinya. Seperti kata “Pemutusan Hubungan Kerja”. Jelas-jelas orang tersebut dinonaktifkan secara sepihak, dipecat dari pekerjaannya. Namun, ketika dibilang baru saja di-PHK, maknanya menjadi lebih administratif.
Beberapa istilah bahkan tidak lagi terasa seperti singkatan dan menjadi kata baru. Seperti mager untuk malas gerak, gabut untuk gaji buta, bucin artinya budak cinta atau jika kita ingin dihubungi secara langsung, cukup japri, artinya lewat jalur pribadi.
Ketika kata dipotong, perasaan pun kadang ikut tereduksi. Apakah ini kebetulan? Ataukah manusia memang ingin membuat hidup yang rumit terasa lebih ringan dengan memendekkan istilahnya? Dari batu Romawi hingga layar ponsel, singkatan berkembang mengikuti kebutuhan zamannya.
Sekali lagi, FYI (Fakta yang Indah), singkatan hanya memendekkan bentuk, tetapi maknanya tetap panjang, jika kita memahaminya dengan intuisi yang benar.