Heran: Antara Takjub dan Ketidakpastian

Aku heran, merasa takjub, bahkan tercengang, melongo sampai bengong, kemudian mengangkat alis dan mengernyit. Lalu diam sebentar.

Lucu, ya? Narasi di atas berbeda bunyi, gaya, bahkan tingkat kesopanannya. Ungkapan itu ada yang cocok di pasar, pusat pembelanjaan, ruang akademik, atau hanya pantas di dapur sambil menatap wajan. Namun, semuanya menunjuk ke satu hal yang sama: heran.

Heran Bukan Jawaban

Dalam bahasa sehari-hari, heran sering disamakan dengan kagum. Padahal, keduanya berlawanan arah. Heran justru muncul sebelum jawaban dan itu membuat kita merenung. Sedangkan kagum membuat kita berhenti. Dan di situlah banyak orang keliru.

Kagum berkata: “Oh, begitu.”

Heran bertanya: “Mengapa bisa begitu?”

Dalam tradisi Yunani kuno, ada satu kata yang jarang dibicarakan tetapi sangat menentukan: thaumazein.

Artinya: keadaan ketika pikiran terganggu karena dunia tidak lagi cocok dengan penjelasan yang kita miliki. Kata ini sering diterjemahkan sebagai takjub atau heran, meskipun maknanya jauh lebih gelisah.

Dan dari sanalah filsafat lahir. Bukan dari jawaban. Melainkan dari ketidakpuasan terhadap jawaban.

Mengapa para filsuf heran?

Aristoteles pernah mengatakan bahwa filsafat bermula dari rasa heran. Kalimat ini sering dikutip, tetapi jarang kita renungkan secara mendalam.

Heran memang bukan kondisi nyaman. Ia mengandung pertanyaaan, mengganggu keteraturan. Karena orang heran tidak puas dengan satu penjelasan. Itulah sebabnya para pemikir Yunani tidak sekadar mewarisi mitos, tetapi membongkarnya.

Mereka bertanya ulang tentang langit, angka, gerak, sebab, dan tujuan. Lalu menulis ulang pemahaman tentang dunia karena mereka tidak puas dengan cerita lama. Bagi para pemikir, heran adalah gangguan intelektual.

Tanda Tanya

Manusia bertanya lewat cerita, mengambarkannya dalam mitos, melalui pengulangan atau kegelisahan. Dalam banyak naskah awal, pertanyaan hidup tanpa disertai tanda baca.

Di situlah tanda tanya lahir. Ia bukan sekadar tanda baca, tetapi menurutku adalah gerak batin manusia. Bentuknya seperti separuh telinga, artistik, dan tepat. Karena tanda tanya muncul saat kita belum mendengar sepenuhnya, atau justru mendengar terlalu banyak, tetapi tidak yakin mana yang benar.

Angka Nol Lahir dari Heran

Banyak orang mengira nol adalah penemuan Arab. Padahal konsep nol berasal dari India, dari gagasan sunya, yang berarti kekosongan. Para matematikawan Arab tidak sekadar meminjamnya. Mereka heran: bagaimana sesuatu yang “tidak ada” justru membuat perhitungan menjadi lebih presisi?

Keheranan ini membuat nol dikembangkan, disistematisasi, lalu dibawa ke Eropa. Tanpa heran, nol hanyalah simbol. Dengan mempertanyakan, nol menjadi fondasi ilmu pengetahuan modern, juga dibakukan.

Ironisnya, justru karena diwariskan tanpa cerita keheranannya, asal-usul nol sering disalahpahami hingga hari ini.

Ambigu

Heran tidak sama dengan ketidaknyamanan. Meskipun seringnya berdekatan. Heran adalah momen ketika kenyataan tidak pas dengan keyakinan. Dan ketidaknyamanan adalah reaksi tubuh terhadap ketidakcocokan itu.

Banyak orang buru-buru menyingkirkan heran karena merasa tidak nyaman. Mereka lebih suka pada label dan kesimpulan cepat. Padahal, setiap lompatan pengetahuan besar selalu dimulai dari satu kalimat sederhana: “Ada yang tidak beres.”

Heran tidak memaksa kita menjadi pintar, melainkan membuat kita jujur pada kebingungan.

Ketidakcocokan Heran

Dalam dunia yang menuntut kecepatan, heran tidak produktif, bahkan bisa menjadi tanda bahaya. Karena ketika orang mempertanyakan otoritas, meragukan tradisi, menunda kesimpulan, serta menolak kepalsuan, ia akan meresahkan sebagian kelompok dan kepentingan.

Jika manusia berpikir cerdas, maka heran tidak bisa diringkas jadi slogan. Dan akan menjadi saringan pertama antara pengetahuan dan propaganda.

Ini membawa kita pada kesimpulan akhir. Bahwa masalah terbesar di zaman kita bukan kekurangan informasi, melainkan kelebihan kepastian. Kita terlalu cepat puas, padahal masih heran. Jika sudah begitu, mungkin kita perlu kembali membaca sejarah perabadan, di mana rasa heran berawal.

Yuk, bagikan tulisan ini di...

Leave a Comment