Bohong: Seni Mengingat yang Paling Melelahkan

Bohong: Seni Mengingat yang Paling Melelahkan
Aku bohong, berdusta, menipu dengan muslihat, berkelit, mengelabui, memutarbalikkan, bahkan menyamarkan. Aku berkamuflase dengan janji kosong, mengarang alasan, menyulap kata, merias kenyataan, juga menyampaikan setengah kebenaran, yang sering lebih berbahaya daripada kebohongan utuh.

Semua kalimat itu terdengar berbeda. Namun, maknanya satu: bohong.
Aneh, ya? Satu kata, begitu banyak wajah. Dan manusia, sejak dulu, sangat piawai memakainya.

Mengapa Manusia Berbohong?

Pertanyaan ini setua peradaban. Manusia berbohong bukan hanya untuk menipu orang lain, tetapi sering kali untuk bertahan. Tak jarang pula untuk menghindari rasa sakit, menunda hukuman, atau melindungi citra diri.

Namun, ada satu kalimat tua yang terus terngiang, entah siapa pertama kali menuliskannya:

Seorang pembohong harus memiliki ingatan yang kuat.

Kalimat ini sederhana, hampir seperti petuah di belakang buku tulis sekolah. Tetapi jika direnungkan, ia kejam. Karena kebohongan tidak pernah berdiri sendiri. Satu kebohongan menuntut kebohongan lain agar tetap konsisten.

Semakin banyak orang yang dibohongi, semakin berat beban ingatan yang harus dipikul. Hingga pada titik tertentu, pembohong tidak lagi membedakan mana yang ia ciptakan dan mana yang pernah sungguh terjadi.

Bohong dalam Mitologi: Kuda yang Hadir sebagai Hadiah

Dalam mitologi Yunani, ada satu kebohongan paling terkenal sepanjang sejarah: Kuda Troya.

Bukan kebohongan dengan kata-kata. Melainkan kebohongan dalam bentuk benda. Sebuah kuda kayu raksasa dihadiahkan sebagai tanda menyerah. Ia tampak indah, simbol perdamaian, bahkan kesalehan. Namun, di dalamnya bersembunyi pasukan yang kelak menghancurkan kota dari dalam.

Kebohongan ini penting karena memperlihatkan satu hal: efektif. Datang sebagai hadiah, solusi, menawarkan akhir dari konflik. Dan justru karena itu, ia dipercaya.

Kita tidak bisa menyebut “Kuda Troya” hanya sebagai metafora. Mitologi pun punya edisi, versi, dan jarak waktu. Yang kita warisi adalah narasi, bukan peristiwa mentah.

Perang Troya diperkirakan terjadi sekitar abad ke-12 SM, tidak muncul di Iliad secara langsung. Ia dibahas terutama dalam Odyssey (Homer, ± abad ke-8 SM). Aeneid karya Virgil (abad 1 SM). Karena justru kekuatan ceritanya ada pada detail sejarah dan versinya.

Dari Mitos ke Sejarah: Bohong yang Dicatat sebagai Fakta

Dalam sejarah, kebohongan jarang ditulis sebagai “bohong”. Ia dicatat sebagai narasi resmi.

Kerajaan menulis kemenangan. Penguasa menulis legitimasi. Sedangkan, yang kalah jarang diberi ruang untuk bersuara. Lambat laun, kebohongan yang diulang, diajarkan, dan dihafalkan berubah menjadi sesuatu yang terasa benar. Inilah titik di mana bohong bertemu angka. Serangkaian statistik palsu.

Data yang dipilih disusun untuk membenarkan keputusan serta memberi ilusi objektivitas. Padahal, angkanya sudah direkayasa.

Bohong Modern: Propaganda dan Kebiasaan Sehari-hari

Di zaman modern, kebohongan jarang hadir sebagai dusta terang-terangan.
Ia lebih sering muncul sebagai:

  • narasi yang disederhanakan
  • statistik yang dipilih
  • kalimat ambigu
  • janji yang tidak pernah berniat ditepati

Menariknya, kebohongan hari ini sering dibungkus dengan kalimat “demi kebaikan bersama”. Bohong tidak lagi sekadar perbuatan individu. Ia menjadi sistemik.

Bohong pada Diri Sendiri

Bagaimanapun, kebohongan paling berbahaya bukanlah yang kita ucapkan kepada orang lain. Melainkan yang kita bisikkan kepada diri sendiri.

  • “Aku baik-baik saja.”
  • “Ini tidak apa-apa.”
  • “Nanti juga berlalu.”

Kadang, bohong semacam ini menyelamatkan kita untuk satu malam. Namun, ia menghancurkan kita perlahan dalam jangka panjang. Ironisnya, kita sering lebih jujur kepada orang asing daripada kepada diri sendiri.

Ada satu bahaya terakhir dari kebohongan, yaitu ketika ia terlalu sering diucapkan, ia menjadi kebiasaan, bahasa, atau sejarah versi pendek.

Dan di titik inilah manusia kehilangan sesuatu yang penting: kemampuan membedakan.

Penutup: Mengingat yang Tak Ingin Diingat

Bohong bukan sekadar kata.

Ia adalah kemampuan manusia untuk membentuk kenyataan, sekaligus menghancurkannya. Setiap kebohongan menuntut ingatan. Setiap ingatan menuntut konsistensi.

Tidak semua manusia sanggup menanggung beban itu. Mungkin karena itu, kebohongan paling licik bukan yang kita buat, melainkan yang kita warisi, ulangi, dan terima tanpa pernah benar-benar kita pertanyakan.

Yuk, bagikan tulisan ini di...

Leave a Comment