
Ada nama-nama tertentu yang begitu melekat di ingatan. Kita mungkin hanya mendengarnya sepintas, bahkan sering lupa dari mana dan siapa yang menceritakannya. Namun, anehnya, nama itu tetap tinggal, seperti sebuah gema. Salah satu contohnya Antigone.
Cerita ini berasal dari mitologi Yunani. Sebagian dari kita tahu bahwa ia adalah tokoh tragedi. Sebagian lagi mungkin mendengar di teater, menonton di film, membaca di cerpen, lewat kutipan, kuliah, atau obrolan singkat.
ISI ARTIKEL
Kekuatan Antigone Karya Sopholes
Cerita Yunani kuno yang pertama kali dipentaskan lebih dari dua ribu lima ratus tahun lalu ini terasa masih begitu nyata.
Antigone memiliki dua saudara laki-laki: Eteocles dan Polyneices. Ringkas ceritanya, kedua saudara Antigone berperang memperebutkan kekuasaan di Kota Thebes dan akhirnya saling membunuh.
Setelah perang usai, penguasa kota, Kreon, menetapkan satu keputusan: Eteocles akan diperlakukan sebagai pahlawan dan dikubur dengan hormat. Sedangkan Polyneices, karena dianggap pengkhianat, dilarang dikubur dan jasadnya dibiarkan membusuk di tanah terbuka.
Bagi masyarakat Yunani kuno, larangan penguburan bukan sekadar hukuman simbolis. Jasad dibiarkan membusuk berarti jiwanya tidak pernah mencapai ketenangan dan merupakan bentuk penghapusan eksistensi manusia.
Itulah mengapa Antigone, saudara kandung dari kedua saudara yang berperang itu, bersikeras mengubur Polyneices, serta menanggung akibatnya. Dan efeknya, ia diceritakan dihukum mati.
Sederhana, bukan? Sepintas cerita ini terkesan tidak ada intrik rumit. Tak ada plot berlapis. Apalagi kejutan dramatis.
Dua Saudara, Dua Label
Sophocles menciptakan sebuah drama yang sangat cerdas. Ia mengosongkan tokoh kepahlawanan agar konflik berpindah dari kisah keluarga menjadi persoalan simbol. Padahal yang menjatuhkan hukuman, dalam hal ini, Raja Kreon, bukan seorang penjahat. Dan bahkan mereka masih bersaudara dekat, karena Kreon adalah paman dari ketiga tokoh itu.
Ketika pertama kali aku mendengar kisah ini, aku berasumsi bahwa kisah tersebut bercerita tentang kebaikan melawan kejahatan. Namun, setelah berpikir lebih jauh, rasanya penilaianku itu terlalu sederhana.
Kreon dalam kisah ini adalah seorang penguasa yang percaya bahwa negara hanya bisa berdiri jika hukum ditegakkan. Dari sudut pandangnya, membiarkan Antigone melanggar perintah berarti membuka celah bagi runtuhnya sebuah tatanan.
Sedangkan bagi Antigone, selama masih hidup, ia punya tanggung jawab menguburkan keluarganya yang meninggal. Itu saja intinya.
Antigone: Cerita Tapi Nyata
Pada zamannya, tragedi ini diperlombakan dalam sebuah festival teater yang dihadiri ribuan warga. Konflik dianggap sebagai cermin dari keresahan masyarakat: sampai di mana manusia harus patuh?
Kenyataannya, pertanyaan tersebut tidak memiliki jawaban tunggal. Sophocles pun tidak membahasnya.
Menurutku, cerita Antigone menjadi simbol refleksi dari dua kebenaran. Ia menjelaskan apa yang akan terjadi ketika manusia dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama tidak adil, tetapi benar secara tradisi atau menurut hukum.
Bagaimana menurut Teman-teman?