Aku ikut menuduh, mencemarkan, memutarbalikkan, menghasut, sekaligus membesar-besarkan, sesekali juga mengarang, menyebarkan, memelintir cerita, sehingga menyulut kecurigaan, supaya orang berpikir lebih serius terhadap kabar itu.
Kalimat di atas mengacu pada konsep fitnah. Nadanya beragam. Ada yang berkonotasi agak halus atau kasar. Akan tetapi, secara keseluruhan, tetaplah kejam.
ISI ARTIKEL
Fitnah Bukan Sekadar Bohong
Fitnah jarang datang dengan wajah semrawut. Biasanya, ia dibungkus dengan manis, berdandan rapi, dan terdengar masuk akal. Bunyinya seperti kepedulian, menyamar semacam kekhawatiran, atau dipelintir lewat “cerita ringan”.
Padahal, di level ini, yang bergerak bukan fakta, melainkan niat. Karena nuansa ini membutuhkan target dan sering kali dibawa seorang perantara yang pandai mengelola gosip.
Jejak Fitnah dalam Sejarah
Di banyak peradaban, fitnah dianggap lebih sadis daripada dusta. Kebohongan hanya merusak kebenaran, sementara fitnah? Bisa menyebabkan frustrasi, mencemarkan nama baik, melunturkan kehormatan keluarga, merampas citra manusia, bahkan sebelum yang bersangkutan diberi kesempatan membela diri.
Dalam dunia Yunani dan Romawi kuno, reputasi dianggap modal sosial. Di Athena, rumor fitnah yang beredar di publik cukup untuk mengasingkan seseorang dan memadamkan cita-citanya terjun ke ranah politik. Fitnah bisa menjatuhkan seorang warga negara tanpa perlu pengadilan resmi.
Di Roma era itu, fitnah (calumnia) bahkan dilabel sebagai tindak pidana. Hukum Romawi memahami satu hal penting: tuduhan palsu yang dibiarkan akan membusuk menjadi “kebenaran sosial”.
Bahasa Fitnah: Sebuah Kata Setajam Senjata
Secara bahasa, fitnah bekerja lewat ambiguitas. Kalimatnya bersayap dan jarang tegas. Contoh:
- “Katanya sih…”
- “Aku cuma dengar…”
- “Bukan nuduh, tapi…”
- “Khawatir aja…”
Potongan kalimat di atas tidak menyatakan fakta, tetapi menanamkan rasa curiga. Di sinilah fitnah bekerja efektif, setara menaruh racun tanpa meninggalkan sidik jari.
Fitnah dan Mekanisme Kekuasaan
Dalam sejarah politik, fitnah kerap dipakai untuk melemahkan kubu lawan. Tanpa konfrontasi atau argumen, fitnah bisa langsung menjatuhkan reputasi. Sekali reputasi retak, kebenaran menjadi sebuah tanda tanya.
Karena fitnah bekerja seperti aliran air, sekali mengalir, ia akan merembes ke segala arah, hingga di titik tertentu, menjadi pancuran yang terjun bebas.
Fitnah Tanpa Suara
Ada bentuk fitnah yang sulit dikenali. Terjadi karena orang tersebut hanya bungkam, atau membiarkan cerita salah itu beredar. Jadi, diam tidak selalu netral.
Dalam beberapa konteks, diam justru menyandang makna memberi izin.
Refleksi
Fitnah sering tumbuh bersama ketakutan, rasa iri, atau keinginan menguasai medan. Karena siapa yang menguasai cerita, sering kali merasa superior.
Mungkin itulah sebabnya, dalam banyak tradisi, fitnah dianggap lebih berat daripada kesalahan itu sendiri. Kesalahan bisa diperbaiki, sedangkan fitnah meninggalkan bekas dengan dampak yang sulit disembuhkan.
Bagaimana menurut Teman-teman?