Vaksinasi Grippe di Prancis

Vaksinasi Grippe

Aku mengenal vaksinasi grippe (demam) sejak tahun pertama di Prancis.

Kalian pasti tahu, vaksinasi adalah proses memasukan virus asing ke dalam tubuh. Cairan ini akan menciptakan sel reaktif bernama antibodi. Umumnya, setelah menerima vaksin, tubuh akan bereaksi dalam bentuk demam. Namun, tujuan vaksinasi grippe justru supaya badan menjadi imum terhadap penyakit demam ke depannya.

Apakah itu berarti setelah vaksinasi, badan kita menjadi kebal atau tidak pernah sakit lagi? Tidak seperti itu juga. Seandainya badan kita sedang lemah, kemungkinan terjangkit tetap ada. Hanya, diharapkan sakitnya tidak terlalu parah.

Pengalamanku Divaksin di Prancis

Aku pernah mengalami sakit flu parah pada 2018, meskipun tahun itu, aku sudah mendapat vaksinasi. Aku langsung bersyukur, membayangkan bagaimana parahnya sakit itu bila tidak pernah mendapat suntikan vaksin?

Waktu itu, selain demam, batuk, pilek, aku juga sempat kehilangan suara selama lebih dari satu bulan. Radang tenggorokanku demikian parah, warnanya merah menyala. Kepalaku juga seperti baru saja turun dari komidi putar.

Ini adalah demam terparah yang kualami sejak tinggal di Prancis. Sehingga, dokter perlu memberiku semprotan kortison, antibiotik selama lima belas hari, plus obat penunjang seperti paracetamol dan sirup obat batuk pilek.

Selama lebih dari sebulan, selain menjauhi kontak dengan sesama karena tidak bisa mengeluarkan suara, aku lebih banyak menggunakan bahasa isyarat sewaktu berbicara dengan orang-orang serumah.

Konon, penyakit ini disebabkan oleh kekurangan vitamin C. Aku juga heran, dengan kuantitas buah yang kukonsumsi setiap hari, bagaimana masih bisa mengalami defisit vitamin?

Aku pun menyimpulkan kondisi tubuhku saat itu sedang tidak fit. Sehingga vaksin tahun 2017/2018 tidak mampu menghalau sirkulasi virus yang beredar. Berita baiknya, atau pada umumnya setelah mengalami sakit flu, tubuh pun menjadi kebal, minimal sampai beberapa bulan.

Namun, apakah aku kapok terhadap vaksinasi setelah sakit itu? Tidak juga. Aku tetap menaati jadwal vaksin, begitu kampanye anti-grippe terdengar.

Begitu musim gugur datang, vaksinasi grippe mulai tersedia di farmasi. Aku bergegas mendapatkannya sebelum kehabisan. Harga satu dosis vaksin bervariasi, antara 6,5 hingga 11 euro.

Biasanya, di awal bulan November, aku meminta jasa paramedis menyuntikkan vaksin itu. Aku selalu memilih hari yang keesokannya tidak banyak ada aktivitas di luar. Menurut juru rawat yang menyuntikku, vaksin yang kuterima akan efektif setelah lima belas hari.

Lebih Baik Mencegah daripada Mengobati

Tahun ini, kampaye vaksinasi jatuh pada tanggal 13 Oktober 2020.

Di masa pendemi corona yang penuh ketidakpastian, aku berinisiatif mendapatkan suntikan anti-grippe lebih awal, yaitu sehari setelah serah-terima istana mini, tepatnya pada 24 Oktober 2020.

Sebelum menyuntikku, juru rawat mencatat lot vaksin 2020/2021 pada selembar surat kesehatan. Tujuannya, bila ternyata banyak pasien mengalami reaksi berlebihan setelah mendapat vaksin tersebut, maka lot vaksin itu akan ditinjau kembali atau ditarik dari peredarannya.

Secara tidak langsung, aku termasuk kelompok awal yang menerima vaksin. Sekarang sudah dua minggu, aku disuntik. Sampai sekarang, aku tidak mengalami demam sama sekali.

Apakah tubuhku mulai kebal, atau virus lemah yang disuntikkan sudah dikenali tubuhku, mengingat sudah 16 kali aku mendapatkannya? Entahlah!

Meskipun vaksin sudah banyak menolong manusia mencapai imum dari sakit mematikan, vaksin tetap menuai polemik. Banyak warga menolak vaksinasi dengan asumsi macam-macam. Keadaan inilah yang menyebabkan beberapa penyakit yang seharusnya bisa dicegah, bahkan sudah punah, tetap beredar di dunia.

Akan tetapi, dengan mewabahnya virus Corona, vaksin di Prancis tahun ini laris manis. Jumlah lot yang beredar tidak cukup memenuhi permintaan konsumen. Farmasi kehabisan stok.

Rupanya, mereka yang cuek terhadap vaksin, tahun ini benar-benar menaati slogan bijak, “Mieux vaut prévenir que guérir.” Atau dalam bahasa Indonesia, “Lebih baik mencegah daripada mengobati.”

Menurutku, vaksin adalah satu kemajuan besar dalam dunia kedokteran. Setidaknya, melalui program vaksinasi, penyakit menular berbahaya dapat dicegah sedini mungkin. Tentu saja, ada saja pengecualian atau ketidakcocokan bagi segelintir orang yang kondisi badannya kurang toleran terhadap bahan di dalam cairan vaksin.


CATATAN: Dalam masa pandemi corona yang penuh ketidakpastian, aku berharap semoga vaksin yang dikembangkan oleh labolatorium Pfizer dan BioNTech, yang sudah mendapat validasi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) karena faktor efektivitasnya mencapai 90%, segera diedarkan, agar kita semua terbebas dari pandemi Covid-19 yang semakin meresahkan (dan membosankan) ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *