Menyorot Pesona dan Misteri-misteri Laut

Menyorot Pesona dan Misteri-misteri Laut

Boleh jadi, Hukum Laut Rhodia di zaman Yunani kuno dirancang setelah manusia mulai berpikir, “Siapa yang menguasai lautan akan menguasai dunia.” Pernyataan itu tidaklah berlebihan, mengingat memang besar sekali porsi laut di planet ini. Air menutupi 71 persen permukaan bumi, dan hampir 97 persen dari air itu adalah laut!

Sebelum memulai pembahasan tentang pesona dan misteri laut ini, aku ingin mengutip sebuah filosofi dari Rabindranath Tagore, manusia serbabisa dari India. Beliau berkata, “Engkau tak akan bisa menyeberangi lautan hanya dengan berdiri dan menatap air pantai.”

Ya! Maka dari itu, jangan hanya menikmati. Mari sekalian memperkaya wawasan dan pengetahuan tentang laut. Kita dapat memulainya dari laut-laut berikut ini.

Misteri Laut Mati

Misteri Laut Mati

Laut Mati sebenarnya bukanlah laut. Sejatinya, Laut Mati atau Laut Asin alias Laut Zoar (nama kota terdekat menurut Alkitab Perjanjian Lama) adalah sebuah danau yang membujur di antara Israel-Palestina sebelah barat dan Yordania sebelah timur. Namun, oleh orang-orang Yudea di zaman Romawi, perairan ini terlanjur disebut laut.

Dengan pantainya yang terletak sekitar 430 meter di bawah permukaan laut, Laut Mati merupakan danau terendah di permukaan bumi. Beberapa teka-teki pun menyelimutinya.

Kenapa air Laut Mati sangat asin?

Laut Mati terbentuk tiga juta tahun silam saat timbul retakan kecil di Lembah Sungai Yordan. Air laut mengalir masuk, lalu terjebak di sana. Suhu musim panas dan iklim yang kering sepanjang tahun kemudian membuat air yang “tersesat” itu menguap dengan cepat, sehingga konsentrasi mineralnya semakin tinggi.

Karena air laut terperangkap dan terus “diuapkan” selama 65.000 tahun, lama-lama Laut Mati menjadi kental, berlumpur, dan kandungan garamnya mencapai 32 persen. Itu sudah hipersalin, alias sangat asin! Kuberi tahu saja, laut umumnya memiliki kadar garam 3 persen, jadi bayangkan sendiri seberapa asin air Laut Mati itu.

Kenapa namanya mengerikan: “Laut Mati”?

Dulu, saat Sungai Yordan mengalir ke selatan Danau Galilea di musim hujan, arus sungai menyapu ikan dan tumbuhan ke Laut Mati. Padahal, di perairan itu, tingkat keasinan air sudah sepuluh kali lipat dari batas normal samudra. Mereka pun tidak mampu beradaptasi, dan satu per satu mati. Itulah mengapa danau itu dinamakan “laut mati”.

Kendati demikian, pada 2011, para ilmuwan menemukan sumber air tawar di dasar Laut Mati. Sehingga meskipun tumbuhan makroskopik tidak berkembang, organisme mikroskopik, plankton, serta bakteri halofili dapat hidup secara normal di sana.

Kenapa turis-turis malah menyukainya?

Bukannya gentar dengan istilah “Laut Mati”, para wisatawan mancanegara dan domestik justru suka berenang di dalamnya. Tetapi kalau dipikir-pikir, jangankan orang zaman sekarang, Raja Sulaiman, Cleopatra, dan Herodes Agung pun kepincut dengan Laut Mati. Kenapa?

Teman-teman, tahukah kalian komposisi material Laut Mati ternyata bagus untuk mempercantik kulit, memperbaiki kesehatan, serta melancarkan peredaran darah? Dengan segenap manfaat ini, tentu tidak heran bila banyak yang turis yang menyewa penginapan dan spa di sekitar pantai. Mereka ingin mandi garam atau melakukan terapi lumpur di Laut Mati.

Tanpa manfaat-manfaat itu pun, berenang di perairan yang pekat dengan garam akan membuat orang yang tak bisa berenang sekalipun akan bisa mengambang. Mengapung tanpa pelampung. Lucu juga, kan? Belum lagi, seluas mata memandang, pemandangan air biru cemerlang serta bukit-bukit berwarna keemasan membentang. Wow!

Misteri Laut Merah

Misteri Laut Merah

Nominasi kedua adalah Laut Merah alias Laut Teberau. Pada hakikatnya, Laut Merah adalah sebuah teluk yang memisahkan Benua Asia dan Afrika. Suhu permukaan air Laut Merah relatif konstan, berkisar antara 21-25 derajat celsius. Ini menjadikannya sebagai salah satu laut terhangat di dunia.

Sebelah timur Laut Merah berbatasan dengan negara-negara Asia: Arab Saudi dan Yaman. Sehingga, Laut Merah menjadi lokasi strategis bagi pelaut yang datang dari Laut Mediterania ke Samudra Hindia, atau sebaliknya. Sementara, di sebelah baratnya bertengger negara-negara Afrika: Mesir, Sudan, Eritrea, dan Etiopia. Laut Merah juga berbatasan dengan Terusan Suez di sebelah utara dan Teluk Aden di sebelah selatan.

Lebar maksimum Laut Merah mencapai 355 km dan panjang maksimumnya 2.250 km, dengan kedalaman maksimum 3 km. Laut Merah juga menjadi habitat berbagai makhluk air dan koral. Tercatat lebih dari 1.200 spesies ikan, termasuk 44 jenis hiu, sebagaimana yang diabadikan dalam kisah komik legendaris Tintin: Red Sea Shark.

Kenapa warnanya bisa merah?

Warna merah di permukaan Laut Merah muncul akibat mekarnya Trichodesmium erythraeum, tanaman laut yang berwarna merah.

Teori lainnya mengatakan, nama Laut Merah sebenarnya berasal dari gunung yang kaya mineral di sekitarnya. Warna gunung itu juga merah.

Inikah laut yang pernah dibelah Musa?

Ya. Tetapi ini tentu tergantung keyakinan Teman-teman juga. Memang, pernah ditemukan bangkai-bangkai kereta kuda dan tulang-belulang manusia di dasar Laut Merah. Diduga, itulah sisa-sisa pasukan Firaun yang tenggelam setelah laut kembali menutup.

Yang jelas, penelitian pada 2010 oleh Carl Drews dan Weiqing Han dari Universitas Colorado mengatakan bahwa bila mukjizat itu memang nyata, maka kemungkinan kejadiannya di wilayah Delta Sungai Nil, tepatnya di Danau Tanis, bukan di Laut Merahnya.

Carl Drews berhipotesis, air bisa terbelah saat angin berembus kencang sekitar 96 km/jam. Fenomena langka ini mendorong air pantai dan menciptakan gelombang badai di satu lokasi. Air akan terbelah menjadi dua dan menciptakan daratan kering untuk beberapa waktu. Dalam Alkitab diceritakan, Nabi Musa bersama 600 ribuan pengikutnya meniti jalan itu. Mereka memanfaatkannya untuk lolos dari kejaran pasukan Mesir.

Masih menurut Drews, gelagat “angin terbenam” ini lazim terjadi di zaman modern. Beruntung, sejauh ini fenomena alam tersebut tidak pernah melukai siapapun.

Namun, bagaimana angin dapat bertiup sekencang itu secara konsisten selama empat jam, sehingga memberi jalan kering dan cukup waktu bagi rombongan Musa keluar dari tanah perbudakan Mesir? Sekali lagi, masalah mukjizat perlu dikembalikan kepada iman masing-masing. Yang jelas, secara ilmiah, memang memungkinkan laut tersibak hingga dasarnya.

Misteri Laut Hitam

Misteri Laut Hitam

Dari Laut Merah, kita bergeser ke Laut Hitam. Negara-negara yang mengepung laut 436.400 kilometer persegi ini adalah Ukraina di utara, Rusia di timur laut, Georgia di timur, Turki di Selatan, Bulgaria serta Rumania di barat.

Dengan kedalaman maksimum 2.212 meter, Laut Hitam terhubung dengan Laut Mediterania melalui Selat Bosporus. Terhubung pula dengan Laut Aegea dan Laut Kreta, sebelum bertemu dengan Laut Mediterania.

Kenapa dinamakan Laut Hitam?

Warna air di Laut Hitam sebenarnya sama dengan lazimnya laut, bukan benar-benar hitam. Terkait bagaimana akhirnya dinamakan Laut Hitam, ada beberapa versi penjelasan.

Versi pertama meyakini, Turki sudah menamainya begitu sejak abad pertengahan. Tepatnya di periode Kekaisaran Ottoman, ada penamaan-penamaan seperti Bahr-e Siyah atau Karadeniz, yang berarti Laut Hitam.

Versi kedua menjelaskan, badai selama musim dingin yang membawa air laut dari daerah sekitar Laut Hitam telah menyebabkan laut itu tampak menghitam, sehingga para pelaut menyebutnya Laut Hitam.

Versi lainnya menyebutkan, penamaan Laut Hitam adalah lantaran benda-benda yang tenggelam di sana, setelah jangka waktu tertentu, selalu disaput oleh lumpur hitam.

Benarkah Laut Hitam tempat kapal Nuh terdampar?

Sayangnya, jawabannya tidak. Atau setidaknya, teknologi kita belum cukup maju untuk mengetahui detail apa yang terserak di dasar Laut Hitam.

Namun, dugaan itu muncul mungkin karena buku Noah’s Flood karya William Ryan dan Walter Pitman. Klaim di buku tersebut, ahli geologi kelautan percaya bahwa mereka telah menemukan asal mula air bah. Fenomena luar biasa tersebut telah menyapu peradaban kuno yang berbatasan dengan Laut Tengah dan Laut Hitam sekitar 7.600 tahun silam.

Di samping itu, dugaan ini diperkuat dengan adanya fenomena akuatik yang unik di Laut Hitam. Fenomena “laut anoksik” ini coba dijelaskan oleh Dr. Bob Ballard, ahli kelautan Amerika yang pernah memimpin eksplorasi bangkai kapal Titanic pada 1985. Di laut Hitam, menurutnya, terdapat lapisan yang dingin, mati, tanpa oksigen yang menyelimuti bagian bawah perairan hangat.

Fenomena tersebut berpotensi memumikan sisa-sisa manusia dan melestarikan momen pascabencana, meski sudah berlalu ribuan tahun lamanya. Beberapa jenis bakteri yang bertahan di lapisan anoksik diyakini mampu menyulap dasar Laut Hitam menjadi sebuah museum raksasa.

Pada kisaran periode 1999-2014, Ballard memimpin ekspedisi ke Laut Hitam dan Mediterania. Memang, ia menemukan lusinan kapal yang terawetkan dengan sempurna, termasuk kapal dagang Kekaisaran Ottoman yang berisi jasad-jasad manusia. Namun, kapal Nabi Nuh? Bukti-bukti belum mengarah ke sana.

Demikian beberapa teka-teki besar, yang tercatat dalam sejarah laut dunia. Tentu saja, misteri-misteri itu telah dipecahkan secara ilmiah. Kalau kita membahas juga yang belum terjelaskan, apalagi dikaitkan dengan klenik, mitologi, alien, dan teori konspirasi, ulasanku ini sudah pasti tidak akan selesai-selesai. Karena masih ada misteri Laut Selatan, dewa fiktif Ctulhu, Flying Dutchman, Segitiga Bermuda, dan setumpuk isu lainnya.

Maka kita stop di sini dulu, Teman-teman. 😀

Apresiasi Hari Laut Sedunia

Apresiasi Hari Laut Sedunia

Yang penting untuk kita ketahui, laut adalah bagian dari peradaban. Jangan salah, air hujan, air minum, iklim, cuaca, sebagian besar makanan kita, bahkan oksigen yang kita hirup berasal dari laut. Pun, laut penting dalam memasok barang-barang perdagangan, termasuk memberi jalan yang luas bagi transportasi (kapal).

Begitu kuat daya tarik serta potensi laut ini. Tak heran bila PBB meresmikan tanggal 8 Juni sebagai Hari Laut Sedunia alias World Oceans Day. Maka, melalui momentum itu, mari kita mulai menghargai dan memahami laut, serta mengucapkan, “Terima kasih, Laut!”

Referensi

Yuk, bagikan tulisan ini di...

Leave a Comment